Kumpulan Dongeng, Cerita Anak Sebelum Tidur

Mencerdaskan Anak dengan Cerita atau Dongeng

Saya tidak bisa bercerita atau mendongeng kata seorang Ibu. Namun jika ia diminta bercerita tentang bagaimana detik-detik ketika ia melahirkan anaknya secara Caesar, saat pertama kali anaknya bilang Ibu, ceritanya mengalir lancar. Cerita tak harus dibuat oleh pendongeng sejati, kisah keseharian bisa juga kita jadikan cerita menarik bagi anak.

Bagi anak-anak, penyampaian pesan tanpa doktrinasi sangatlah penting. Anak-anak tidak dapat dipaksa melakukan perbuatan begini dan begitu atau bersikap sesuai instruksi. Mereka lebih mudah meniru apa yang mereka lihat, dengan kata lain mereka lebih suka meniru lewat teladan. Salah satu media yang sesuai untuk anak-anak sebagai contoh perbuatan yang baik atau buruk adalah cerita, kisah atau dongeng.

Yuk Berkisah tentang Sahabat Nabi

Kisah sahabat nabi adalah kisah yang menggambarkan bagaimana kehidupan para sahabat semasa bersama Nabi Muhammad Saw., dan setelah Rasullullah Saw., meninggal dunia. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi rasa cintanya kepada Nabi Muhammad Saw dan agama Islam, berikut ini saya cuplikan kisah Abu Bakar Ash Shiddiq. Beliau adalah salah satu dari 10 orang sahabat Nabi Muhammad Saw., yang dijamin masuk surga.

Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar adalah laki-laki pertama yang beriman kepada Rasullullah. Tentang keimanannya Abu Bakar Rasullullah Saw berkata, “Tidak kuajak seorang pun masuk Islam tanpa bimbang dan ragu, kecuali Abu Bakar”. (HR. Ibnu Ishaq).

Abu Bakar adalah salah satu di antara 10 sahabat yang memperoleh jaminan masuk surga. Ia pernah memerdekakan 7 orang budak, mereka semua disiksa tuannya karena memperjuangkan Islam. Ketujuh orang budak tersebut adalah: Bilal, Amir ibn Fuhairah, Zunairah, Nahdiyah dan putrinya, Jariyah binti Mu’ammil dan Ummu Ubays.

Abu Bakar memiliki sebuah Mushola kecil di depan pintu gerbang rumahnya tepatnya di daerah pemukiman Bani Jum’ah. Beliau selalu melaksanakan salat di Mushala tersebut. Abu bakar adalah orang yang berhati lembut, maka pada saat ia membaca Al-Qur’an ia selalu menangis. Ia bersama Nabi Saw., Umat dan Ustman pernah naik ke puncak Bukit Uhud.

Suatu hari Rasullulah Saw., bertanya kepada para sahabatnya,

  • ”Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini? “saya jawab Abu Bakar.
  • ”Siapa di antara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” tanya beliau. “Saya, jawab Abu Bakar.
  • ” Siapa di antara kalian yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?”tanya beliau. “Saya, jawab Abu Bakar.
  • ” Siapa di antara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?”tanya beliau. “Saya, jawab Abu Bakar.

” Rasullullah Saw., pun bersabda,” Tidak terangkum semua hal tersebut pada diri seseorang , melainkan ia akan masuk surga.” (HR Muslim).

Abu Bakar diberi gelar (Ash-Shiddiq) karena ia membenarkan peristiwa Isra Mi’raj. Abu Bakar adalah teman perjalanan yang setia mendampingi Rasulllulah Saw., ketika hijrah. Abu Bakar pula yang menemani Rasullulah di Gua Tsur. Abu Bakar tak pernah absen mengikuti peperangan bersama Rasullulah Saw. Abu Bakar adalah mertua Rasullulah Saw., karena putri Abu Bakar, Aisyah adalah perempuan yang paling dicintai Rasul, setelah Khadijah.

Aisyah melahirkan enam orang anak dari hasil pernikahannya dengan Rasullulah Saw., 3 orang anak perempuan, dan 3 orang anak laki-laki. Nama anak-anak mereka adalah Asma, Aisyah, Kulsum, sedangkan ketiga anak laki-laki Rasullulah Saw., bernama Abdullah, Abdurrahman, dan Muhammad. Abu Bakar adalah pemimpin yang pertama kali berhaji dalam Islam, dan orang yang pertama kali menjadi Imam setelah Nabi Muhammad Saw., berpulang ke Rahmatullah.

