Categories
Anak Uncategorized

Bagaimana Cara Mengajak Anak Belajar Mengelola Keuangan Sendiri

Tahukah Anda bahwa sejatinya anak adalah seorang peniru yang ulung. Mereka akan tumbuh berkembang mengikuti lingkungan sekitar. Inilah mengapa seorang anak menjadi tunas harapan yang harus Anda jaga sebaik mungkin.

Karena itulah Anda sebagai orang tua yang baik harus mengajarkan hal-hal yang baik pada anak agar anak mengikutinya. Anda bisa mulai memberi contoh yang baik dalam hal keuangan. Ini bisa menjadi akar dari rasa senangnya menabung dan mengelola uang. Jika anak sudah terbiasa mengelola uang, maka tidak ada kata pemborosan lagi di masa depannya nanti.

Meskipun begitu, mengajarkan anak dalam mengelola uang bukan hal yang mudah, namun tidak ada salahnya Anda mulai mencobanya. Mereka harus mengerti bagaimana sulitnya mencari uang.  Jangan sampai anak menjadi seorang yang kurang menghargai uang, dan tidak mengerti perjuangan mendapatkan uang.

Ada beberapa cara untuk mengajarkan anak bagaimana cara mengelola keuangan, simak di bawah ini:

Sumber : blog.ruangguru.com

1. Bermain Jual Beli

Untuk mengenalkan keuangan pada anak tentu saja tidak lepas dari transaksi jual beli. Untungnya saat ini sudah banyak sekali aplikasi offline maupun online yang bisa meningkatkan kemampuan jual beli.

Anda juga bisa membuat sendiri beberapa label harga dan menempelkannya ke barang-barang di rumah lalu memberinya uang mainan untuk melakukan transaksi, ubah posisinya menjadi penjual, pembeli , dan juga kasir. Ini membuat anak merasakan semua posisi.

 

2. Menjelaskan Dari Mana Asal Uang

Saat Kita masih kecil tentu yang Kita ingat saat ditanya dari mana asal uang Kita akan menjawab uang berasal dari bank, dari ayah dan ibu, atau dari presiden. Ini terjadi karena anak kecil tidak mengerti bagaimana cara mendapatkan uang sebenarnya.

Inilah tugas Anda sebagai orang tua, memberitahunya sedikit demi sedikit dari mana asal uang tersebut. Uang  didapatkan dari bekerja, dari sini Anda bisa memberitahu pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang.

Poin pentingnya adalah mengajarkan anak untuk selalu bekerja keras jika ingin mendapatkan sesuatu. Semua hal didapat dengan bekerja bukan secara Cuma-Cuma.

 

3. Membuat Tabungan Khusus untuk Anak

Anak sebaiknya memiliki tabungan sendiri, ini bisa digunakan untuk memenuhi semua kebutuhannya. Uang tabungan yang sudah terkumpul bisa Anda ambil atau bisa juga Anda meminta anak Anda sendiri yang mengelola tabungan tersebut.

Beri kepercayaan padanya untuk bisa mengelola tabungan dengan baik. Ini juga bisa membuatnya belajar cara menabung uang yang benar dan konsisten.

 

4. Menjelaskan Bedanya Keinginan dan Kebutuhan

Anda juga harus mulai mengajari mereka cara membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan. Kebutuhan adalah hal yang benar-benar Anda butuhkan dan jika tidak segera terpenuhi akan berdampak pada kesehatan dan hal yang serius seperti air, makanan, dan tempat tinggal. Jadi sifatnya urgent harus segera terpenuhi.

Sedangkan untuk keinginan adalah hal yang tidak mendesak dan tidak selalu harus dimiliki. Jika tidak terpenuhi pun tidak akan berdampak apapun pada kehidupan Anda.

 

5. Mengajarkan Anak Menabung atau Investasi

Agar masa depan anak lebih terjamin sebaiknya ajarkan cara menabung dan juga cara melakukan investasi. Mulai sekarang lakukan kebiasaan menabung di awal jangan gunakan kata menyisihkan uang sisa untuk ditabung. Jika tidak ada uang sisa berarti tidak menabung? Ini adalah ajaran yang salah.

Gunakan cara menabung di awal, ini akan membuat anak Anda terbiasa menabung. Jangan lupa mengingatkannya untuk selalu menabung dan memberinya semangat untuk terus menabung. Agar lebih bersemangat, Anda juga bisa membelikan mainan atau barang kesukaannya dari uang tabungan tersebut sebagai reward  atau hadiah karena usahanya menabung.

 

Memberi Contoh yang Baik

Anda sebagai orang tua harus bisa menjadi contoh yang baik untuk anak. Jangan sampai anak meniru sesuatu yang buruk dari Anda.

Dengan menerapkan beberapa cara di atas semoga Anda bisa membuat anak Anda mulai mengerti dan tertarik untuk belajar mengelola keuangan pribadi.

Categories
Anak

Permainan Tradisional Anak Untuk Mengisi Waktu Luang

Manfaatkan Waktu Luang Dengan Permainan Tradisional Anak

Perkembangan zaman memang sangat pesat, terutama dalam bidang teknologi. Mulai dari kehidupan sehari-hari hingga permainan mendapatkan sentuhan teknologi yang canggih. Hal itulah yang menyebabkan permainan-permainan tradisional sudah mulai ditinggalkan. Anak-anak lebih menggemari permainan modern, seperti game console.

Sebelum permainan-permainan modern tersebut berkembang, dulunya permainan tradisional sangat digemari oleh anak-anak. Tidak hanya mengasyikan, permainan zaman dahulu juga banyak mengajarkan pentingnya proses dan nilai-nilai kebaikan. Permainan tradisional juga mengajarkan anak-anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Yuk, isi waktu luang dengan permainan tradisional yang tidak kalah seru berikut ini!

 

1. Egrang atau Jajangkungan

Egrang atau Jajangkungan adalah permainan yang membutuhkan keahlian khusus. Permainan ini menggunakan bambu berukuran kurang lebih 210 cm. Cara bermainnya cukup sederhana, para pemain harus berjalan menggunakan egrang tersebut, yaitu  dengan berdiri pada injakan bambu serta kedua tangan memegang bagian atas tongkat bambu.

