Hindari Menggunakan Pembelajaran Konvergen

Pembelajaran konvergen adalah metode pembelajaran jaman baheula. Pada pembelajaran konvergen hanya ada satu jawaban benar, dan ini mematikan kreativitas anak.

Saya jadi ingat, ketika SD dulu saya disodori pertanyaan yang berupa,”Ibu pergi ke………..” Jawaban yang dibenarkan adalah “pasar”. Bila saya menjawab “Ibu pergi ke rumah sakit, atau minimarket, maka jawaban saya tersebut dianggap salah. Begitu pula murid dipastikan akan disalahkan jika menjawab, “Ayah memasak nasi, dan Ibu menyapu halaman.”

Sampai detik ini masih banyak sekolah yang mengacu pada pembelajaran konvergen, atau cara belajar yang hanya memiliki satu jawaban. Selain jawaban dari guru disalahkan. Sekalipun jawaban tersebut benar menurut logika orang normal. Jadi cara berpikir anak dibatasi, anak tak boleh punya jawaban yang berbeda, anak tidak diperkenankan memiliki pilihan lain.

Selain itu dalam pembelajaran konvergen, guru menerapkan cara mengajar dengan satu arah. Guru menjadikan anak didik sebagai objek yang harus siap menampung apa pun yang disampaikan guru. Apa pun pelajarannya metodenya ceramah. Guru terpaku kepada metode menerangkan, mendikte, atau menulis di papan tulis. Jadi pelajaran disampaikan secara abstrak (tidak jelas) kepada anak-anak didik. Pelajaran sekolah membuat sesuatu yang nyata menjadi fiksi, seharusnya pelajaran sekolah membuat sesuatu yang fiksi menjadi nyata.

Padahal, untuk anak usia sekolah, pembelajaran dengan cara melibatkan kelima panca indra atau praktik secara nyata akan lebih mudah diserap anak. Misalnya: Saat guru memberikan pelajaran tentang bahaya tentu akan lebih mudah bila mengajar disertai alat peraga. Misalnya , ketika Anda menerangkan tanah longsor gunakan pasir atau gundukan tanah, sirami gundukan tanah tersebut, anggap saja gundukan tanah tersebut adalah gunung. Ini memudahkan anak-anak didik memahami tanah longsor atau erosi.

Pembelajaran konvergen membuat anak didik jadi malas atau cepat jenuh. Ini terjadi karena suasana yang terbentuk tak menyenangkan bagi anak. Dan juga waktu anak untuk bertanya sangat kurang, atau sama sekali tidak ada. Selain itu, anak harus harus selalu mengacu pada satu jawaban yang dibenarkan guru. Tak mengherankan bila banyak anak didik sangat ketakutan bila ditanya guru mengenai segala hal, apalagi jika pertanyaannya tentang pelajaran yang baru saja diajarkan di depan kelas.

Anak pun bisa jadi stress karena pembelajaran konvergen hanya menjejali otak belahan kiri saja. Jadi anak hanya diajak berpikir linier, logis, analitis, belajar menghafal, tidak diajak berpikir divergen atau dengan 1001 kemungkinan jawaban. Tak heran anak menjadi orang yang cepat marah, lantaran stress. Metode belajar konvergen juga tidak mengajarkan anak tentang, empati, kemampuan bersosialisasi, ataupun kebersamaan. Cara berpikir konvergen akan membuat orang-orang cenderung kaku. Nah Anda tidak menginginkan buah hati tercinta menjadi seperti itu kan?