Kriteria dan Ketentuan Investasi Saham Syariah

Home ┬╗ Kriteria dan Ketentuan Investasi Saham Syariah

Kriteria dan Ketentuan Investasi Saham Syariah

Saat ini, saham banyak dipilih oleh para investor untuk portofolio investasi mereka. Saham dipilih karena dianggap memberikan keuntungan yang besar, meskipun resiko mengalami capital loss dari bermain saham juga cukup besar.

Meskipun banyak dipilih oleh investor, namun masih banyak investor yang menganggap investasi saham sebagai permainan judi. Mereka tidak sepenuhnya salah. Karena ada juga spekulan-spekulan yang menganggap investasi saham sebagai ladang judi. Mereka berinvestasi saham hanya ikut-ikutan saja tanpa mengetahui ilmunya. Investor sejati tentu akan mempelajari instrumen investasi mereka, mempelajari pasar maupun mempelajari emiten yang menerbitkan sahamnya.

Bagi sebagian investor muslim, kekhawatiran muncul bukan hanya pada permainan saham itu sendiri, tapi juga pada emiten yang menerbitkan saham. Apakah mereka adalah perusahaan yang bergerak di bidang yang halal? Atau sebaliknya. Jika investor ragu, ada alternatif alat investasi lain yang dapat dipilih, yaitu investasi saham syariah. Apa itu investasi saham syariah? Artikel ini akan mencoba menjelaskannya kepada Anda.

Ketentuan Saham Syariah

investasi saham syariah gdhd6788uh

https://www.tes.com

Saham syariah memiliki prinsip-prinsipnya sendiri yang berbeda dengan saham biasa. Dikutip dari investasi.kontan.co.id, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK menyeleksi saham-saham syariah dengan dua ketentuan utama. Pertama emiten tidak berkecimpung di bidang usaha yang melanggar ketentuan syariah. Kedua, emiten memenuhi rasio keuangan seperti total uang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45%, atau total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%. Selain itu, skema transaksi dari fatwa DSN-MUI No. 80 juga tidak dilanggar oleh emiten.

Menurut Teuku Hendry Andrean, Research Manager Shinhan Sekuritas Indonesia, bobot indeks syariah dengan IHSG dapat dikatakan berbeda jauh. Hal itu disebabkan karena saham syariah mengeliminasi saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar seperti saham perbankan dan saham rokok. Beberapa sektor yang masuk ke dalam saham syariah dengan bobot besar diantaranya adalah Unilever dan Telkomsel. Biasanya saham syariah didukung oleh klasifikasi yang lebih aman. Di antaranya terhadap fluktuasi, risiko bisnis dan utang yang dibatasi. Sehingga dalam jangka panjang, saham syariah terbilang cukup baik.

Transaksi keuangan dalam Islam tidak mengenal riba atau bunga. Jadi, berbeda dengan saham konvensional, saham syariah menggunakan sistem bagi hasil dan risiko antara investor dan emiten melalui musyawarah. Musyawarah di sini artinya kesepakatan yang didapat dalam akad syariah. Dikutip dari moneysmart.id, contohnya kita membeli saham syariah perusahaan A. Jika perusahaan A menerima keuntungan, maka kita juga akan memperoleh untung dari dana investasi yang ditanamkan pada perusahaan itu. Sebaliknya jika perusahaan merugi, maka otomatis pemegang saham juga akan menerima kerugiannya.

Bagi hasil dan resiko saham syariah sebelumnya telah disepakati dalam perjanjian akad. Tentu saja tingkat keuntungan pemegang saham syariah akan berubah-ubah sesuai dengan kinerja emiten. Ini berbeda saham konvensional yang menerapkan sistem bunga membuat keuntungan pemegang saham lebih stabil karena kinerja emiten tidak berpengaruh.

Investasi saham syariah juga tidak mengenal gharar dan maysir. Gharar adalah pemberian informasi yang menyesatkan. Sedangkan maysir adalah pengambilan resiko yang berlebihan. Gharar berlaku bagi emiten dan perusahaan sekuritas yang mengurus pembelian saham. Mereka harus menjelaskan sejelas mungkin seluk-beluk saham yang mereka jual. Sedangkan maysir berlaku bagi investor pembeli saham syariah. Artinya mereka tidak boleh serakah dan hanya mengejar keuntungan belaka tanpa mempertimbangkan resiko.

Kriteria Berinvestasi Saham Syariah

Cara berinvestasi saham syariah sebenarnya sama saja dengan investasi saham konvensional pada umumnya. Anda dapat langsung ke perusahaan sekuritas dan membuka akun di sana. Selanjutnya petugas perusahaan akan mengarahkan untuk membeli saham syariah dengan mengisi formulir terlebih dahulu.

Perlu diperhatikan bahwa perusahaan emiten yang sahamnya Anda beli harus terbebas dari praktek-praktek yang melanggar ajaran Islam. Peraturan Bapepam-LK nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah, pasal 1.b.7 mengatur tentang kriteria pemilihan saham syariah dengan rincian sebagai berikut.

  1. Jenis usaha, produk barang atau jasa yang diberikan dan akad serta pengelolaan emiten tak boleh bersebrangan dengan prinsip-prinsip syariah.
  2. Emiten wajib menandatangani dan memenuhi ketentuan akad sesuai dengan prinsip syariah.
  3. Emiten wajib memiliki Syariah Compliance Officer (SCO) untuk menjelaskan prinsip syariah yang dianutnya. SCO adalah pejabat atau petugas di lembaga atau perusahaan yang telah disertifikasi oleh Dewan Syariah Nasional. Majelis Ulama Indonesia sebagai tanda bahwa dia telah memahami konsep syariah di pasar modal.

Itulah penjelasan mengenai investasi saham syariah serta konsep-konsep yang berkaitan dengannya. Saham syariah memang dapat menjadi alternatif bagi Anda yang ingin berinvestasi saham namun masih ragu dengan beberapa sektor saham yang abu-abu. Saham syariah menawarkan sistem bagi hasil dan risiko kepada investornya dan bukannya bunga seperti pada saham-saham konvensional. Melalui akad antara investor dan emiten, diharapkan investasi saham syariah dapat memberikan keuntungan tanpa harus melanggar ajaran agama Islam.

Baca Juga:

2018-10-15T10:23:32+00:00