 

2. Oray-Orayan

Biasanya, permainan ini dimainkan oleh laki-laki, tapi tak jarang anak perempuan juga melakukannya. Oray-Orayan biasa dimainkan oleh banyak anak agar lebih seru. Cara bermainnya cukup sederhana yaitu semua anak berderet berbaris memegang pundak teman dan membentuk barisan panjang. Namun, ada dua anak yang biasanya ditugaskan untuk menjadi pintu gerbang. Nantinya, anak-anak yang berbaris panjang tersebut berjalan melingkar seperti orang yang sambil menyanyi melewati pintu gerbang.

 

3. Kelom Batok

Kelom batok adalah permainan tradisional untuk anak yang tidak kalah menarik untuk dimainkan saat waktu luang. Permainan ini mengharuskan pemain untuk mengatur keseimbangan tubuh. Kelom atau pijatan terbuat dari tempurung kelapa yang sudah dibelah. Umumnya, tempurung kelapa yang digunakan sudah tua dan berukuran besar.Tempurung kelapa diberi lubang di bagian tengah, lalu dipasangi tali dari serat pohon pisang yang lentur dan kuat.

Cara memainkan Kelom Batok tidak jauh berbeda dengan Egrang. Hanya saja, pada permainan ini ada tali pegangan yang akan membantu si pemain untuk mengatur naik turunnya kaki. Tidak hanya menjaga keseimbangan tubuh saja, tapi semakin nyaring suara dan harmoni nada yang dihasilkan adalah cara menentukan siapa pemain terbaik.

 

4. Ketapel

Ketapel adalah salah satu permainan tradisional untuk anak yang unik dan terkenal. Permainan ini menggunakan dahan bercabang dua dan seimbang. Sampai saat ini, ketapel masih sangat dikenal, meskipun penggunannya berbeda. Mainan ini menggunakan tiga material, yaitu karet, kayu, dan kulit. Kayu untuk membuat ketapel sangat mudah untuk didapatkan sehingga permainan ini  bisa dengan mudah dibuat di rumah.

 

5. Bebentengan

Permainan tradisional selanjutnya adalah Bebentengan yang bisa dilakukan oleh anak perempuan maupun laki-laki. Bebentengan memerlukan area yang cukup luas atau tanah lapang dan membutuhkan satu benteng. Selain itu, jumlah peserta yang dibutuhkan untuk permainan ini  minimal 6 orang.

Aturan bermainnya cukup sederhana, yaitu dengan membagi anak-anak menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok berusaha menyentuh benteng lawan untuk memenangkan permainan. Namun, di saat yang bersamaan masing-masing kelompok juga harus menjaga bentengnya agar tidak tersentuh oleh lawan. Tim yang kalah dari permainan akan mendapatkan hukuman dari tim yang menang.

 

6. Meong Bangkok

Meong Bangkok adalah permainan seru yang bisa dimainkan oleh anak laki-laki ataupun perempuan. Dibutuhkan area yang cukup luas untuk memainkan Meong Bangkok karena pesertanya antara 12 hingga 20 dan berpasang-pasangan membentuk dua kelompok. Permainan ini sangat mengasyikan dan masih dilakukan di beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat.

 

7. Kobak (Logak)

Kobak atau Logak berarti lubang kecil yang dangkal. Permainan ini memerlukan perlengkapan berupa gundu dan lubang kecil yang dangkal sebagai sasarannya. Kobak biasa dimainkan oleh anak laki-laki dengan jumlah dua hingga lima orang. Tempat bermain yang dibutuhkan untuk memainkan Kobak adalah area terbuka yang cukup luas. Tidak hanya sebagai hiburan, permainan perorangan ini juga dapat membantu melatih kecermatan serta ketangkasan dalam melempar.

Itu dia beberapa permainan tradisional untuk anak yang asyik dimainkan saat waktu luang. Tidak kalah dengan game modern, permainan tradisional tidak kalah menarik untuk dimainkan lho!

Categories
Anak

6 Prinsip Laki-Laki Sejati

Anak laki-laki yang tumbuh menjadi pria dewasa terbaik adalah mereka yang matang mengemban satu peran. Mereka tidak memenuhinya karena sebuah tuntutan, namun mereka memang menginginkan peran tersebut. Laki-laki sejati adalah laki-laki pemelihara keluarganya, aktif bermasyarakat, dan peduli terhadap penderitaan orang lain.

 

Berikut ini adalah 6 prinsip laki-laki sejati

 

1. Mencari gaya hidup, komunitas, dan pasangan yang memungkinkan Anda mendapatkan keseimbangan dan kedekatan dengan Tuhan, kerukunan keluarga, dan kerja yang berkesinambungan seumur hidup

Tujuan utama eksistensi manusia adalah hidup dalam keseimbangan, antara memenuhi kewajiban terhadap dirinya sendiri dan terhadap tiga keluarganya, (keluarga inti, kerabat, dan tetangga), dan pekerjaan apa pun yang sesuai dengan bakat, keterampilan, dan peluang yang dimilikinya. Bekerja 14 jam sehari, jauh dari keluarga dan melupakan Tuhan bukanlah keseimbangan. Keseimbangan juga tidak didapatkan dari kemalasan yang memungkinkan seseorang dekat dengan keluarga, namun tak punya penghasilan tetap.

 

2. Memberi nafkah, melindungi, dan merawat orang-orang yang Anda cintai

Seorang laki-laki sesuai batas kemampuan terbaiknya, memiliki tanggung jawab suci menyediakan makanan, pakaian, tempat tinggal, keselamatan fisik, cinta tanpa pamrih, rasa hormat, dan pengasuhan langsung bagi keluarganya. Memberi nafkah, melindungi dan merawat menuntut laki-laki untuk memiliki kualitas sebagai pecinta sekaligus keatria. Ketika seseorang memiliki anak, ini adalah tanggung jawab terpentingnya di planet Bumi.

 

3. Berpartisipasi aktif dalam 3 keluarga

Tanggung jawab laki-laki terhadap masyarakat tak sebatas pada keluarga sedarahnya. Ia tidak hanya membesarkan anaknya sendiri, tetapi juga membimbing anak-anak orang lain. Jika ia tidak memiliki pasangan dan belum menjadi ayah, energi yang seharusnya ia salurkan ke keluarga pertama (keluarga inti) dapat ia arahkan ke dua keluarga selanjutnya (kerabat, dan tetangga).