Pidato Abu Bakar yang abadi ketika Rasullah Saw., wafat untuk menenangkan kegoncangan kaum muslimin adalah sebagai berikut,

” Barangsiapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati, namun barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak mati.” Maka Allah meneguhkan kaum muslimin berkat pernyataan singkat Abu Bakar ini.

Pada tahun 11 H, kaum muslimin memilihnya menjadi Khalifah pertama. Inilah pidato beliau,

” Aku diangkat menjadi pemimpin kalian bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian. Kalau aku memimpin dengan baik, maka bantulah aku. Jika aku salah, hendaklah kalian meluruskanku. Kejujuran adalah amanat dan kebohongan adalah khianat. Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat menurut pandanganku sampai aku menunaikan apa yang menjadi haknya. Orang kuat di antara kalian adalah orang lemah menurut pandanganku hingga aku mengambil hak darinya.

Abu Bakar menjabat sebagai khalifah selama dua tahun tiga bulan. Pada masa pemerintahannya, ia berhasil mengumpulkan Al-Qur’an dan memerangi orang-orang murtad dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Pada masa Abu Bakar pun dimulai pembebasan wilayah-wilayah baru. Abu Bakar meninggal dunia tahun 12 H dalam usia 63 tahun, persis seperti usia nabi ketika beliau wafat. Jasadnya dimakamkan di samping Rasullulah Saw., sebelum meninggal ia menunjuk Umar, Khalifah kedua yang menggantikannya.

Anda tak harus berkisah tentang seorang tokoh terkenal kepada anak sebagai kisah pengantar sebelum tidur. Anda bisa berkisah tentang cerita ketika Anda menjadi anak-anak, cerita ketika Anda dihukum berdiri selama satu jam karena lupa membuat pekerjaan rumah, atau cerita apa pun. Lewat cerita yang Anda sampaikan ini akan membentuk ikatan batin dengan anak Anda, dan anak Anda pun menjadi paham bahwa dulu ayah atau ibunya pernah “sedikit nakal” seperti dirinya dan anak-anak yang lain. Selamat bercerita.

Berikut adalah kumpulan dongeng sebagai bahan cerita sebelum anak tidur :

1. ALIBABA DAN PENYAMUN

Alibaba adalah seorang pemuda yang rajib bekerja. Setiap hari ia pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual. Suatu ketika Alibaba tersesat di depan sebuah Gua. Sesaat kemudian, ia mendengar suara derap langkah kuda mendekat. Alibaba pun bersembunyi di balik semak-semak. Derap langkah kuda itu pun berhenti di depan pintu Gua. Ternyata yang datang adalah rombongan penyamun.

Pemimpin penyamun itu turun dari kudanya dan mengucapkan mantra untuk membuka pintu Gua. Setelah pintu Gua terbuka, para penyamun masuk dan menyimpan semua barang hasil rampokannya di sana. Tak lama kemudian rombongan penyamun itu pergi, setelah sebelumnya pemimpin penyamun itu mengucapkan mantra penutup pintu Gua.

Alibaba keluar dari persembunyiannya. Ia pun menirukan pemimpin penyamun itu untuk mengucapkan mantra pembuka pintu Gua. Ketika pintu Gua terbuka, Alibaba takjub melihat banyak sekali emas permata yang tersimpan di dalamnya.

Alibaba pun masuk ke dalam Gua dan mengambil emas permata sebanyak yang ia mampu bawa. Sejak saat itu Alibabab menjadi orang yang kaya raya. Namun tak ada seorang pun yang tahu darimana Alibaba mendapatkan kekayaan itu.

Hingga pada suatu hari, kakak Alibaba yang bernama Kasim datang menemuinya. Kasim merayu Alibaba untuk mengatakan bagaimana ia bisa kaya raya. Awalnya Alibaba tidak mau bercerita, namun Kasim terus menerus membujuk. Alibaba pun akhirnya bercerita tentang Gua penyamun yang ia temukan di tengah hutan belantara.

Kasim pergi ke Gua penyamun. Ia berhasil mengucapkan mantra pembuka pintu Gua. Namun Kasim adalah seorang yang serakah. Ia mengambil emas dan permata yang sangat banyak. Sayangnya Kasim lupa lupa mantra untuk membuka kembali pintu Gua. Kasim pun terjebak di dalam Gua hingga beberapa saat lamanya.

Ketika pintu Gua terbuka dengan sendirinya, Kasim sangat gembira. Tapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama, ternyata pintu Gua itu dibuka oleh pemimpin penyamun. Melihat Kasim yang mencuri harta mereka, tentu saja para penyamun itu marah. Kasim yang serakah akhirnya menjadi budak para penyamun untuk selamanya.

