Laksamana Laut Wanita Pertama di Dunia, Malahayati

Kebudayaan bukan hanya hasil karya fisik yang dapat dilihat dengan mata. Sikap yang merupakan teladan adalah bagian dari kebudayaan juga, yang disebut sebagai nilai dan norma. Nilai dan norma dapat kita ambil dari mana saja, baik dari peraturan yang dibuat oleh para pembuat keputusan maupun dari tokoh-tokoh yang menginspirasi. Karena 21 April lalu adalah Hari Kartini, maka semangat emansipasi dan gerakan kewanitaan masih membara dan menggoncangkan hati seluruh “kartini” muda di Indonesia. Selain Kartini, masih banyak wanita yang memiliki sikap teladan yang patut dibanggakan. Salah satunya adalah Malahayati, yang merupakan laksamana laut wanita pertama di dunia!

Seperti yang kita ketahui, laksamana merupakan pangkat tertinggi yang dapat dicapai oleh perwira angkatan laut. Sultan Iskandar Muda mengangkat Malahayati sebagai panglima angkatan laut sebagaimana yang tertuang dalam Hikayat Hang Tuah. Malahayati merupakan seorang anak perempuan yang lahir dalam lingkungan bangsawan pada akhir abad ke-XV, namun di dalam sejarah belum diketahui secara pasti kapan tahun kelahiran beliau dan tahun kematian beliau.

Malahayati adalah keturunan dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya yang bernama Laksamana Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah kesultanan Aceh Darussalamsekitar tahun 1530-1539. M. Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mugayatsyah yang memerintah tahun 1513-1530 M juga yang mendirikan Kesultanan Aceh Darussalam. Ayah dan kakek Malahayati merupakan panglima angkatan laut, sehingga semangat untuk menjadi panglima laut pun terlintas dalam benak Malahayati. Beruntungnya, saat Malahayati menginjak usia remaja ia diberi kebebasan untuk memilih pendidikan yang ia kehendaki.

Malahayati kemudian memilih untuk belajar di Mahad Baitul Makdis, sebuah akademi militer pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam. Ia merupakan murid yang cerdas dan prestasinya terus meningkat. Karena kepandaiannya, maka Malahayati diperbolehkan mengambil jurusan yang ia inginkan, dan pilihannya jatuh pada jurusan angkatan laut. Ketika menempuh pendidikan di angkatan laut, ia berkenalan dengan salah seorang seniornya, hingga kemudian berujung kepada kisah cinta dan pernikahan.

Malahayati kemudian menjadi seorang istri dari salah seorang panglima kebanggaan Kesultanan Aceh. Namun, semenjak adanya peperangan antar Portugis dengan Kesultanan Aceh yang terjadi di Teluk Haru, banyak sekali prajurit kesultanan yang tewas, termasuk suami Malahayati. Sakit hati karena suaminya dibunuh, Malahayati menuntut pembalasan dendam dengan mengajukan diri sebagai panglima untuk meneruskan perjuangan suaminya. Bersama dengan janda lain yang suaminya mati di medan perang, Malahayati memimpin pembalasan dendamnya. Pembalasan dendam itu cukup sukses, terbukti dengan keberhasilannya memimpin 2000 pasukan Inong Balee atau janda yang ditinggal mati suami di medan perang, serta berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Karena keberanian dan semangatnya, maka ia diberi gelar Laksamana.

Malahayati merupakan sosok wanita yang tangguh dan pemberani. Walaupun semangatnya untuk mengalahkan pasukan Portugis dikarenakan sakit hati ditinggal mati oleh suaminya, namun hal ini juga membuktikan bahwa betapa Malahayati sangat mencintai suaminya dan negaranya. Bahwa wanita, ketika hatinya begitu sakit, juga dapat melakukan hal-hal yang laki-laki lakukan, bahkan lebih dari yang laki-laki lakukan. Semangat Malahayati yang terus berkobar itu dikenang oleh masyarakat Aceh dengan membuat sebuah pelabuhan bernama Pelabuhan Malahayati di Krueng Aceh, KRI Malahayati dan Universitas Malahayati di Lampung. Wah, sungguh hebat Malahayati. Semoga kisah ini dapat menginspirasi para wanita Indonesia, agar selalu mandiri dan memiliki semangat hidup.