 

4. Hidup selaras dengan dunia dan alam

Seorang laki-laki bertanggungjawab terhadap lingkungan tempat tinggalnya bahkan jika itu mengharuskannya menguras hartanya ia tidak boleh menghindar. Integritasnya sebagai pria tidak hanya dinilai berdasarkan caranya berelasi dengan sesama manusia, namun juga caranya berelasi dengan alam di sekitar tempat tinggalnya.

 

5. Menempatkan perempuan secara sejajar

Seorang laki-laki sejati harus menghormati perempuan. Laki-laki tidak membiarkan perempuan mengendalikannya atau pun berniat mengendalikan perempuan. Bukankah laki-laki terlahir dari rahim perempuan.

 

6. Menjadi agen perubahan sosial

Seorang laki-laki sejati harus memiliki rasa kasih sayang terhadap anggota masyarakat yang kurang mampu. Dia belum menjadi laki-laki seutuhnya, jika ia tidak peduli terhadap keadaan di sekitarnya. Kepahlawanan sesungguhnya adalah memberi pelayanan dengan sungguh-sungguh.

Categories
Anak

Cara Anak yang Sudah Menikah Membahagiakan Orang Tua

Membahagiakan orang tua merupakan kewajiban dan sekaligus cita-cita setiap anak. Orang tua telah sekian lama berjuang dari saat kita lahir hingga saat kita dewasa.

Jasa orang tua dalam membesarkan, mendidik, dan mengantarkan kita menjadi orang sukses merupakan jasa tak akan dapat tertebus oleh apa pun. Oleh karena itu, kita wajib berbakti dan membahagiakan orang tua kita.

Lalu jika kita sudah menikah, bagaimanakah cara terbaik untuk membahagiakan mereka? Berikut cara anak yang sudah menikah membahagiakan orang tua:

 

1. Sering Berkunjung

Terkadang kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga dapat menyebabkan orang tua terkesampingkan. Cobalah untuk mengingat jasa besar orang tua kepada kita. Kunjungi mereka, karena sejatinya kebahagiaan terbesar orang tua adalah saat dikunjungi oleh anak dan cucunya.

 

2. Bicara dengan Sopan

Berbicara dengan sopan kepada orang tua merupakan salah satu cara untuk membahagiakan mereka. Seandainya orang tua melakukan hal yang salah, jangan langsung membantah. Sampaikan pendapat secara santun agar tidak menyinggung perasaan mereka.

 

3. Hargai Prinsip Orang Tua

Setiap orang tua tentu memiliki prinsip hidup masing-masing.  Terkadang prinsip hidup orang tua berbeda dan tidak sejalan dengan prinsip hidup anaknya yang tumbuh dan berkembang di era yang berbeda. Jika Anda tidak setuju dengan prinsip orang tua, jangan membantah, diam dan hargai prinsip mereka.

 

4. Lakukan Kegiatan yang Meringankan Orang Tua

Saat berkunjung ke rumah orang tua, lakukan hal-hal yang dapat meringankan mereka. Anda bisa membantu menguras kamar mandi, menyiram bunga, atau memasak untuk mereka. Melihat anak-anaknya yang telah dewasa melakukan hal-hal seperti ini dapat membuat orang tua bahagia.

 

5. Berterima kasih

Berterima kasihlah kepada orang tua. Kelihatannya sepele, tetapi hal ini dapat membahagiakan orang tua. Anda bisa mengucapkan terima kasih saat mereka berulang tahun atau di hari-hari istimewa lainnya. Apalagi jika ditambah dengan Kado sebagai bentuk ucapan terima kasih.

 

6. Dengarkan Mereka

Orang tua biasanya suka sekali menceritakan tentang kejayaan mereka di kala muda atau kisah mereka bersama kawan-kawannya. Dengarkan cerita mereka dengan saksama. Nikmatilah. Seandainya mereka mengulang cerita yang sama, biarkan dan dengarkan. Menyela atau menghentikan cerita dapat melukai perasaan mereka.

 

7. Berikan Hadiah

Anda dapat memberikan hadiah untuk sedikit membalas jasa orang tua dan membahagiakan mereka. Hadiah ini dapat berupa bingkisan makanan saat Anda berkunjung ke rumah orang tua, kado saat mereka berulang tahun, atau bingkisan Parsel saat hari raya. Bingkisan seperti ini terbukti membuat orang tua bahagia karena merasa diperhatikan dan disayangi oleh anaknya.

 

8. Ajak Liburan

Mengajak berlibur merupakan cara lain untuk membahagiakan orang tua. Pilih tujuan wisata yang sekiranya mudah dijangkau oleh orang tua. Pilih objek wisata yang tidak terlalu melelahkan bagi orang tua. Ingat tujuan utama mengajak mereka berlibur adalah untuk membahagiakan mereka, bukan untuk membuat mereka lelah yang dapat berujung pada kondisi sakit.

 

9. Hubungi Mereka Setiap Hari

Hubungi orang tua setiap hari. Anda bisa berkirim SMS, bertelepon atau video call untuk menanyakan kabar mereka. Orang tua tentu sangat bangga dan merasa diperhatikan.

 

10. Jangan Pernah Berbohong pada Orang Tua

Seandainya Anda mengalami kesulitan, jangan pernah berbohong pada orang tua. Kebohongan yang dilakukan oleh anak dapat membuat mereka sakit hati jika mengetahuinya. Sebaiknya katakan dengan jujur tentang apa pun kepada orang tua.

Demikian beberapa cara agar anak yang sudah menikah membahagiakan orang tua. Semoga bermanfaat dan selamat membahagiakan orang tua.

Categories
Anak

5 Cara Melatih Keterampilan Sosial Anak Usia Dini

Keterampilan sosial adalah keterampilan yang dimiliki seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, baik itu dengan keluarganya, dengan orang yang lebih tua, atau dengan teman sebayanya.

