Blangkon, Si Ikat Kepala Khas Jawa

Siapa yang tidak kenal Blangkon? Masyarakat Jawa, khususnya laki-laki, pasti semuanya pernah mengenakan blangkon saat mengenakan pakaian adat Jawa. Blangkon merupakan topi khas adat Jawa. Jika Anda mampir ke daerah Jawa, terutama ke tempat wisata seperti keraton peninggalan kerajaan zaman dahulu, Anda pasti akan banyak menemukan laki-laki paruh baya mengenakan pakaian adat lengkap dengan blangkon di atas kepalanya. Yuk, mengenal lebih dekat si penutup kepala khas Jawa ini.

Blangkon identik dengan legenda masyarakat Jawa kuno tentang seorang tokoh yang bernama Aji Soko. Dalam kisah Aji Soko, dia berhasil melawan Dewata Cengkar, seorang penguasa tanah jawa, dengan menggelar sorban yang dapat menutupi seluruh tanah jawa. Namun, selain dari cerita rakyat ini pula, ada yang menyebutkan bahwa ikat kepala ini awalnya berasal dari kebiasaan para pedagang yang datang dari Arab. Mereka mengenakan sorban yang cukup besar dan tebal untuk menutupi kepala. Sorban tersebut diaplikasikan kembali oleh masyarakat Jawa, namun dengan ukuran yang lebih kecil dan tipis. Menurut para sesepuh, pada masa itu sebenarnya ikat kepala semacam sorban merupakan hal yang biasa dikenakan oleh para laki-laki Jawa. Namun karena adanya krisis ekonomi, kain menjadi sangat langka. Para pengguna sorban pun berpikir untuk menggunakan sedikit bagian dari kain saja untuk menutupi kepala, jadi tidak harus sebesar dan setebal sorban biasanya. Oleh karena itulah blangkon ukurannya kecil dan tipis.

Pada zaman dahulu, blangkon dibuat oleh seniman blangkon dengan peraturan atau pakem yang tinggi. Semakin tinggi aturan tersebut, semakin berkualitas blangkon yang dihasilkan. Bila blangkon tersebut semakin berkualitas dan memiliki nilai seni serta mengandung filosofi yang tinggi, maka itu semakin menunjukkan standar sosial seseorang/derajat seseorang yang mengenakannya.

Blangkon biasanya berukuran 105 cm2 dengan bahan baku berupa kain yang telah dibatik atau kain yang masih polos. Kain dilipat bolak balik dengan ukuran yang sama setelah dibasahi, ini dinamakan dengan mewiru. Mewiru dilakukan dua kali, yang pertama saat kain masih basah dan kedua saat kain sudah kering dan sudah dicongkeng. Congkeng dibuat dengan memberi lapisan dalam bagian iket berupa karton, kain keras atau kertas yang dilem dan kain hitam. Kemudian bagian-bagian tadi dijahit dan dirapikan serta ditentukan pula ukuran yang dihendaki pembuat. Setelah dirapikan dan dibersihkan, maka blangkon siap digunakan. Blangkon ada yang dibuat dengan model bendholan, yaitu model blangkon dengan tonjolan. Biasanya ini ada pada gaya Yogya, dimana pada zaman dahulu para laki-laki memiliki rambut yang panjang sehingga harus diikat dengan kuat. Berbeda dengan model trepes atau gaya Surakarta yang tidak memiliki tonjolan karena laki-laki yang mengenakannya berambut pendek.

Blangkon memiliki banyak variasi, walaupun sebenarnya fungsinya tidak jauh berbeda. Ada yang disebut dengan:

1. Kejawen (meliputi daerah Banyumas, Bagelen, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Kediri, Malang). Blangkon ini dibagi lagi menjadi. Gaya Solo, seperti adumancung, tumpangsari, kuncungan, jeplakan, tempen, solomuda, pletrekan, solobangkalan, prebawan, tutup liwet, dan sebagainya. Gaya Yogya, seperti mataraman dan iket krepyak.

2. Pasundan (meliputi daerah Cirebon dan Banten). Blangkon jenis ini memiliki banyak persamaan dengan blangkon gaya Solo. Contohnya barangbangsemplak, Sumedangan, Wirahnasari dan lain sebagainya.

Blangkon memiliki nilai seni, sopan santun, serta merupakan simbol status sosial masyarakat laki-laki Jawa. Berbagai corak yang ada pada blangkon menunjukkan adanya keragaman nilai yang ada di Jawa. Nilai-nilai tersebut sama pentingnya dan sama-sama perlu kita lestarikan agar anak cucu kita dapat mengetahuinya di kemudian hari.