Cara Menghilangkan Baby Blues

Ibu, dalam empat minggu pertama setelah persalinan, bukan satu-satunya orang yang harus menyesuaikan diri dengan kehadiran si bayi. Ayah (suami), nenek, bahkan sibayi sendiri masih mengalami masa adaptasi terhadap lingkungan baru tempat tinggalnya. Dalam masa proses adaptasi tersebut bayi terkadang suka rewel, sering menangis, berkulit kuning, terbatuk-batuk, dan sebagainya.

Inilah yang membuat ibu jenuh, galau, resah dan gelisah bercampur aduk menjadi satu di dalam hati. Ingin rasanya minta bantuan dan berbagi galau dengan suami, namun suami juga belum tahu persis apa yang harus dilakukan. Ia ikut panik melihat anaknya menangis, dan membuat si ibu baru bertambah bingung. Rasanya semua membutuhkan perhatian dan tenaga melebihi hari-hari sebelum kelahiran si bayi. Ibu menjadi kewalahan, dan belum bisa menjalani perannya dengan baik, ibu merasa bersalah , dan seribu satu perasaan yang berkecamuk di dada dan bermuara pada kesedihan yang berkepanjangan.

Lalu, apa seharusnya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut? Berikut ini adalah tips praktis mengatasi baby blues, yaitu:

Curi Waktu Untuk Beristirahat

Keresahaan sang ibu berawal dari rasa lelah, sakit, dan kondisi fisik yang belum pulih setelah menjalani proses melahirkan (baik secara normal maupun caesar). Pandai-pandailah mencuri waktu untuk beristirahat. Jika si bayi tidur, ikutlah tidur meskipun hanya sejenak, abaikan dulu urusan memasak, mencuci baju, dan pekerjaan bersih-bersih rumah. Mintalah bantuan dan pengertian suami untuk meringankan tugas ibu, agar ibu bisa beristirahat.

Bersyukur dan Melihat ke Bawah

Coba renungkan teman-teman yang sudah berumah tangga selama puluhan tahun namun belum dikaruniai anak. Ingatlah para tunawisma yang mengasuh anaknya di kolong jembatan, dan orang-orang yang tidur di emperan toko orang lain menjelang malam. Coba renungkan pula betapa sulitnya perjuangan seorang ibu yang merawat bayinya yang memiliki kelainan bawaan sejak dilahirkan. Dengan merenungkan kondisi ibu dan anak lainnya yang kurang beruntung ibu selalu punya alasan untuk bersyukur. Jika ibu bersyukur, tekanan dan kesedihan akibat baby blues akan berkurang dan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

Tingkatkan Rasa Percaya Diri

Ibu harus meningkatkan rasa percaya diri dengan cara kreatif. Bacalah buku-buku tentang cara merawat bayi, cara memandikan, dan cara mengekspresikan cinta kepada si kecil, dengan memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif 2 tahun, dan lain sebagainya. Tanamkan percaya diri pada diri sendiri bahwa ibu adalah seorang yang mampu merawat si kecil dengan baik, ibu adalah sosok yang tak tergantikan, ibu adalah orang yang paling dicintai di kecil, ibu adalah perempuan yang beruntung karena mendapat amanah berupa hadiah bayi dari Tuhan. Tidak ada yang salah dalam merawat bayi, asalkan sibayi merasa nyaman dan tetap sehat.

Bersosialisasi

Sesekali luangkan waktu untuk berinteraksi keluar rumah, ajak si kecil berjalan-jalan dengan kereta bayi, atau digendong untuk mengelilingi tempat tinggal dan menghirup udara segar di sekitar rumah, dan ibu pun bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Perasaan galau, kalut, dan lelah akan sedikit terobati jika ibu berinteraksi dan bercakap-cakap dengan orang lain. Jangan hanya mendekam di dalam kamar seharian. Dengan cara bersosialisasi, ibu akan merasa lega tak merasa tidak sendirian menjadi ibu baru yang “kerepotan”, si kecil pun senang dan bahagia bermain di luar.

Selamat menjadi ibu, dan wajah ibu adalah tempat favorit Tuhan ketika ia ingin menunjukkan cinta kepada manusia.