Hikmah Cerita

Jika mendapat kesempatan untuk mengambil sesuatu yang kita inginkan, maka ambillah secukupnya saja, sebatas maksimal kemampuan kita, sebab mengambil sesuatu yang berlebihan (serakah) itu tidak baik. Hidup harus seimbang antara bekerja, istirahat, dan meluangkan waktu untuk diri sendiri dan keluarga, dan menyediakan waktu untuk kegiatan sosial.

2. LOS FELIDAS

Adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan. Ini adalah kawasan terkumuh di seluruh kota.

Ada sebuah kisah Natal yang membuat jalan itu menjadi tak terlupakan. Kisah itu dimulai dari seorang pengemis wanita dan juga ibu seorang gadis kecil yang malang. Pengemis itu di bawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Belum setahun mereka tinggal di kota itu, uang mereka sudah habis, pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tak tak tahu harus tidur di mana nanti malam, dan mereka tak memiliki uang sepeser pun di kantong. Padahal mereka punya bayi berumur 1 tahun yang harus diberi makan.

Dalam keadaan panik dan putus asa, berjalan menelusuri seluruh kota. Dan akhirnya tibalah mereka di sebuah jalan sepi, di mana terdapat puing-puing sebuah toko tempat mereka menginap untuk nanti malam. Saat itu angin Desember bertiup sangat kencang. Ketika mereka beristirahat di emperan toko tersebut, sang suami berkata,”Saya harus pergi meninggalkan kalian untuk mencari uang, agar kita bisa membeli makanan dan kita tidak kelaparan. Tunggu saya di sini, kalian tidak akan saya biarkan kelaparan. Lelaki itu kemudian mencium bayinya, dan tak pernah kembali.

Tak seorang pun tahu pasti ke mana pria itu pergi, tapi beberapa orang melihatnya menumpang kapal yang menuju Afrika. Beberapa hari berikutnya ibu dan anak yang malang tersebut menunggu kedatangan suaminya di tempat tersebut, bila malam terpaksa ibu dan anak itu tidur di emperan toko tersebut.

Pada hari ketiga, si bayi malang menangis keras, ia kehabisan susu. Orang-orang yang lewat dengan rasa iba memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama enam bulan. Pada suatu hari si ibu tergerak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja mencari uang, ia berhenti menjadi pengemis. Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya yang kini sudah berusia 2 tahun, dan tampak sangat cantik jelita.

Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali dengan meninggalkan anaknya di situ dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan kepada gadis kecilnya agar ia tidak ikut siapa pun dan setia menunggu ibu di tempat itu. “Doakan Ibu ya Nak, supaya ibu dapat uang dan kita bisa menyewa kamar kecil berpintu dan kita tidak tidur dengan angin di rambut kita.

Gadis kecil itu tersenyum dan berjanji akan patuh pada pesan ibunya. Maka si ibu membuat rumah kardus agar anak kesayangannya bisa merasa nyaman selama ia berada di sana tanpa dirinya. Di samping bantal dari kardus dekat kepala anaknya, ibu itu meletakkan sepotong roti. Kemudian dengan mata basah, ibu itu menuju pabrik di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.

Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga akhirnya di kantong si ibu, kini terdapat uang yang cukup untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang membutuhkan uang sangat mendesak menculik gadis kecil itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 km ke pusat kota.

Di situ mereka mendandani gadis kecil itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya, dan membawanya ke sebuah rumah mewah di pusat kota. Gadis kecil itu dijual kepada sepasang suami istri yang berprofesi sebagai dokter yang kaya raya namun belum memiliki anak walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun. Mereka memberi nama gadis kecil itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat.

Di tengah-tengah kemewahan rumah megah seperti istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz ke mana pun ia pergi.

Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.

Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di Gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang.

Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi di antara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni. Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu di dekat foto.

Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum pernah dilihatnya sama sekali.

Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.

Matanya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: “Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian di seluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.

Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.

Pagi, siang dan sore ia berdoa: “Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya. Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separuh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu.

Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan di mana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota di mana Serrafonna diculik.

Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 7 malam, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. “Tuhan Maha Penyayang ,Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi.

Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main di tepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi.

Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. “Lekas, Serrafonna, Ibu menunggumu, sayang”. Ia mulai berdoa, “Tuhan, beri saya setahun untuk melayani Ibu. Saya akan melakukan apa saja”.

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: “Tuhan beri saya sebulan saja”.

Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan Ibunya, dan ia mulai menangis: “Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan.

Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung ke ujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.

Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi tempat itu.

“Belum bergerak dari tadi.” lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. “Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu.

Serrafona memandang tembok di hadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

“Tuhan”, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, “beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan Ibu mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi Ibu tidak menyia-nyiakan saya”.

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda.

“Ibu….”, ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam – antara waras dan tidak – dan tiap hari – antara sadar dan tidak – kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa peduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada Ibunya.

“Ibu, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Ibu jangan pergi dulu. Apapun yang Ibu mau bisa kita lakukan bersama-sama. Ibu ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Ibu jangan pergi dulu… Ibu…”

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: “Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan….. satu jam saja…. …satu jam saja…..”

Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Hikmah di Balik Cerita:

Ibu adalah perempuan mulia yang melindungimu dari segala amuk marabahaya. Tidak ada cinta sejati selain dari cinta ibu. 5 menit sebelum melahirkan, ibu rela mati untuk memperjuangkan kehidupan anaknya. Sayangi ibumu selagi sempat dan selagi belum terlambat. Sudahkan hari ini Anda bilang i love you kepada Ibu dengan cara yang berbeda?

3. SUP BATU

Ada seorang pria miskin bernama Wilf. Dia hendak melakukan perjalanan dari kota ke kota untuk mencari pekerjaan dengan ditemani anjingnya, Scuff, dan sebuah batu istimewa. Suatu hari, dia tiba di sebuah pondok kecil berwarna krem yang beratapkan jerami.

  • “Kita coba di rumah ini,”katanya pada Scruff sambil mengetuk pintu.

Pintu itu dibuka oleh seorang wanita yang langsung memberikan tatapan penuh curiga.

  • ”Siapa Anda?”katanya ketus,”Anda mau apa?”tanya wanita itu.
  • “Selamat pagi Bu,”kata Wilf, ”Apakah ada pekerjaan kecil yang bisa kulakukan untuk ditukar dengan makan siang?”
  • “Maaf, tidak ada pekerjaan untuk Anda,”kata kata wanita itu sambil menutup pintunya.
  • “Aku bisa membuat sup dari batu,”tukas Wilf cepat.
  • “Benarkah?”tanya wanita itu ragu. “Aku ingin melihatnya,”tambahnya, lalu ia mempersilahkan Wilf masuk.
  • “Pertama-tama kita harus merebus air sampai mendidih,”kata Wilf.

Wanita itu pun segera mengisi pancinya yang besar dan meletakkannya di atas kompor. Wilf merogoh sakunya dan mengambil sebuah batu yang mengkilat.

  • “Batu ini akan membuat sup paling lezat yang pernah Anda cicipi,

Wilf menunggu sampai airnya mendidih, kemudian ia memasukkan batu itu ke dalam panci. Selang beberapa menit, Wilf mencicipi.

  • “Hmm, lumayan,”katanya, namun akan lebih enak kalau ditambah bawang bombay dan sedikit garam.
  • “Aku punya bawang Bombay dan garam,”kata wanita itu.

Dia lalu mengambil empat siung bawang bombay, ia membawanya ke meja dapur , lalu ia mengiris-ngirisnya dan memasukkan ke dalam panci yang mendidih dengan sedikit garam. Wilf membiarkan sup itu mendidih lebih lama. Dia lalu mengambil sendok dan mencicipinya lagi.

  • ”Hmm, jauh lebih enak,”katanya, namun lebih enak jika ditambahkan kentang dan daun bawang.

Wanita itu mengambil kentang dari dapur dan mengupasnya, serta ia mengiris-ngiris daun bawang…kemudian meraupnya dan memasukkannya ke dalam panci. Supnya mulai mendidih. Wilf mencelupkan sendok untuk ketiga kalinya, dan mencicipinya lagi.

  • “Hmmm! “Sekarang rasanya enak sekali,”katanya. Tapi masih perlu sedikit bahan lagi…”

Dia melihat untaian sosis besar yang tergantung di atas perapian dan menjilati bibirnya.

  • “Pakai sosis pasti jadi lebih enak!”katanya.

Wanita itu pun mengambil beberapa sosis dan memotongnya. Ketika dia sedang memasukkannya ke dalam panci, Wilf tersenyum, aroma daging mulai menyebar.

  • “Aku pikir sup ini siap disajikan!kata Wilf.

Wanita itu mengambil beberapa mangkuk dan sendok. Dengan senang hati Wilf membantu menyajikannya.

  • “Sup batu ini sangat lezat!”kata wanita itu.”Aku pikir batumu pastilah batu ajaib.