Kenapa penting untuk menerapkan cara melatih keterampilan sosial anak usia dini, tidakkah lebih baik anak-anak dibiarkan bebas untuk bertindak sesuka hatinya untuk agar daya kreativitas dan imajinasinya bisa berkembang? Ternyata justru sebaliknya, memberikan pendidikan keterampilan sosial kepada anak sejak usia dini justru akan lebih baik bagi pembentukan karakternya karena apa yang menjadi karakternya saat kecil biasanya akan terbawa hingga ia dewasa.

Karena yang termasuk dalam keterampilan sosial adalah menunjukkan perilaku yang santun dan sopan, bisa berkomunikasi dengan orang lain dengan cara yang baik, bisa mengekspresikan dirinya dengan cara yang positif, menghormati dan menghargai orang lain dan masih banyak lagi lainnya. Bagaimana caranya agar anak punya perilaku yang baik sejak kecil? Berikut adalah beberapa tips cara melatih keterampilan sosial anak usia dini.

 

1. Tentukan tahapan perkembangan sosialnya

Cara mendidik keterampilan sosial anak harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan mental dan juga usianya. Untuk anak balita misalnya, pendekatan keterampilan sosial yang paling efektif adalah dengan menggunakan perintah-perintah langsung dan berkalimat pendek. Anak-anak usia balita belum bisa memahami penjelasan dengan kalimat yang panjang kenapa hal tertentu tidak boleh dilakukan. Anda bisa mulai berkomunikasi dengan anak menggunakan kalimat yang lebih panjang pada anak-anak dengan usia di atas 6 tahun.

Anak-anak usia 6 tahun sudah bisa mengerti mana kata-kata yang buruk, bagaimana caranya berterima kasih dan meminta maaf. Pada usia ini usaha Anda untuk mengajarkan keterampilan sosial harus disertai dengan alasan dan komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua agar anak pun bisa paham alasan dibalik Anda melarang atau menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan keterampilan sosial.

 

2. Undang teman anak ke rumah

Cara melatih keterampilan sosial anak usia dini selanjutnya adalah dengan mengundang teman anak Anda untuk datang dan main ke rumah. Mengundang anak lain untuk bermain dengan anak Anda ke rumah bisa mengajarkan anak mengenai bagaimana berbagi dengan orang, menunjukkan perilaku yang baik dan sopan, serta berempati, mengajari bagaimana caranya untuk berkompromi karena ia akan berbagi tempat, mainan, makanan, dan hal lainnya bersama dengan anak lain.

Anda juga bisa mengajari anak untuk menghormati personal space yang dimiliki oleh orang lain dan menghindari hal-hal yang bisa membuat orang lain jadi merasa kurang nyaman. Misalnya selalu bertanya dulu atau minta izin jika ingin melakukan sesuatu bersama dengan temannya, tidak memaksa teman untuk melakukan sesuatu, dan lainnya.

 

3. Latih keterampilan sosial dengan permainan

Board game adalah jenis permainan yang bisa Anda coba untuk dimainkan bersama dengan anak atau mendorong anak untuk mengajak teman lainnya untuk bermain di mana permainan ini bisa membantu mengembangkan keterampilan sosial anak terutama dalam interaksinya bersama dengan orang lain di suasana yang lebih santai.

Ketika bermain maka emosi atau perilaku yang biasa ditunjukkan orang adalah emosi yang senang ketika berhasil mendapatkan sesuatu, emosi kesal atau marah ketika kalah, anak-anak juga bisa belajar untuk bersabar, berkompetisi, bisa mematuhi peraturan yang berlaku, dan sebagainya. Permainan lain yang bisa dicoba untuk melatih kemampuan anak mendeteksi emosi yang dirasakan orang lain adalah misalnya dengan menyetelkannya film atau serial tanpa suara dan tanpa teks kemudian minta anak untuk menebak ekspresi apa yang sedang dirasakan oleh si aktor.

 

4. Biarkan anak mengalami dan mengenali emosinya sendiri

Banyak orang tua yang memberikan perlakuan kurang baik pada anak-anaknya dengan menyalahkan emosi atau perasaan yang sedang anak rasakan.

Anak-anak bisa merasa sedih, marah, kecewa, senang, bad mood tanpa alasan yang jelas, dan berbagai macam emosi lainnya baik positif maupun negatif yang seringkali perasaan-perasaan tersebut ditujukan pada orang tuanya. Izinkan anak untuk mengalami emosi-emosi tersebut karena hanya dengan begitu mereka bisa belajar untuk memahami dirinya sendiri dan nantinya akan lebih mudah memahami orang lain.

 

5. Ajari untuk melihat mata orang

Mengajari anak untuk terbiasa melihat mata orang ketika berbicara adalah hal yang penting dalam cara melatih keterampilan sosial anak usia dini. Kebiasaan memandang mata lawan bicaranya tidak hanya akan membuatnya lebih bisa memahami emosi orang lain tapi juga bisa jadi cara untuk membangun kepercayaan dirinya.

Orang yang bisa memandang mata orang lain ketika berbicara satu sama lain biasanya memiliki kepercayaan diri yang cukup baik dan bisa menimbulkan kesan yang lebih baik pada orang lain. Cara untuk melatih anak melakukan kontak mata adalah dengan selalu memandang matanya ketika Anda berbicara dengan anak, turunlah untuk memposisikan diri sejajar dengan matanya, bacakan cerita sambil sesekali menatap mata anak, lakukan permainan staring contest, dan lainnya.

Categories
Anak

Manfaat dan Peraturan Permainan Monopoli

Permainan monopoli adalah permainan yang belajar menguasai semua petak. Petak-petak itu menerangkan tanah, stasiun, bandara, perusahaan air, perusahaan listrik, pajak, kesempatan, dana umum yang letaknya tersebar di seluruh dunia.

Permainan ini memerlukan kecerdasan, ketegasan, dan ketangkasan para pemain dalam melakukan transaksi kombinasi antara menyewakan, menjual, dan membeli. Untuk menguasai “dunia” para pemain harus membeli aset sebanyak-banyaknya.

Monopoli adalah miniatur system ekonomi yang disederhanakan. Monopoli mengajarkan untuk menjadi kaya jadilah pengusaha konglomerat, kuasailah asset di mana-mana, jangan jadi buruh atau karyawan seumur hidup.

