Kriteria Calon Ayah yang Baik

Empat dari sepuluh anak laki-laki di Amerika akan tidur di rumah tanpa ayah. 60% pemerkosa, 70% remaja pembunuh, dan 30% adalah napi remaja dengan masa tahanan panjang anak laki-laki yang tumbuh tanpa kehadiran ayah mereka. Statistik kejahatan adalah cara dramatis untuk menunjukkan bahwa jika ayah tak ada, sang anak memiliki peluang lebih besar untuk menjadi penjahat.

Nilai-nilai kebaikan diturunkan dari ayah kepada anak laki-lakinya, seperti tongkat estafet dalam lomba lari. Peran ibu seringkali tidaklah cukup. Perempuan harus berbuat baik sebelum anak mereka dilahirkan ke dunia. Caranya adalah dengan memilih suami atau calon ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Sebagai calon ayah yang baik, laki-laki memiliki ciri-ciri sebagai sebagai berikut.

  • Tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan.
  • Kejantanan tidak identik dengan kekerasan. Contoh : membentak-bentak, cemburu buta, posesif.
  • Berperilaku hormat dan santun terhadap ibu dan adik/kakak perempuannya.
  • Memiliki lingkungan teman-teman yang baik.
  • Tidak anti sosial dan pandai hidup bermasyarakat.
  • Memiliki rasa empati dan simpati terhadap penderitaan orang lain.
  • Memiliki jejak rekam yang baik berdasarkan informasi dari Mbah Google.
  • Jujur atas masa lalunya.

Kenapa Ayah Menghilang?

Dua fenomena sosial yaitu kelahiran di luar nikah, meningkatkan peluang kaum laki-laki untuk meninggalkan anaknya. Tidak ada solusi sederhana atas kelahiran di luar nikah. Tetapi, jika kita sebagai anggota masyarakat menjatuhkan sanksi terhadap tindakan ini, kita harus siap melihat kecenderungan perginya ayah. Mereka tidak ingin pasangannya memiliki anak, dan secara mental belum siap menjadi ayah.

Perceraian adalah fenomena sosial kedua yang meningkatkan peluang laki-laki untuk tidak merawat anak-anak mereka. Sebagian besar penelitian menunjukkan efek kerusakan akibat perceraian,”tidak ada seorang anak pun yang tidak terluka dan terpengaruh oleh perceraian.” Pada umumnya perceraian menyebabkan anak kehilangan cinta dan perhatian dari kedua orangtuanya.

Ayah yang Sehat

Apakah ayah yang baik itu? Bagaimana kita bisa menjadi ayah yang baik? Inilah rangkuman jawaban-jawaban untuk menjadi ayah yang baik.

  • Sang ayah harus membuat pilihan sadar untuk menjadi seorang ayah.
  • Sang ayah harus menjalankan tugas kebapakannya, selama masa kehamilan istrinya. Misalnya : mengantar istrinya periksa ke bidan, mencarikan nama anak yang baik, melengkapi baju-baju calon bayinya.
  • Sang ayah harus merasa nyaman dengan tubuhnya.
  • Ayah harus belajar berkomunikasi dengan anak laki-laki yang dia besarkan.
  • Sang ayah membantu anaknya megerjakan PR dan bermain.
  • Sang ayah harus menjadi teladan anak-anaknya.
  • Pantang memanjakan anaknya.
  • Membantu istrinya mengerjakan tugas rumah tangga.
  • Mengatakan tidak pada “hobi” dan kesempatan yang dianggap penting oleh orang lain demi menemani anak bermain.