Wilf tersenyum, dia mengaduk panci untuk mencari batunya. Setelah ditemukan, diambilnya batu itu dan dicuci. Lalu dimasukkan kembali ke sakunya.

  • “Ini memang batu ajaib,”kata Wilf sambil mengedipkan mata.”Dengan batu ini, ke mana pun aku pergi, aku tidak pernah kelaparan.
  • “Maukah kau tinggal untuk makan malam?”tanya wanita itu. “Supnya masih banyak.

Diceritakan kembali oleh : Lesley Sims

Hikmah Cerita:

Kalau kamu rajin dan kreatif peluang sekecil apa pun bisa diciptakan. Seperti halnya Wilf yang mau bekerja keras melakukan pekerjaan apapun demi ditukar dengan makan siang. Ketika sang pemilik rumah menolaknya, Wilf malah memberikan penawaran kepada wanita itu bahwa ia bisa membuat sup batu yang lezat.

Wilf membuat sup batu terlezat dengan ditambahi bumbu-bumbu lainnya seperti bawang bombay, kentang, daun bawang, dan sosis, dan sedikit garam. Ditambah sikap Wilf yang santun, wanita itu tak merasa tertipu dengan sup batu buatan Wilf. Yuk kita cicipi sup batunya, tapi batu ajaibnya jangan dimakan ya: nanti gigimu rontok.

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari kisah ini adalah untuk mengajak orang lain bekerja sama maka ciptakan kondisi agar semua pihak bersedia berperan karena mereka menilai pengorbanan mereka ringan ibaratnya hanya sekadar menyumbang hal kecil seperti sebuah panci, air, bawang bombay, daun bawang, kentang dan sosis. ” sehingga akhirnya tersaji sup yang lezat.

4. PUTRI MANU

Putri Manu adalah seorang anak yang sangat manja. Ia adalah Putri tunggal bangsawan yang kaya raya. Apa pun yang diinginkan Putri Manu selalu dipenuhi oleh ayahnya. Ada banyak pelayan yang siap melayani segala permintaan Putri Manu.

Setiap hari ayah Putri Manu selalu membelikan pakaian yang indah. Putri Manu akan menangis sangat keras ketika permintaannya ditolak atau tidak dikabulkan. Ia tak peduli bagaimana cara ayahnya mendapatkan apa yang diinginkannya.

  • “Aku ingin memakai gaun permata di hari ulang tahunku,”pinta Putri Manu kepada ayahnya.
  • “Baiklah, nanti ayah pesankan pada penjahit terbaik di negeri ini.
  • “Aku juga mau mahkota yang sangat indah,”pinta Putri Manu lagi.
  • “Baiklah, nanti ayah pesankan mahkota permata, supaya sama dengan gaunmu.

Tapi ternyata Putri Manu justru menangis dengan keras,

  • ”Aku tidak mau mahkota permata, mahkota seperti itu sudah banyak dipakai oleh anak-anak bangsawan lainnya. Aku mau mahkota yang berbeda. Mahkota yang belum pernah ada di negeri ini.

Ketika hari ulang tahun Putri Manu sudah semakin dekat, gaun pesta sudah jadi, namun belum ada mahkota yang disukai oleh Putri Manu. Ia pun menangis dan berteriak-teriak. Putri Manu berlari menuju taman. Di sana ia melihat hamparan bunga-bunga ceri yang sedang bermekaran.

  • ”Indah sekali bunga-bunga ini jika menjadi mahkotaku,”pikir Putri Manu.

Sepertinya bunga-bunga itu bisa membaca pikiran Putri Manu. Hingga Putri Manu mendengar suara yang berasal dari hamparan bunga ceri.

  • “Jangan kau ganggu kehidupan bunga-bunga di sini. Kami tidak pantas untukmu.
  • ”Tidak ada yang boleh menolak keinginanku!”bentak Putri Manu. Ia tidak mempedulikan peringatan yang didengarnya. Putri Manu memetik bunga ceri dengan riang gembira.

Tiba-tina sebuah keajaiban terjadi. Peri bunga muncul di antara hamparan bunga ceri. Dengan tongkat ajaibnya Peri Bunga menyihir Putri Manu menjadi bunga ceri. Putri Manu hanya bisa menangis, tapi ia tidak bisa menjadi manusia lagi.

Hikmah Cerita :

Manis boleh, manja jangan. Anak yang manja sangat menyusahkan orang tua dan siapa pun yang mengenalnya. Oleh karena itu jadilah anak yang mandiri, agar kamu tidak menjadi beban orang lain dan dapat membuat orang tuamu senang.