 

Peraturan Permainan Monopoli

Untuk bisa bermain monopoli, kamu harus punya papan monopoli dan peralatan lainnya. Papan monopoli dapat kamu beli di toko mainan terdekat seharga Rp 20 ribu. Monopoli dapat dimainkan 7 orang, minimal tiga orang, dua orang pemain, satu orang berperan sebagai petugas bank.

Bagikan uang kepada pemain sesuai dengan ketentuan, dan tempatkan kartu kesempatan dan dana umum pada kotak yang telah ditentukan.

Mulailah melempar dadu, dan melangkah sesuai dengan angka dadu yang didapat. Lakukan secara bergantian dengan pemain lainnya.

Untuk memainkan monopoli dibutuhkan peralatan sebagai berikut :

  • Papan permainan monopoli.
  • 5 orang pemain.
  • Miniatur orang, rumah dan hotel mini.
  • Dua buah dadu dan tempatnya
  • Kartu hak pilih untuk setiap pembelian tanah, kartu ini diberikan bagi pemain yang membeli tanah atau rumah tersebut. Di atas kartu tertera harga tanah kosong, harga sewa, harga jika dilengkapi rumah atau hotel, dan harga gadai.

 

Manfaat Permainan Monopoli

Adapun manfaat yang dapat diperoleh anak dalam permainan monopoli adalah sebagai berikut:

  1. Mengajarkan anak tentang konsep uang. Lewat permainan monopoli anak belajar memahami fungsi uang, cara menghitung uang, menghitung kembalian uang, cara berinvestasi, dan cara menghargai uang.
  2. Memberitahu anak untuk selalu mengali informasi sebelum membeli property (tanah, stasiun, atau bandara). Misalnya : berapa harga tanah, apakah lokasinya startegis, berapa harga sewa bagi orang lain, dan lain-lain.
  3. Mengajarkan anak tentang cara ber investasi. Ayah kaya Robert Kiyosaki bilang, “Habiskan gajimu belilah properti, maka uang akan mengejarmu. Tip memenangkan permainan ini adalah dengan membeli property sebanyak-banyaknya, dan kemudian kamu mendapatkan pendapatan dari uang sewa. Anak diajarkan tidak melulu jadi karyawan atau bekerja dengan orang lain.
  4. Mengasah kesabaran anak untuk menunggu giliran.
  5. Mengasah sportivitas anak untuk mengakui kemenangan orang lain.
  6. Mengajarkan anak untuk konsisten dan patuh pada peraturan permainan.
  7. Praktik nyata pelajaran matematika, dan ekonomi secara sederhana.

Karena permainan monopoli mengandung banyak manfaat, maka orang tua harus mendampingi anak-anak ketika mereka sedang bermain (jika pemainnya kurang), mengundang teman-teman anak Anda untuk main ke rumah, menyediakan cemilan untuk saat istirahat, dan menyiapkan mental anak-anak jika mengalami kekalahan. Selamat bermain dan bersenang-senang.

Categories
Anak Kesehatan

Tanda Anak Mempunyai Gejala Autis

Anak autis bukanlah anak yang harus diasingkan dengan lingkungan sosial. Sayangnya, masyarakat masih menganggap anak autis adalah anak yang memiliki sikap aneh dan harus dijauhkan dari anak mereka. Padahal anak autis sepatutnya tetap berada dekat dengan lingkungan sosial. Perlu diketahui, anak autis adalah anak yang cerdas. Memang sukar bersosialisasi. Namun bukan berarti orang lain harus mengucilkan.

Beberapa keluarga merasa takut ketika anak mereka ternyata menunjukkan gejala autis. Padahal lebih baik adalah dengan mencermati perilaku anak tersebut. Apakah memang benar-benar menunjukkan gejala yang dimaksud.

Sebenarnya orang tua tidak berhak merasa takut. Lebih baik kenali seperti apa perilaku seorang anak yang memang menderita autis. Sehingga Anda dapat mengarahkan anak menjadi lebih baik. Simaklah perilaku-perilaku yang menunjukkan gejala anak menderita autis.

 

1. Kebiasaan Tubuh Yang Tidak Wajar

Perilaku anak autis sering menunjukkan seperti ini. Saat duduk, seorang anak autis tidak dapat diam. Ada saja gerakan yang dilakukan seperti maju-mundur. Anak autis dapat dikatakan tidak dapat enak untuk duduk barang sebentar saja. Kemudian ketika berjalan, seorang anak autis akan terlihat berbeda dengan anak pada umumnya. Ada kalanya, anak autis menunjukkan kebiasaan seperti berjalan dengan berjinjit-jinjit.

 

2. Masalah Dalam Berperilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang menjadi perilaku yang juga ditunjukkan oleh seorang anak autis. Anak autis tidak dapat tidak melakukannya. Namun tidak semua anak autis seperti ini. Ada beberapa anak autis yang harus melakukan perilaku menyimpang ini.

Satu yang pasti adalah si anak tidak akan segan-segan untuk melukai tubuhnya sendiri. Entah dengan cara apa, anak autis akan melakukannya. Contoh mudah untuk mengenali perilaku menyimpang dari anak autis adalah suka membenturkan kepalanya ke dinding berkali-kali.

 

3. Sayang Dengan Benda Mati

Karena sulitnya bersosialisasi dengan lingkungan bahkan orang tuanya sendiri, maka anak autis tidak heran akan lebih dekat dan sayang dengan benda mati. Dapat berupa mainannya atau benda mati yang lain. Namun perhatikan dan jaga benda-benda kesayangannya itu. Sekalinya ada yang rusak atau hilang, maka reaksi anak autis terhadap benda yang disayangi akan berlebihan. Dapat marah besar, menangis, atau membenci orang tuanya.

 

4. Anak Lebih Menyendiri

Ada anak autis ingin selalu menyendiri. Jika demikian, orang tua perlu mengatur waktu agar anak dapat secara bertahap mengenal orang yang satu dengan orang yang lain. Anak autis memang senang ketenangan. Namun jangan sampai orang tua membuatnya menjadi anak yang anti sosial.

 

5. Beberapa Anak Senang Dengan Suara

Tidak semua anak autis menghindari suara. Ada perilaku anak autis yang senang dengan suara. Sampai suara yang berisik sekalipun. Bahkan anak autis yang senang dengan suara akan ikut membuat suara-suara tersebut.

