Penyebab Anak Malas dan Jenuh Belajar

Banyak rumor yang berkembang di masyarakat menyatakan bahwa perkembangan otak seorang anak akan mengikuti kurva tertentu ; bergerak dari 0 sampai dengan puncak kemudian akan turun kembali. Benarkah bahwa rumor yang menyatakan anak malas dan jenuh belajar adalah gejala yang menunjukkan otak tidak berkembang?

Kejenuhan pada otak jangan selalu diartikan dengan perkembangan otak yang stagnan, kejenuhan bukanlah berarti otak sang anak berhenti berkembang, namun lebih ke arah si anak memilih untuk tidak melakukan hal tersebut karena mungkin ia mengalami kebosanan dan ingin melakukan hal-hal lainnya.

Contoh kasus :

Queency, seorang anak perempuan yang mempunyai bakat seni menggambar. Gambar hasil karyanya amat bagus dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Sejak kecil ia memang mencintai aktivitas menggambar. Ayah dan ibunya bermaksud membantu dan mengembangkan bakat tersebut dengan memberi ekstra kegiatan yang mendukung bakat tersebut. Ibunya mendaftarkan Quency les mengambar satu kali dalam seminggu, ibunya juga mendaftarkan Queency pada lomba-lomba menggambar dan mewarnai, demi memupuk bakat Queency.

Mengingat Queency memang berbakat menggambar, mewarnai, dan melukis tak mengherankan puluhan kemenangan pun selalu diraihnya. Lemarinya penuh dengan berbagai macam piala dari berbagai lomba menggambar. Melihat Queency sering meraih kemenangan dalam berbagai lomba yang diikutinya, ibunya menambah frekuensi les menggambar menjadi tiga kali dalam seminggu. Tak hanya itu, jadwal pertandingan lomba menggambar dan mewarnai pun semakin diperbanyak. Pada awalnya Queency senang karena bakat menggambarnya didukung penuh oleh ayah dan ibunya.

Seiring perjalanan waktu, Queency semakin bertambah usianya, ia mulai ingin melakukan hal lain selain menggambar dan mewarnai, misalnya: bermain basket, berenang, bermain bola, dan lain sebagainya. Hobi barunya tersebut menyita kesibukannya dan membuat kegiatan menggambar menjadi menurun. Ia tak lagi memenangkan piala pada setiap lomba menggambar. Ayah dan ibunya melihat gejala ini dan menyuruh agar Quency lebih rajin mengikuti les menggambar dengan lebih rajin, tetapi Quency malasnya bukan main. Ia lebih suka bermain basket.

Ayah dan ibunya menjadi semakin khawatir bakat menggambar anaknya lenyap. Dengan tangan besi ayah dan ibunya melarang Queency membatasi kegiatan-kegiatan lain di luar menggambar. Tidak ada main bola basket, tidak ada main bola, dan sebagainya tekuni saja bakat menggambarmu agar menjadi semakin hebat. Terlarang bagi anak untuk melakukan hal-hal lainnya.

Hasilnya adalah menggambar bukan lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Queency, ia mungkin tetap menggambar dan tidak main bola basket, tetapi hasil gambarnya menjadi tidak sebagus dulu, hasil gambarnya hanya agar ia tidak dimarahi ibunya. Dari kondisi ini akan muncul pertanyaan : apakah bakat dan keterampilan menggambarnya menghilang, tergantikan keasyikan lainnya? Tidak, keadaan ini bukan karena ia tidak pandai menggambar lagi, tetapi ia memilih untuk tidak (baik secara sadar maupun tidak) menggambar dengan baik, karena menggambar bukan merupakan aktivitas menggembirakan bagi Queency. Tak heran bila hasil gambarnya tidak maksimal mengingat ia tak termotivasi untuk mempersembahkan hasil terbaik, seperti saat minatnya untuk menggambar menggebu-gebu dan sangat bersemangat.

Ilustrasi di atas juga dapat terjadi dalam kegiatan belajar mengajar. Apabila si anak menunjukkan ketertarikan pada suatu hal (baik hal tersebut mencerminkan bakatnya atau tidak), sebaiknya kita bimbing dan salurkan minat serta keingintahuannya sesuai dengan kemampuannya. Jika si anak suka dan memang berbakat, tanpa pemaksaan pun ia akan berjalan dan berjuang sendiri untuk menekuni bakatnya. Apabila rasa ingin tahunya sudah terpuaskan dan ternyata ia tidak suka serta tidak memiliki bakat di bidang tersebut, maka hormatilah keinginan anak untuk melakukan hal-hal menarik lainnya.

Pemaksaan-pemaksaan itu tidak disarankan untuk dilaksanakan karena tidak efektif. Namun demikian anak harus didampingi dan dibimbing untuk tetap menekuni hobi yang berdasarkan minat terbesarnya sesuai jalur.