Tiga Keluarga Pembentuk Karakter Anak Laki-laki

It take a village to raise a child (Anonim), Dibutuhkan tiga keluarga untuk mendidik anak laki-laki. Pendidikan tersebut untuk membesarkan dan mendidik seorang anak laki-laki yang sehat menjadi laki-laki dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap hidupnya.

Keluarga pertama, orang tua kandung, orang tua angkat, termasuk kakek nenek yang membesarkan anak-anak (keluarga inti). Keluarga kedua, kerabat (saudara: paman atau bibi), tetangga, teman-teman (dari ayah dan ibu) yang bukan keluarga, seperti pengasuh di tempat penitipan anak, guru privat, dan teman sekelas, teman sepermainan, dan teman sebaya.

Keluarga ketiga, kebudayaan dan komunitas, media (koran, televisi, media sosial), komunitas masjid, komunitas gereja (jika beragama Nasrani), komunitas sosial (contoh :@berbaginasi, @terminalhujan), komunitas klub motor, pemerintah, buku-buku bacaan, penyanyi, dan artis sinetron yang tampil setiap hari di televisi.

Ketika keluarga inilah yang membentuk perilaku anak laki-laki. Jika ketiga keluarga ini tidak saling melengkapi kekurangan dan saling mendukung, maka anak-laki-laki (dan perempuan) akan merasa tidak aman dan tidak dicintai. Akibatnya mereka akan berkembang menjadi kelompok anti sosial, penjahat (geng motor, begal, pemerkosa). Jika Anda lengah untuk mendidik dan mencintai anak laki-laki Anda, lingkungan dengan senang hati akan mengambil alih tugas Anda. Warnet dan smartphone menyediakan informasi apa pun tanpa sensor, pengedar narkoba setiap saat mengintai anak-anak Anda.

Keluarga inti saja, tidaklah bisa membesarkan anak laki-laki menjadi orang dewasa yang mampu bertanggung jawab: memiliki komitmen kepada pasangan, menjadi ayah yang bertanggungjawab bagi anak-anaknya, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Setiap anak laki-laki di dunia ini, darimana pun asalnya, mereka dibesarkan dalam tiga keluarga. Tapi saat ini, kita memisahkan keluarga inti (keluarga pertama) dari dua keluarga lainnya. Kakek – nenek jarang menengok cucu mereka (karena rumah mereka tidak berdekatan), para tetangga jarang bertemu apalagi bertamu (karena kesibukan kita pun jarang bertemu dan bertamu kepada tetangga).

Kita memutuskan cukup ayah dan ibu saja untuk membesarkan seorang anak. Kita menyerahkan hampir sebagian besar tanggung jawab dua keluarga lainnya (keluarga kedua dan ketiga) kepada lembaga seperti sekolah, penitipan anak, pengasuh dan guru agama.

Ibu dan ayah melakukan hal yang terbaik, sebagaimana orang tua-orang tua lainnya melakukan hal terbaik yang serupa, tetapi upaya terbaik dari mereka tidaklah cukup. Kebebasan informasi dari internet, maraknya film atau sinetron yang tidak mendidik, dan bertebarannya teman yang “menjerumuskan” merupakan bahaya nyata yang tak terhindarkan.

Terkait dengan eksperimen keluarga inti ini adalah semakin meningkatnya perceraian, yang menciptakan system orang tua tunggal. Pasangan dengan anak semakin banyak yang bercerai hingga rasionya mencapai 1 banding 2. Perceraian dan system pengasuhan ibu tunggal semakin berkolerasi dengan kejahatan yang dilakukan anak laki-laki. Ini menunjukkan mereka perlu berupaya keras menghadirkan pengalaman tiga keluarga pada putera mereka.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kata mutiara : It take a village to raise a child. Terjemahan bebasnya, dibutuhkan orang sekampung untuk mendidik seorang anak. Tidak hanya keluarga inti.