Mengajari Disiplin Sehat untuk Anak

Pada sebuah headline koran tertulis: Ibu tiri menyetrika pipi anaknya, karena ia terlalu sering main di luar 25/03/15, Koran Metro.

Apakah itu yang disebut disiplin? Apakah harus menyetrika pipinya sebagai terapi disiplin? Tidak adakah cara yang lebih manusiawi?

Jika kita berbicara tentang memberi perawatan pada anak-anak, kita harus mendefinisikan disiplin sebagai terapi untuk membangun karakter yang baik pada anak. Disiplin menjadi sistematis kalau memiliki 10 elemen ini, yaitu:

  1. Konsistensi.
  2. Kepemimpinan.
  3. Rasa hormat.
  4. Keberagaman.
  5. Kritik.
  6. Spiritual.
  7. Pilihan.
  8. Penghargaan terhadap perasaan.
  9. Berkesinambungan dan adaptif.

Kini marilah kita bahasa satu persatu. Orang tua yang mendisiplinkan anak-anaknya harus konsisten, dalam memperkuat dan menghukum perilaku anak. Kita tidak mendisiplinkan hanya untuk waktu-waktu tertentu. Agar disiplin menjadi konsisten, ayah dan ibu harus sepakat mengenai prinsip-prinsip dan praktik-praktik dasar disiplin. Ayah tidak boleh membela anaknya ketika ia sedang didisiplinkan oleh ibunya- meskipun mereka telah bercerai (kecuali jika disiplinnya dengan cara memukul).

Menerapkan disiplin yang konsisten membuat kita terlarang mengeluarkan ancaman yang tidak akan kita laksanakan. Kebanyakan dari kita dibesarkan dalam rumah tempat disiplin bersifat eksperimental dan tidak diterapkan secara konsisten. Kita harus melihat secara cermat masa lalu kita sendiri saat ingin berlaku konsisten pada anak-anak kita. Kita terlarang melakukan kesalahan yang sama kepada anak-anak kita.

Inilah tahap-tahap disiplin yang harus kita lalui:

Jika perilakunya berbahaya secara langsung, hentikanlah – lewat nada suara yang tegas, atau dengan menjauhkan anak dari bahaya.

Jelaskan kesalahan anak, dan jelaskan efek yang ia timbulkan atas kesalahan tersebut.

Berilah konsekuensi yang bersifat menghukum, misalnya: anak Anda pulang sekolah tanpa pemberitahuan main ke rumah temannya, dan baru pulang pukul 10 malam. Sebagai hukumannya, ia dilarang pergi ke luar rumah (kecuali sekolah) selama seminggu.

Menegakkan konsekuensi secara konsisten. Jangan melunak, dan memperlama hukuman.

Ritualkan akhir dari konsekuensi dengan menunjukkan bahwa Anda menerima anak kembali. Memeluk anak setelah mendisiplinkan, atau mengajaknya makan es krim keluar setelah hukuman dilarang keluar rumah selama satu minggu akan menunjukkan bahwa Anda menerima anak kembali.

Ayah sebagai pendisiplin yang baik secara sadar member dua bentuk kepemimpinan, keteladanan, dan pengajaran. Ketika ayah melakukan sesuatu yang keliru, beranilah berkata jujur : Ayah seharusnya tidak berteriak kepada kamu seperti itu. Maafkan ayah. Ayah mengaku salah telah bersikap kasar terhadapmu.

Anak juga harus menghormati sang pendisiplin selain orangtuanya. Mereka adalah orang tua yang dipercaya mendisiplikan anaknya. Misalnya : guru, atau pengasuh. Sedangkan disiplin krisis berlaku ketika situasi berbahaya dan memerlukan intervensi (penanganan) segera. Misalnya: ketika seorang anak berlari menuju mobil yang sedang melaju kencang. Kita boleh berteriak atau menarik anak tersebut.

Pendisiplin yang baik tidak akan melakukan penyerangan karakter, dan berfokus pada perilaku. Kau brengsek, kau goblok, kau tidak becus. Kritiklah perilakunya bukan orangnya! Misalnya: Tidakkah kau lihat bagaimana sakitnya saudara perempuanmu , ketika kau mencela rambutnya di depan teman-temannya?

Pendisiplin yang baik juga harus menunjukkan sang anak terhadap konteks spiritual. Misalnya: ketika anaknya mencontek, katakan, nggak baik seperti itu Nak. Tuhan tidak sayang orang-orang yang tidak jujur. Pendisiplin yang baik juga mengajari anak-anak tindakan yang benar dan salah, bukan perasaan yang benar dan salah. Dan ketika sang anak bertambah besar, system disiplin harus beradaptasi dengan perubahan dalam kehidupan orang dewasa dan anak-anak.