 

6. Benci Perubahan

Anak autis juga memiliki perilaku membenci adanya perubahan. Baik perubahan mendadak maupun bertahap. Seperti ketika Anda mengubah warna cat dinding kamarnya, maka anak autis akan membenci perubahan tersebut. Lebih baik jika Anda memang melihat perilaku seperti ini pada anak, untuk tidak senang melakukan perubahan pada lingkungan sekitarnya. Sebab akan sangat mengganggu perilaku dan mental dari si anak.

Dengan Anda mengetahui perilaku seperti apa gejala autis pada anak, maka Anda dapat memastikan apakah anak Anda benar-benar mengalaminya atau tidak. Jikapun iya, maka jangan menjadikannya anak yang tersisihkan dari perhatian orang-orang di dekatnya bahkan teman-temannya. Meskipun anak autis berbeda, jangan jadikan perbedaannya terlihat secara nyata. Bagaimanapun anak adalah anak, orang tua dapat membimbing anak tetap menjadi anak yang dapat dibanggakan.

Categories
Anak

Pembelajaran Membaca Untuk Anak Usia Dini

Pengertian membaca dalam kategori sempit  adalah membaca merupakan pengenalan bacaan atau lambang tertulis, misalnya: ketepatan pemahaman kata, waktu pengenalannya, kecepatan memahami frasa dan kata, serta gerakan mata antara baris-baris kalimat.

Dalam kategori yang luas selain pengenalan lambang, pengertian membaca mencakup pengenalan unsur-unsur makna secara tepat beserta pemahaman yang sesuai dengan pengertian membaca pada kategori sempit.

 

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Membaca untuk Anak Usia Dini

Adalah prinsip pembelajaran yang menimbulkan minat baca dan kebiasaan senang membaca pada anak. Prinsip ini perlu diketahui oleh orang tua dalam membimbing anak belajar membaca. Tidak ada artinya anak bisa membaca pada usia 3-4 tahun, namun ia tidak terbiasa membaca atau kurang tertarik membaca buku berlama-lama.

Oleh karena itu, pembelajaran membaca di tingkat taman kanak-kanak harus benar-benar dilaksanakan dengan sistematis, artinya sesuai dengan kebutuhan, minat, perkembangan, dan karakteristik anak. Proses pembelajaran, alat-alat permainan (media pembelajaran) yang digunakan harus memperhatikan hal ini, dan lingkungan belajar harus diciptakan secara kondusif. Hal ini sangat penting, sebab bila anak mengalami kegagalan pada periode ini, maka hal ini akan mempengaruhi kemampuan berbahasa anak, baik keterampilan ekspresif maupun reseptif.

Ciptakan kegiatan agar anak tertarik dengan membaca buku, sehingga kegiatan ini menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak. Jika ia sudah memiliki rasa senang membaca maka akan lebih mudah untuk membimbing mereka dalam kegiatan belajar membaca yang lebih kompleks. Kegemaran membaca ini akan lebih tepat bila sudah ditanamkan sejak diri sehingga kegiatan membaca bagi anak bukan merupakan suatu beban melainkan sebuah kebutuhan.

 

Steinberg (1982) menyusun program membaca dini yang terdiri dari lima fase yaitu:

  1. Fase mengenali perkataan (pembiasaan kata).
  2. Fase mengenal pasti perkataan.
  3. Fase mengenal pasti frasa dan kalimat.
  4. Menafsirkan teks.
  5. Teknik dan bahan pengajaran.

 

 

Masih menurut Steinberg bahwa kemampuan membaca untuk anak usia dini dapat dibagi dalam empat tahap perkembangan yaitu:

 

1. Tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan

Pada tahap ini , anak mulai belajar menggunakan buku dan menyadari bahwa buku itu penting. Ia melihat, dan membalik-balikkan buku dan kadang-kadang ia membawa buku kesukaannya.

 

2. Tahap membaca gambar

Anak usia taman kanak-kanak telah dapat memandang dirinya sebagai pembaca dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna gambar, menggunakan bahasa buku walaupun tidak cocok dengan tulisannya. Anak sudah menyadari bahwa buku memiliki karakteristik khusus, seperti judul, halaman, huruf, kata dan kalimat, serta tanda baca. Anak sudah menyadari bahwa buku terdiri dari bagian depan, tengah dan bagian akhir.

 

3. Tahap pengenalan bacaan

Pada tahap ini anak usia taman kanak-kanak telah menggunakan tiga sistem bahasa, seperti fonem (bunyi huruf), semantic (arti kata), dan sintaktik (aturan kata atau kalimat) secara bersama-sama. Anak yng sudah tertarik pada bahan bacaan mulai mengingat kembali jenis cetakan hurufnya dan konteksnya (isinya). Anak mulai mengenal tanda-tanda yang ada pada benda-benda di lingkungan sekitar sekolah atau tempat tinggalnya.

 

4. Tahap membaca lancar

Pada tahap ini anak sudah dapat membaca lancar berbagai jenis buku yang berbeda dan menghubungkan buku yang ia baca dengan benda-benda di sekitar lingkungannya.

Selamat menuntun anak-anak Anda belajar untuk cinta membaca.

Penulis: Boby Prabawa

Categories
Anak Kesehatan

Apa Saja Bahaya Gadget Bagi Anak Kecil ?

Perkembangan  teknologi dan media sosial di Indonesia sudah tidak dipungkiri lagi. Terlebih dengan membanjirnya gadget, ponsel pintar dengan harga terjangkau untuk hampir semua kalangan masyarakat. Dengan alasan memberikan kasih sayang terhadap anak dijadikan salah satu alasan untuk orangtua sekarang untuk mendekatkan anaknya dengan gadget. Ada fakta baru yang telah ditemukan oleh Asosiasi dokter anak Amerika Serikat dan Kanada yang menekankan bahwa anak dalam usia 0-2 tahun seharusnya tidak diperkenalkan dengan gadget.

Faktanya dalam hal ini anak-anak di Indonesia sudah didekatkan dengan gadget bahkan telah melampaui batas satu jam perhari. Doker Anak asal Negeri Paman Sam, Cris Rowan mengatakan bahwa perlunya ada larangan penggunaan gadget untuk  anak usia dibawah 12 tahun. Dalam penelitian telah tersebut ditemukan beberapa dampak negatif yang akan timbul dalam penggunaan gadget dalam usia dibawah 12 tahun.