5. MURID-MURID GURU GAMPAR

Dahulu kala di sebuah desa di Malaysia, ada seorang guru bernama Gampar. Semua orang menghormatinya dan memanggilnya Guru Gampar.  Beliau  memiliki empat orang murid yang masih muda namun sedikit bodoh. Guru Gampar selalu berpesan,

  • ” Kalian tidak boleh melakukan apa pun selain yang aku perintahkan”.

Suatu hari Guru Gampar dan keempat muridnya pergi ke desa tetangga dengan menaiki sebuah Delman. Salah satu muridnya duduk di depan menjadi kusir. Perjalanan yang jauh membuat Guru Gampar tertidur. Ketika melewati jalanan berbatu, sorban yang dipakai di kepala Guru Gampar terjatuh.

Setelah bangun dari tidurnya, Guru Gampar menanyakan ke mana sorbannya menghilang. Jawaban murid-murid Guru Gampar membuatnya kesal,

  • ”Tadi sorban guru terjatuh di jalan, tapi kami tidak berani mengambilnya.
  • “Kalian seharusnya mengambil apa saja yang terjatuh”, kata Guru Gampar masih dengan nada kesal.

Beberapa saat kemudian, Kuda yang menarik Delman menjatuhkan kotoran. Murid-murid Guru Gampar kemudian mengambil kotoran kuda itu dan meletakkannya ke dalam delman. Tentu saja Guru Gampar merasa jijik. Ia pun kemudian membuat catatan apa saja yang harus diambil jika terjatuh nanti.

  • “Ambil barang-barang dalam daftar ini saja. Selain barang-barang dalam daftar ini, jangan diambil!” katanya.

Di sebuah jalan berlubang, tiba-tiba gerobak itu bergoyang cukup keras sehingga Guru Gampar terlempar ke selokan. Namun, delman itu terus saja berjalan . Guru Gampar pun berteriak,

  • ”Tolong aku, tarik diriku dari sini dan kembalikan aku ke dalam Delman.
  • “Maaf Guru, kami tidak bisa melanggar perintahmu. Dirimu tidak ada dalam catatan barang-barang yang boleh diambil jika terjatuh.
  • ” Guru Gampar bingung dengan kepatuhan murid-muridnya.
  • “Berikan daftar dan pena itu kepadaku!” teriak Guru Gampar.

Salah seorang murid pun melemparkan daftar dan pena itu ke arah gurunya. Lalu, Guru Gampar dengan susah payah menulis namanya dalam daftar itu.

Setelah itu, Guru Gampar melemparkan kembali daftar itu kepada muridnya. Setelah membaca ada nama gurunya dalam daftar itu, barulah keempat murid yang sangat patuh itu menarik guru mereka dari selokan.

Hikmah Cerita :

Kepatuhan murid-murid Guru Gampar memang sangat baik, namun mereka menjadi tidak bisa berinisiatif (berpikir sendiri), mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak dilakukan. Mereka tidak bisa berpikir melebihi hidungnya, karena Pak Guru Gampar selalu berpesan ,

  • ”Kalian tidak boleh melakukan apa pun selain yang aku perintahkan”.

Seharusnya Pak Guru Gampar berpesan, Lakukan apa pun yang menurut kalian merupakan penyelesaian masalah. Jika sorban Bapak jatuh, segera ambil tanpa perlu disuruh, jika Bapak terjatuh dari delman, segera bantu bapak bangun dan kembalikan ke dalam delman, walaupun Bapak tidak ada dalam daftar. Itulah seni berpikir kreatif dan seni menemukan solusi dalam setiap masalah.

6. GADIS KECIL PENJAJA KOREK API

Pada sebuah malam menjelang Natal, udara sangat dingin , salju turun dan angin berhembus sangat kencang. Ada seorang gadis kecil yang sudah kehilangan ibunya, dan untuk membiayai ayahnya yang sakit-sakitan , ia berjalan menelusuri jalan yang diselimuti salju untuk menjual korek api.

  • “Korek api, siapa yang mau membeli korek api”.

Gadis kecil ini tidak punya baju hangat, ia hanya memakai baju kumal, dan kepalanya dibungkus sebuah syal yang sudah koyak. Kakinya beralaskan sepasang sandal butut warisan ibunya. Gadis kecil itu berteriak menjajakan korek apinya di jalan , tetapi tak seorang pun yang mau membeli korek apinya.

Semua orang sibuk mempersiapkan hari Natal dengan rasa gembira, tetapi tidak dengan gadis penjual korek api ini. Ia harus berjuang menjual korek api agar bisa melanjutkan hidup.

