Jenis-Jenis Saham Aman dengan Resiko Rendah

Home » Jenis-Jenis Saham Aman dengan Resiko Rendah

Jenis-Jenis Saham Aman dengan Resiko Rendah

Disamping besarnya resiko yang ditawarkan, ternyata ada juga jenis saham yang relatif aman dimiliki bagi sebagian investor.

Saham apakah itu?

Artikel ini akan mencoba mengulas lebih lanjut perihal jenis-jenis saham tersebut. Saham dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori berdasarkan kepemilikannya, gaya perusahaan serta ukurannya.

jual beli tahan saham dilut767uyilx

www.sharesinv.com

Saham Berdasarkan Status Kepemilikannya

Berdasarkan status kepemilikannya, saham dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu saham biasa dan saham preferen. Setiap jenis memiliki perbedaannya masing-masing dalam hal hak voting dan keuntungan yang diperoleh.

1. Saham Biasa

Ketika orang membicarakan tentang saham, biasanya mereka merujuk pada saham biasa. Sebagian besar saham yang diterbitkan perusahaan juga merupakan saham jenis ini. Dikutip dari cashcowcouple.com, saham biasa dapat merepresentasikan kepemilikan suatu perusahaan dan klaim atas sebagian keuntungan perusahaan tersebut. Pemegang saham biasa juga memiliki hak untuk memilih jajaran direksi yang nantinya akan mengawasi perusahaan.

Dalam jangka panjang, saham biasa dapat menawarkan return yang tinggi bagi investor dibanding dengan instrumen investasi lain seperti obligasi perusahaan. Sebagai gantinya, resiko yang ditawarkan oleh saham biasa juga cukup tinggi. Jika perusahaan sewaktu-waktu bangkrut, pemegang saham biasa tidak akan memperoleh uang mereka kembali sebelum pemegang saham preferen, pemegang obligasi dan kreditor memperoleh hak mereka.

2. Saham Preferen

Dikutip dari Investopedia.org, saham preferen sebenarnya mirip dengan obligasi dan biasanya tidak menyediakan hak voting (Hal ini tergantung pada perusahaan yang menerbitkan saham, namun pada sebagian besar kasus, saham preferen tidak menawarkan hak voting kepada investor). Investor pemegang saham preferen biasanya dijamin pembayaran dividennya secara berkelanjutan dalam jumlah yang tetap. Ini berbeda dengan pemegang saham biasa yang jumlah dividennya ditentukan oleh jajaran direksi dan tidak pernah dijamin. Bahkan, banyak perusahaan yang sama sekali tidak membayarkan dividen pada pemegang saham biasa.

Keuntungan lain dari pemegang saham preferen adalah ketika perusahaan bangkrut dan harus melakukan likuidasi. Pemegang saham preferen akan dibayarkan terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa (tetapi tidak lebih dulu dibanding pemegang instrumen utang dan pihak kreditor lainnya). Saham preferen bisa juga menjadi “callable”, artinya perusahaan bisa saja sewaktu-waktu membeli saham preferen dari pemiliknya kapanpun dan untuk alasan apapun (biasanya untuk pembayaran premi). Cara intuitif untuk mengetahui jenis saham ini adalah dengan memandangnya berada di antara saham dan obligasi.

Saham Berdasarkan Gaya Perusahaan yang Menerbitkannya

Setiap perusahaan punya acara yang unik untuk menumbuhkan dan mendistribusikan dividen mereka. Cara-cara tersebut tercermin dalam jenis saham berikut.

1. Saham Pendapatan (Income Stock)

Saham pendapatan biasanya akan membayarkan dividen sebanyak empat kali dalam setahun kepada investor. Perusahaan penerbitnya biasanya adalah perusahaan dengan kualitas tinggi, dibangun secara baik dengan rekam jejak keuntungan yang kuat dan kenaikan dividen yang stabil.

Pensiunan biasanya membeli saham jenis ini untuk menjamin arus pendapatan yang tetap dalam bentuk dividen. Jika jumlah dividen yang dibayarkan dengan kenaikan harga jual saham digabung, maka saham pendapatan seringkali mampu menawarkan pensiunan jumlah uang yang lebih besar dibanding investasi mereka pada obligasi dan instrumen pendapatan tetap lainnya. Tentu saja ada resikonya. Jika pasar cenderung turun maka harga saham juga akan turun. Perusahaan energi seperti listrik adalah salah satu contoh perusahaan yang menerbitkan saham pendapatan.