Berikut adalah 8 bahaya Gadget bagi anak kecil :

 

1. Pertumbuhan Otak Yang Terlalu Cepat

Stimulasi yang berasal dari gadget dinilai akan menyebabkan defisit perhatian, gangguan kognitif, kesulitan belajar,  impulsive serta kurangnya kemampuan mengendalikan diri. Usia si kecil antara 0-2 tahun adalah masa emas pertumbuhan otak dan akan terus berkembang hingga usia 21 tahun. Oleh karena itu, stimulasi lingkungan lebih tepat untuk memacu perkembangan otak ketimbang stimulasi gadget.

 

2. Hambatan Perkembangan

Dalam penggunaan gadget biasanya anak terlalu asyik dalam dunianya bersama gadgetnya. Hal tersebut sangatlah menggangu perkembangan anak. Hasilnya telah dibuktikan satu dari tiga anak yang asyik dengan gadgetnya ketika masa kecil akan mengalami dampak buruk dalam kemampuan berbahasa dan prestasi di sekolah.

 

3. Gadget Menyumbang Obesitas Anak

Si kecil yang memiliki kebebasan menggunakan gadget di kamarnya sangat dikhawatirkan karena kurangnya gerak dan akan berdampak pada peningkatan obesitas hingga 30 persen. Faktanya, obesitas pada anak mampu meningkatkan resiko stroke dan penyakit jantung sehingga menurunkan angka harapan hidup.

 

4. Gangguan Tidur

Sebuah studi menemukan fakta yang mencengangkan dimana 75 persen anak-anak usia 9 hingga 10 tahun asyik bercengkrama dengan gadgetnya hingga larut malam tanpa sepengatahuan orang tua. Tentunya dampak dari kebiasan buruk bersama gadgetnya, si kecil akan kehilangan waktu tidurnya dan akan berdampak pada prestasi di bangku sekolah.

 

5. Penyakit Mental

Dalam sejumlah penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan akan berdampak pada meningkatnya laju depresi, kecemasan, autism, gangguan bipolar, dan gangguan perilaku pada anak.

 

6. Anak Menjadi Agresif

Dalam belakangan ini banyak sekali video game berbau kekerasan yang mudah dan gratis bisa diunduh di gadget. Tentunya hal tersebut sangat menggangu perkembangan psikologi anak yang sedang tumbuh kembang dan berbahaya jika si anak menirukan adegan kekerasan tersebut saat bermain bersama teman sebayanya.

 

7. Pikun Digital

Konten yang terkandung dalam gadget biasanya memiliki kecepatan tinggi dan berbahaya dalam penurunan daya konsentrasi dan ingatan. Bagian otak akan merasa terganggu dengan kecepatan tinggi dari konten media tersebut dan akan berakibat dengan menyusutnya bagian otak.

 

8. Anak Bisa Terpancar Radiasi Gadget

Menurut penelitian lembaga kesehatan dunia ( WHO ), ponsel dikategorikan dalam resiko 2B dimana berbahaya dikarenakan radiasi yang dikeluarkan. Radiasi yang dihasilkan gadget cenderung lebih berbahaya untuk anak. Hal ini disebabkan anak lebih sensitif dari orang dewasa terhadap radiasi gadget.

Categories
Anak

Ciri-Ciri Model Ayah yang Memberikan Contoh Buruk

Ada banyak informasi tentang ayah yang buruk dan tidak layak. Ayah yang buruk digambarkan kejam, suka menyiksa, ayah yang tidak pernah hadir, ayah yang tukang mabuk dan main judi, ayah yang mementingkan diri sendiri, dan lain sebagainya.

Para ibu seringkali dituduh sebagai penyebab rusaknya pertumbuhan jiwa anak atau kelainan tingkah laku anak-anak. Namun sekarang, objek tuduhan berbalik kepada ayah.

Model ayah yang buruk memang bisa membawa pengaruh buruk terhadap anak-anak. Ketidakhadiran atau kehadiran ayah yang kejam memengaruhi masa kanak-kanak dan menghantui masa dewasa mereka.

Barangkali ayah Anda melakukan penganiayaan fisik atau tidak pernah hadir secara emosional. Barangkali dia kejam, suka mengancam, terlalu bergantung, atau sering menitipkan perasaan bersalah. Mungkin Anda bukan pria yang merupakan ayah yang buruk, namun semua pria rentan terjebak secara tidak sadar menerapkan peran sebagai ayah yang buruk.

Dalam banyak hal, mengamati model ayah yang buruk lebih mudah daripada mengamati model ayah yang baik.

Berikut adalah ciri-ciri model Ayah yang memberikan contoh buruk pada anak :

 

1. Ketidakhadiran Secara Fisik

Ketidakhadiran sosok ayah yang berkepanjangan bisa menyebabkan anak-anak mengembangkan perasaan takut diabaikan.

Sejumlah pria yang saat ini sudah menjadi ayah, menceritakan pengalaman masa kanak-kanak mereka yang tidak pernah berhubungan dengan ayah mereka karena si ayah sedang menjalani tugas militer selama Perang Dunia II atau selama Perang Korea.

Sejumlah pria lain ditinggalkan oleh ayah mereka. Beberapa anak harus berpisah dengan ayah mereka karena si ayah dipenjara atau si ayah harus tinggal di rumah rehailitasi narkoba dalam waktu yang lama.

Dengan nada pahit, Aaoron berbicara tentang pekerjaannya,”

Selama sepuluh tahun terakhir, dalam sebulan saya hanya tinggal di rumah selama satu minggu. Sisanya saya habiskan di jalan. Itu sama sekali bukan keinginan saya. Semua karyawan yang minta dipindahkan dari tugas membawa di jalan raya ke kantor telah dirumahkan. Saya tidak mau kehilangan pekerjaan. Akhirnya, saya tetap membiayai anak-anak…tetapi saya tidak mengenal mereka. Saya tidak lahir saat dia lahir, dan saya tidak hadir delapan puluh persen pada kehidupan mereka sampai detik ini.

