Kepercayaan Masyarakat Suku Baduy Dalam

Suku Baduy merupakan salah satu suku terkenal di Indonesia yang masih sangat kuat mempertahankan tradisi dan adat mereka. Suku Baduy berada di Banten, Jawa Barat dan sebenarnya sudah terbagi menjadi dua bagian, yaitu suku Baduy luar dan suku Baduy dalam, dimana suku Baduy luar sudah tidak terisolasi lagi dengan adanya listrik, televisi, pakaian modern dan sebagainya sedangkan masyarakat Baduy dalam masih primitif dengan kebiasaan mereka yang masih berburu dan bercocok tanam. Suku Baduy yang menarik perhatian para sejarawan, arkeolog dan budayawan adalah suku Baduy dalam. Coba Anda perhatikan, hidup dengan tradisi dan adat yang sangat kuno, masyarakat Baduy dalam masih dapat menjaga eksistensi diri mereka. Sebenarnya apa yang menjadi kekuatan mereka dalam mempertahankan hidup secara primitif di zaman yang sudah mengglobal?

Rahasianya adalah kepercayaan yang tertanam kuat pada seluruh masyarakat Baduy dalam. Masyarakat Baduy dalam, selain terkenal karena sangat mencintai alamnya, juga terkenal karena kereligiusan mereka. Mereka percaya pada zat-zat agung yang menciptakan alam semesta. Oleh karena itulah, mereka enggan merusak alam semesta karena takut akan kemurkaan Sang Pencipta. Mereka tidak berani mengubah apapun yang mereka jalani dan anehnya pun mereka tidak tertarik dengan hal-hal modern di luar sana. Sesuai dengan prinsip kepercayaan mereka, yaitu “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung”” (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung).

Masyarakat Baduy dalam menganut sistem religi khusus yang disebut dengan sunda wiwitan atau sunda asli. Sunda wiwitan pada dasarnya adalah agama Buddha yang dipengaruhi oleh Hindu dan Islam. Sunda wiwitan mengakui adanya Batara Tunggal (Yang Maha Esa) sebagai zat tertinggi yang memberikan perlindungan sekaligus hukuman bagi pelanggar aturan adat atau pikukuh. Selain itu, ada pula Batara Jagat (Penguasa Alam) dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Nama lainnya yaitu Sang Hyang Keresa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Masyarakat Baduy dalam mengenal tiga jenis alam, yaitu:

  1. Buana Nyungcung, tempat bersemayam Sang Hiyang Keresa terletak paling atas.
  2. Buana Panca Tengah, tempat tinggal manusia dan makhluk-makhluk lain.
  3. Buana Larang, neraka yang terletak paling bawah.

Pikukuh yang ada harus dipatuhi sesuai prinsip kepercayaan mereka. Misalnya, dalam bidang pertanian, masyarakat Baduy dalam tidak akan mengubah kontur lahan dengan membajak atau membuat terasering. Mereka menanam dengan sepotong bambu runcing yang dinamakan tugal. Dalam bidang pembangunan, kontur tanah pun dibiarkan apa adanya. Pembangunan rumahlah yang harus dapat menyesuaikan dengan kondisi tanah. Selain itu, cara berbicara masyarakat Baduy dalam pun tidak berlebihan; polos dan jujur, bahkan dalam perdagangan pun tidak pernah terjadi tawar menawar.

Dalam sistem religi masyarakat Baduy dalam, ada objek pemujaan terpenting yang disebut Arca Domas. Arca Domas hanya dapat dikunjungi oleh Pu’un dan ketua adat tertinggi serta beberapa masyarakat terpilih saja. Lokasi Arca Domas pun dirahasikan karena sangat sakral. Kunjungan ke Arca Domas dilakukan setahun sekali pada bulan Kalima atau bulan Juli. Di kompleks Arca Domas terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Bila saat pemujaan batu lumpang tersebut ditemukan dalam air yang jernih, maka itu adalah pertanda yang baik bagi pertanian. Sebaliknya, bila airnya keruh, maka kemungkinan akan terjadi kekeringan dan gagal panen.

Sistem kepercayaan memang berpengaruh terhadap pola pikir manusia. Hebatnya, walaupun sistem kepercayaan yang sederhana seperti ini, masyarakat Baduy dalam masih dapat bertahan hidup hingga sekarang. Mungkin hal inilah yang membuat alam di desa Baduy masih tetap asri dan lestari.