2. Saham Value (Value Stock)

Saham value kemungkinan memiliki karakteristik berikut:

  • Rasio harga pendapatan rendah.
  • Rasio harga beli rendah.
  • Rasio harga dividen rendah.

Dengan kata lain, saham-saham jenis ini memiliki harga di bawah rata-rata (underpriced) jika dibandingkan dengan perusahaan lainnya yang mirip di pasar saham. Terkadang, ini terjadi karena kesulitan ekonomi atau masalah manajemen. Penyebab lainnya adalah karena sentimen investor atau siklus yang berulang. Apapun alasannya, saham value telah mengungguli pertumbuhan saham dalam abad terakhir.

Seringkali para investor saham value mempertimbangkan faktor lain diluar metrik finansial sebelum membeli saham value. Mereka akan memberikan evaluasi kepada pemimpin perusahaan dan faktor kualitatif lain sebelum membeli saham dari firma tertentu. Tentu saja hal ini sangat sulit dilakukan bagi sebagian investor saat ini.

3. Growth Stock

Growth stock adalah saham dari perusahaan yang labanya sedang melesat cepat. Peningkatan laba perusahaan ini diikuti dengan peningkatan harga saham perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini biasanya akan menginvestasikan ulang laba mereka pada perusahaan dan membayar dividen kepada para pemegang saham dalam jumlah yang sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Dengan melakukan ini, mereka berharap pertumbuhan harga saham mampu membuat para investor tetap mau menginvestasikan dananya.

Perusahaan yang sedang bertumbuh (growth company) seringkali berpaku pada teknologi, dan banyak dari mereka yang mengalami pertumbuhan pesat dalam waktu singkat. Selama masa pertumbuhan pesat ini, harga saham dapat melonjak lebih tinggi dari pendapatan pokok yang akan menghasilkan rasio harga/pendapatan atau P/E (price/earning). Jika harga saham melebihi pertumbuhan pendapatan dalam beberapa jangka waktu, saham bisa mengalami penurunan.

Saham Berdasarkan Besar Kecilnya Perusahaan yang Menerbitkannya

Berdasarkan perusahaan penerbitnya, saham dapat dibagi ke dalam kategori saham blue chip, saham lapis dua dan saham lapis tiga.

1. Saham blue chip

Saham jenis ini memiliki kapitalisasi yang besar di atas 10 triliun. Perusahaan yang sahamnya tergolong dalam blue chip merupakan perusahaan besar yang telah dikenal oleh masyarakat luas, contohnya Astra, Bank BCA, Unilever dan Telkom. Perusahaan ini biasanya mencetak laba yang besar karena produknya dibutuhkan oleh banyak orang. Oleh karena itu saham perusahaan blue chip cocok dijadikan ladang investasi karena profil resikonya yang konservatif. Mereka juga mengutamakan pembagian dividen secara rutin.

2. Saham lapis dua

Kapitalisasi saham lapis dua tergolong sedang, di antara 1 triliun hingga 10 triliun. Meskipun emiten (perusahaan yang menerbitkan saham) saham lapis dua tidak memiliki kekuatan ekonomi sebesar perusahaan blue chip, berinvestasi pada saham ini tetap menjanjikan. Karena emiten sedang berada dalam fase pertumbuhan yang agresif. Banyak investor bermodal pas-pasan yang memilih saham lapis dua untuk portofolio mereka karena harganya lebih murah dibanding dengan saham blue chip.

3. Saham lapis tiga

Saham lapis tiga adalah saham yang memiliki kapitalisasi paling kecil dibanding dua jenis saham lainnya, yaitu di bawah 1 triliun. Meskipun harganya cukup murah, namun saham jenis ini tetap beresiko untuk dikoleksi, karena pergerakannya dapat dikendalikan oleh investor besar.

Demikianlah penjelasan mengenai jenis-jenis saham yang mungkin akan Anda temui sebagai investor. Saham memang memiliki resiko yang tinggi, tetapi tidak semuanya seperti itu. Saham preferen dapat dikatakan memiliki resiko yang lebih kecil dibanding dengan jenis saham lainnya. Jika perusahaan bangkrut, pemilik saham preferen akan didahulukan sebelum pemilik saham biasa. Tetapi dikutip dari cashcowcouple.com, kelemahan dari saham preferen adalah harganya yang tidak terlalu berpengaruh pada kenaikan dan penurunan harga di pasar saham.

Baca Juga:

2018-11-02T17:26:46+00:00