Malam semakin larut, namun belum ada seorang pun yang membeli sebatang korek apinya. Dalam keadaan lapar dan kelelahan, dia terus berjalan perlahan-lahan. Butir-butiran salju jatuh menerpa rambutnya yang berwarna pirang. Tibalah berhenti sebentar pada sebuah rumah mewah. Dia memandang ke dalam rumah, tampaklah olehnya sebuah pohon Natal yang dihias dengan berbagai ornament indah. Dan tampak seorang ibu yang sedang bermain dengan kedua anaknya, mereka terlihat sangat bahagia.

Di atas meja terlihat lilin yang berwarna warni, ada lilin yang berwarna merah, hijau, putih dan ungu. Gadis kecil itu paling suka melihat lilin yang berwarna merah , ia pencinta warna merah. Ia jadi teringat kepada almarhum nenek dan ibunya, mereka berdua sangat menyayangi dirinya melebihi apapun, tetapi sayangnya ibu dan neneknya sudah tiada.

Gadis kecil itu lalu menitikkan air mata. Sambil menangis gadis kecil itu berjalan menelusuri jalan raya yang dipenuhi butiran salju, tiba-tiba sebuah kereta kuda lewat dan nyaris menabraknya. Kereta kuda melintas dengan cepat, mencipratkan lumpur ke baju gadis kecil itu. Ia cekatan untuk menghindar namun gerakan kakinya membuat sandal warisan ibunya putus, terpaksa ia berjalan dengan kaki telanjang menelusuri dinginnya jalan yang bersalju dan tak henti meneriakkan dagangannya.

  • “Korek api, siapa yang mau beli korek api!

Kaki gadis kecil ini kedinginan sampai wajahnya membiru. Ada sedikit hiburan, di sepanjang jalan yang ia lewati ia mencium aroma lezat daging panggang.

  • “Wah sungguh enak jadi orang kaya, mereka sedang mempersiapkan perayaan Natal, ujar gadis malang ini dalam hati.

Dia tidak kuat lagi berjalan, badannya lelah, kemudian ia menyandarkan diri di dinding toko. Dia takut pulang ke rumah karena tak sebatang korek api pun bisa ia jual. Di rumahnya juga sangat dingin, karena rumahnya yang reyot membuat angin dapat masuk dari segala arah.

Gadis kecil itu kedinginan sampai tubuhnya gemetar. Ia ingin sekali menghangatkan tubuh walaupun hanya sebentar dengan sebatang korek api. Tangannya yang kecil sudah hampir membeku. Lalu ia memutuskan untuk menyalakan sebatang korek api untuk tubuhnya agar tidak menjadi beku. Sreet, sebatang korek api ia nyalakan menyala, ia merasakan sebuah kehangatan memeluknya.

Sambil melamun, ia membayangkan dirinya duduk di dekat sebuah tungku api, nyala api terlihat sangat cantik, dan hangat. Dia bermaksud menjulurkan kedua kakinya ke dekat nyala api tetapi api tersebut segera padam. Tungku api hilang dari pandangannya. Ia terbangun dari lamunannya, dan ia melihat sebatang korek api yang sudah habis terbakar di tangannya.

Dia lalu menyalakan lagi sebatang korek api, korek api menyala, mengeluarkan cahaya terang. Nyala korek api yang memantul di dinding, bagaikan ilusi. Dia melihat sebuah kamar. Di dalam kamar terlihat sebuah meja makan terhidang biskuit yang lezat, dan daging panggang yang harum. Dia menjulurkan tangannya, korek api segera padam, tangannya ternyata hanya meraba dinding yang dingin.

Dia kembali menyalakan sebatang korek api, nyala korek api berubah menjadi sekuntum cahaya yang berwarna merah jambu. Dia merasa dirinya duduk di sebuah pohon Natal yang cantik , lebih cantik daripada pohon Natal yang dilihatnya di rumah mewah itu. Gadis kecil ini menjulurkan tangannya, korek api pun padam kembali.

Dia lalu menyalakan sebatang korek api lagi. Ah, di nyala api itu dia melihat nenek yang dirindukannya setiap hari, dia melompat ke pelukan neneknya.

“Nenek! Tolong bawa saya pergi ke tempat hangat dan banyak makanan. Saya tahu begitu korek api padam Nenek akan menghilang, seperti tungku api, daging panggang yang harum, dan pohon natal yang cantik, saya pasti akan kehilangan semuanya. Akhirnya gadis malang itu menyalakan semua korek api yang tersisa, dia sangat rindu dan ingin berlama-lama berlama dengan neneknya.

