Kiat Menjadi Orang Tua yang Asyik

Orang tua yang asyik adalah orang tua yang kreatif, perhatian, dan penuh kasih sayang, tanpa bentakan, dan wajah yang galak terhadap perilaku anak yang dianggap nakal. Setiap orang tua pasti mencintai anak-anaknya. Mereka membesarkan anak-anaknya dengan cara terbaik yang mereka ketahui dan penuh kasih sayang. Apakah semua itu sudah cukup? Di tengah rutinitas kerja dan tuntutan menafkahi keluarga, dapatkah kita konsisten memaksimalkan kasih sayang kita terhadap anak-anak.

Dr. Steven B. Poulter, seorang psikolog klinis dari Los Angeles, California dalam buku The Father Faktor, mengajukan sebuah gaya parenting yang “sejajar.”Dia mengingatkan agar para ayah berperan aktif dalam perkembangan anaknya, jika menginginkan sang anak bahagia dan sukses ketika dewasa kelak. Betapa banyak kasus kriminal yang muncul karena seorang anak telah kehilangan sosok ayah, yang ajaibnya hadir secara fisik namun tak “dekat” dalam kehidupannya.

Masihkah Anda melihat ketidakdekatan seorang ayah dan anak-anaknya sebagai sesuatu yang wajar? Ayah tidak meninggalkan apa-apa, selain gaji dan kesuksesan karier kepada anak-anaknya. Ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah belaka. Salah satu esensi orang tua yang asyik adalah bisa menjadi sahabat terbaik anak-anaknya.

Dari beberapa sumber literatur, ternyata beratus-ratus abad silam, ada seorang ayah yang memiliki kepribadian yang asyik, Montgomery Watts dalam bukunya Muhammad, The Prophet and Statement, menegaskan bahwa pemimpin umat Islam itu, Nabi Muhammad Saw, sangat dekat dan mencintai anak-anak kecil, dia memiliki banyak sahabat kecil dan tidak sungkan bermain dengan anak-anak. Fakta itu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw., telah sukses menjadi teladan ayah yang baik.

“Seorang ayah yang mengajarkan akhlak kepada anaknya lebih baik daripada bersedekah satu sha”…..” HR Tirmizi pada pembahasan tentang Kebaikan dan Menyambung Silaturahmi, bak akhlak anak-anak (QS 4: 297 No, 1951).

Tidak mengherankan jika Imam Nawawi penulis yang terkenal lewat Riyadhus Shalihin berkomentar,: …seorang ayah wajib menyertai anaknya ketika bermain, sehingga ayah dapat mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar pada permainan itu. Segala hal yang dapat membingungkan sang anak dapat dihilangkan karena sang anak dapat menanyakan langsung kepada sang ayah.

Berlatih Menjadi Teman

Belajarlah untuk menjadi teman atau sahabat anak. Dengan menempatkan diri Anda sebagai teman atau sahabat anak, sang anak akan merasa nyaman, terbuka berbicara dan berbagi cerita tentang hal apa pun kepada Anda.

Tip agar Anda bisa menjadi teman atau sahabat anak adalah sebagai berikut:

Belajarlah membahasakan diri kita sebagai “saya”

Kedekatan antara orang tua dan anak terbangun saat Anda membahasakan diri dengan “saya”. Dan pada saat yang sama anak-anak tetap diminta memanggil dengan “ayah” atau “ibu”. Izinkan anak-anak Anda untuk mengetahui nama lengkap Anda, kisah masa kecil Anda, dan hal-hal lainnya.

Lebih banyak mengedepankan unsur dialogis, saat berinteraksi dengan anak

Anak akan merasa dihargai apabila kita mendengarkan mereka, jangan langsung memotong ucapan yang hendak mereka utarakan kepada kita. Beri mereka kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg dan keluhannya. Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut, artinya kita diminta untuk belajar mendengarkan orang lain.

Kedepankan penjelasan logis dan reasoning

Anak akan merasa dihargai jika kita memiliki penjelasan logis di balik pendapat kita. Dengan demikian kata-kata “pokoknya begitu titik” – tidak berlaku lagi. Komunikasi dua arah lebih baik daripada komunikasi yang mendoktrin melulu.