Tips Mendengarkan Keluhan Anak Dengan Hati

Anak-anak senang bercerita karena memang daya imajinasi dan kreativitasnya sedang berkembang. Dan kita adalah sahabat pertama mereka harapkan dapat mendengar ceritanya. Yang paling dibutuhkan oleh seorang anak adalah  didengarkan. Bukan diceramahi, dimarahi, diberi peraturan apalagi jika ikut campur dengan permasalahan mereka. Mendengarkan adalah cara jitu kita untuk mengetahui lebih banyak tentang anak-anak. Tapi tidak dengan asal mendengarkan karena anak akan langsung merasa jika kita tidak benar-benar mendengarkan.

1. Mendengarkan Dengan Hati

Saat mereka mulai bercerita, tinggalkan semua pekerjaan dan fokuslah pada mereka. Matikan ponsel, tutup buku yang sedang dibaca atau tinggalkan sesaat pekerjaan rumah. Karena tidak setiap saat anak kita ingin bercerita tanpa kita minta. Mereka akan merasa dirinya dihargai oleh kita jika kita benar- benar mau meninggalkan pekerjaan kita hanya untuk mendengar dia bercerita.

2. Mengenal Perasaan Anak Saat Bercerita

Coba mencari tahu dan menggali perasaan anak saat mereka sedang bercerita. Jangan menghakimi apalagi menyalahkan mereka dalam situasi tertentu. Misalnya dalam situasi mendadak tidak mau sekolah. “Kamu yakin nggak mau bertemu teman-temanmu di sekolah? ” Atau, ” Tumben kamu malas ke sekolah hari ini, sahabatmu tidak sekolah juga ya? “ Pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan terbuka dan anak kita akan mau bercerita. Sebaliknya dengan pertanyaan tertutup seperti : “Dasar males! Makanya jangan tidur telat, jadi ngantuk pagi ini!” atau “Pokoknya kamu harus berangkat sekolah hari ini!” Pertanyaan tertutup seperti ini tidak memberi kesempatan pada si anak untuk menjelaskan alasannya.

3. Tutup Mulut Kita

Saat anak berbicara dan bercerita, kita harus diam. Tidak perlu memberi komentar apalagi nasihat, dengarkan saja dulu. Jika kita mulai berbicara, maka ia akan berhenti bercerita lalu mereka tidak akan melanjutkan ceritanya. Simak saja dulu, tahan diri untuk komentar. Dengan begitu kan kita juga jadi tahu keseluruhan ceritanya dan anak pun senang kita tidak memotong pembicaraannya.

4. Dengarkan Dulu Baru Dihibur

Saat anak-anak bercerita tentang masalahnya di sekolah dengan perasaan sedih. Kita tidak perlu terburu-buru menghiburnya agar mood dia kembali happy. Memang cara ini sangat cepat menyelesaikan masalah tapi kita tidak pernah dapat menggali lebih dalam akar permasalahannya.

Dengarkan mereka bercerita, biarkan mereka meluapkan emosinya dan biarkan juga dia menangis. Mungkin kita jadi terpancing emosinya. Tetap tenang ya. Tugas kita adalah memberitahu mereka tentang pelajaran yang dapat diambil dari suatu masalah. Kita juga dapat mengingatkan  bahwa tidak baik jika terus menerus menyalahkan diri sendiri. Nanti setelah dia tenang dan sudah bisa mengontrol emosinya, barulah kita hibur agar moodnya kembali seperti biasa.

5. Jangan Memojokkan Anak

Ketika kita menyadari bahwa anak kita sedang memiliki masalah, kita pasti sudah tidak sabar ingin bertanya langsung. Jika kita tidak pandai bertanya dan memilih kata maka anak kita akan merasa dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan kita.  Padahal sebenarnya kita hanya ingin mengetahui persoalan yang sedang mereka hadapi. Anak biasanya mulai membuka diri justru saat kita sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Misalnya, saat menyetir menuju sekolah, saat kita sedang memasak di dapur atau sebelum tidur. Mereka otomatis akan bercerita dengan lancar.