Mengasah Otak Anak Agar Cerdas

Meskipun anak Anda termasuk anak yang cerdas, tapi kalau daya ingatannya lemah, mana mungkin dia bisa menjadi yang terbaik di kelas? Karena pelajaran yang sudah dibaca semalaman tak bisa menetap sepenuhnya pada otaknya. Hal ini terjadi karena keterbatasan otak menerima semua informasi.

Sebab dari dulu hingga sekarang metode favorit anak dalam belajar adalah dengan sistem kebut semalam (SKS). Guru melakukan siklus belajar ( teach – test – move on ). Dengan membaca semua materi sekaligus, dalam jangka pendek, anak bisa menjawab soal, tapi setelah keluar dari ruang ujian hafalan tersebut langsung lenyap. Itu bukan pembelajaran namanya.

Kelemahan tersebut bisa diatasi dengan whole brain thinking. Saat ini orang hanya belajar dan belajar, namun lupa mempelajari bagaimana menggunakan otaknya. Otak sebagai instrumen penting dalam belajar sama sekali tidak dipelajari cara kerjanya oleh guru dan murid-muridnya. Otak didesain untuk mencari makna. Sel-sel saraf otak akan tumbuh hebat apabila selalu diberi tantangan dan rangsangan-rangsangan baru.

Hasil riset Roger Sperry (ahli biologi peraih nobel dalam bidang fisiologi dan kedokteran tahun 1981) menunjukkan bahwa otak memiliki dua belahan yang memiliki peran berbeda. Otak kiri bersifat rasional (logika), dan otak kanan lebih emosional. Umumnya banyak pelajar kesulitan mencerna pelajaran karena mereka dominan otak kanan, sementara buku yang mereka baca berisi teks melulu, buku ini cocok bagi orang yang dominan otak kiri. Tidak ada gambar, warna, atau elemen untuk mengaktifkan otak kanannya. Hasilnya anak menggunakan setengah dari potensi otaknya. Dan diam-diam ia mencorat-coret gambar tidak jelas untuk menghilangkan kejenuhan.

Untuk menyeimbangkan anak-anak yang dominan otak kanan dan otak kiri, kita dapat memadukan antara tesk dengan gambar. Fungsi gambar membangkitkan indra, mendekati imajinasi yang kita bayangkan. Suatu hal yang perlu diingat oleh orang tua, berusahalah untuk bertindak sebagai teman berlatih anak dalam proses pembelajaran keterampilan berpikir. Dengan begitu orang tua akan lebih mengetahui arah perkembangan intelektual anak-anaknya kelak.

Ingatlah apa yang diucapkan Robert Fisher ”Anak-anak adalah petualang di wilayah yang tidak diketahui, dan kita adalah pemandu mereka”.