Nyala korek api semakin terang. Nenek memeluknya erat dengan penuh kasih sayang. Mereka berdua terbang ke langit, perlahan naik, makin lama makin tinggi. Terbang ke sebuah tempat yang hangat dan banyak dipenuhi makanan.

Pada pagi harinya saat lonceng Gereja berbunyi untuk menyambut datangnya hari Natal, seorang ibu melihat ada seorang gadis malang yang sedang bersandar di dinding sebuah toko. Wajah mungilnya tersenyum dengan sangat bahagia. Tetapi dia sudah tak bernyawa lagi. Tangan mungilnya menggenggam batang-batang korek api yang hangus terbakar.

Hikmah Cerita :

Orang-orang merayakan dan menyambut Natal (atau hari besar lainnya), menghibur Tuhan dengan lagu puji-pujian namun melupakan orang-orang di sekitar yang kurang beruntung, dan pada detik itu, seorang gadis kecil tak sanggup merayakan Natal, karena ia tak punya ibu, nenek, dan ayahnya sedang dalam keadaan sakit, serta ia kekurangan uang. Gadis kecil itu adalah perumpamaan orang-orang miskin, orang-orang korban bencana alam, orang-orang yang sudah bekerja keras namun pendapatan yang mereka peroleh belumlah mencukupi hidup mereka.

Alangkah baiknya jika Anda juga memperhatikan lingkungan terdekat di sekitar tempat tinggal Anda. Berbuat baiklah kepada tetangga, anak-anak yatim-piatu, anak-anak yang kurang mampu, atau anak-anak jalanan, anak-anak yang putus sekolah. Bantulah mereka dengan memberikan hal terbaik yang bisa Anda berikan. Berbagi itu memberikan apa yang kamu suka dan apa yang kamu punya. Hidup itu memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya… what more can I give?

7. SEPATU DARI LILIPUT

Ada sepasang kakek dan nenek yang tinggal di sebuah rumah di pinggir kota. Si kakek bekerja sebagai pengrajin sepatu. Sayangnya, kedua orang tua ini tidak mempunyai anak. Tapi mereka selalu bahagia, bahkan mereka selalu berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Pada suatu hari, kakek membuat sepasang sepatu. Ketika akan menjualnya, nenek melihat seorang anak kecil yang berjalan tanpa alas kaki.

  • “Anak itu pasti kedinginan,”kata Nenek.

Kakek pun memanggil anak tersebut dan memberikan sepatu yang hendak dijualnya. Untunglah ukuran sepatu itu pas di kaki si anak kecil. Walaupun kakek dan nenek tidak mendapatkan uang pada hari itu, tapi mereka bahagia karena bisa menghadiahi si anak kecil sepasang sepatu.

Kebahagiaan kakek dan nenek yang sangat besar itu telah membuat para liliput yang tinggal di hutan datang. Mereka datang secara diam-diam pada malam hari dengan membawa kulit kayu. Para liliput ini membantu kakek membuat beberapa pasang sepatu . Menjelang pagi para liliput ini kembali lagi ke hutan.

Tentu saja pada pagi harinya, kakek dan nenek heran melihat ada banyak sepatu. Nenek pun menjual sepatu-sepatu itu ke pasar. Uang yang didapat nenek sangat banyak. Nenek membagi sebagian uang tersebut kepada orang-orang miskin yang tinggal di sekitar rumah mereka.

Pada malam berikutnya, rombongan liliput itu kembali. Kakek dan nenek, diam-diam mengintip. Mereka merencanakan untuk membuat hadiah sebagai ucapan terima kasih.

Pada pagi harinya, kakek membuat sepatu-sepatu kecil dan nenek merajutkan mantel untuk para liliput. Makanan dan minuman juga mereka sediakan di bengkel sepatu kakek.

Para liliput sangat senang mendapat hadiah sepatu dan mantel dari kakek dan nenek. Setelah bekerja, mereka memakainya dan kembali ke hutan. Namun malam-malam berikutnya, liliput tidak pernah kembali lagi.

Sejak saat itu. Sepatu buatan kakek selalu terjual dengan harga mahal. Kakek dan nenek selalu memberikan sebagian besar dari hasil penjualan sepatu mereka kepada orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan bantuan.

Hikmah Cerita :

Berbagi itu memberikan apa yang kita suka dan apa yang kita punya. Jika kita senang berbagi dan menolong orang lain, maka Tuhan akan memberikan balasan berupa datangnya rezeki dari arah yang tak terduga. Sudahkah kamu berbagi dan berbuat baik hari ini?