Apa pun penyebab perpisahan tersebut, ketidakhadiran ayah menyebabkan anak laki-laki dan perempuan sama-sama kehilangan pelajaran penting yang seharusnya diperoleh pada masa kanak-kanak mereka. Ketimpangan tersebut tampaknya menjadi sangat penting saat si anak berupaya menjalin hubungan dekat sebagai orang dewasa.

Anak laki-laki, yang tidak pernah memiliki model peran pria dewasa, cenderung menjadi takut pada keintiman. Pria semacam ini ditakdirkan merasa lebih rendah daripada pasangan mereka karena mereka kurang memahami cara-cara wanita dalam berhubungan. Perasaan rendah diri dalam berhubungan menyebabkan mereka menarik diri atau bersikap agresif, supaya mereka merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri.

Anak-anak perempuan yang tidak pernah merasakan kehadiran sosok ayah, mengalami penderitaan yang berbeda. Tanpa model peran pria yang layak, mereka tidak pernah belajar bagaimana cara pria mengungkapkan perasaan.

Mereka juga tidak memahami batasan yang ditetapkan pria. Setelah dewasa, mereka sering menjalin hubungan dengan pria yang tidak layak atau tidak adil. Mereka juga berharap pasangan mereka menyesuaikan diri dengan kebiasan-kebiasaan mereka. Wanita dewasa yang tidak pernah merasakan kehadiran fisik ayah, biasanya terlalu sering mengalah saat menjalin hubungan dengan pria, namun sering marah dan memberontak secara agresif.

 

2. Ketidakhadiran Secara Emosional

Ketidakhadiran sosok ayah secara emosional lebih sering terjadi dan lebih merusak keluarga daripada ketidakhadiran secara fisik. Banyak wanita yang secara konsisten mengeluhkan ketidakhadiran suami dan mantan suami mereka. Pria-pria tersebut piawai berakting sebagai pria yang kuat dalam diam.

Para ayah yang tidak pernah mengungkapkan perasaan mereka seringkali tidak memahami perasaan mereka sendiri. Mereka menjalani kehidupan yang sepi bahkan di tengah-tengah keluarga mereka sendiri.

Hemat kata si ayah tidak bereaksi terhadap kebutuhan anak-anak akan perhatian, kasih sayang dan keterikatan. Jika si anak menuntut kepedulian sang ayah, mereka diabaikan atau dihukum. Ayah jenis ini tidak pernah sekali pun mengatakan aku cinta padamu, kepada anak-anak mereka.

 

3. Rajin Memberikan Ancaman Verbal

Ayah yang rajin memberikan ancaman verbal, bahwa si ayah akan meninggalkan rumah, bunuh diri, atau sejenisnya, atau menarik cintanya, setelah beberapa waktu akan membawa dampak yang merusak. Tindak kekerasan berupa ancaman seperti itu dalam jangka pendek bisa membuat si anak patuh, tapi dalam jangka panjang bisa merugikan.

Upaya-upaya mengontrol tingkah laku anak melalui ancaman akan membuang si anak atau membuat si anak berniat bunuh diri. Kutipan-kutipan di bawah ini diucapkan beberapa pria yang mengenang masa kana-kanaknya.

  • Jika kamu tidak berhenti bertingkahlaku buruk, saya akan mengirimu ke rumah panti asuhan.
  • Saya yang menghadirkan kamu ke dunia ini, dan saya juga bisa mengeluarkanmu dari duia ini.

Meskipun para ayah di atas tidak benar-benar melaksanakan ancaman mereka, namun hal tersebut membawa perasaan takut pada diri anak-anak yang memiliki ayah yang rajin memberikan ancaman verbal. Untuk seorang anak, ancaman dalam bentuk pengabaian benar-benar sangat menakutkan.

 

4. Penganiayaan

Penganiayaan fisik terhadap anak-anak dalam banyak hal merupakan pelanggaran berat terhadap kewenangan orang tua.

Apabila anak-anak dipukul, jiwa mereka akan terluka, dalam beberapa kasus mereka juga bisa terluka secara fisik. Itu adalah pelanggaran orang tua terhadap janji untuk melindungi anak-anak. Mendidik anak itu dengan kecerdasan bukan dengan kekerasan. Menebar terror bukanlah metode yang baik untuk membesarkan anak.

 

5. Mencari Kambing Hitam

Gambar Kambing Hitam

Banyak pria yang secara fisik siap menjadi ayah, namun secara psikologis belum cukup matang untuk berperan sebagai ayah.

Pria seperti itu seringkali menyalahkan anak-anak mereka atas kegagalan yang mereka alami. Mereka berpikir bahwa daripada menyalahkan kemampuan diri sendiri, menyalahkan anak-anak seringkali lebih mudah. Ayah seperti ini seperti aktor yang memerankan jaksa penuntut umum di sepanjang waktu.

 

6. Kebergantungan

Para ayah bisa memutarbalikkan peran ayah-anak dengan bergantung kepada anak-anaknya. Seorang ayah pemabuk seringkali harus dijaga oleh anaknya yang masih kecil. Masa kecil anak-anak seperti itu dirampas dan mereka dipaksa menjadi “orang tua” pada usia mereka yang masih belia sehingga saat tumbuh dewasa, mereka kesulitan menjalin hubungan yang membutuhkan kesetaraan.

Bentuk kebergantungan yang lain adalah anak-anak dituntut untuk menutupi kekurangan ayahnya.

Seorang ayah yang tidak pernah mampu menjadi anggota tim basket mencoba memindahkan ambisinya dengan mendorog anak laki-lakinya untuk menjadi pemain basket (contoh lainnya adalah menjadi pemain bola, pengusaha, akademisi, atau mengejar kekayaan) yang tidak pernah bisa diraihnya. Para ayah seperti ini bergantung kepada anak-anaknya untuk memenuhi harapan titipan si ayah.

Jika orang tua bergantung kepada salah seorang anaknya, si anak akan kehilangan banyak kesempatan untuk menikmati masa kanak-kanak dan untuk tumbuh melalui berbagai tahap perkembangan.

Apakah Anda pernah tersesat dalam melakukan peran sebagai ayah yang buruk?

Semoga tulisan ini mengembalikan Anda untuk kembali menjadi ayah yang baik.