Berkenalan dengan Gamelan Sunda, Yuk!

Siapa yang tidak kenal dengan Tanah Pasundan? Istilah yang sudah terkenal ini mendeskripsikan tentang daerah Tatar Sunda, yaitu daerah Jawa Barat, dengan ciri khas budayanya yang kental, orang-orangnya yang berlogat khas dan makanannya yang terkenal pedas. Selain itu, keseniannya juga memiliki ciri khas sendiri, terutama seni musik. Contohnya, seperti gamelan. Walaupun gamelan bukan hanya berada di Sunda, namun gamelan Sunda memiliki ciri khas tersendiri, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Sebenarnya, apa itu gamelan Sunda?

Sebenarnya, gamelan Sunda atau biasanya disebut gamelan degung atau degung adalah hasil kreativitas masyarakat Sunda akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Degung digunakan untuk keperluan seni masyarakat Sunda pada waktu itu. Latar belakang dan pengaruh degung ini berbeda-beda, misalnya dari masyarakat Sunda yang dengan latar belakang kerajaan, seperti Kerajaan Galuh, memiliki pengaruh tersendiri dengan kesenian degung ini, yaitu dengan corak lagunya yang menceritakan tentang kondisi sungai, seperti lagu Manintin, Sang Bango, Kintel Buluk, dan Galatik Manggut. Pada waktu itu, masyarakat yang bekerja sebagai penangkap ikan selalu bekerja diiringi dengan lagu-lagu ini.

Ada yang menganggap degung berasal dari kata ratu-agung tumenggung, karena seperti yang kita ketahui pada waktu itu degung sangat digemari oleh para pejabat pemerintahan, r.a.a Wiranatakusumah misalnya. Ada pula yang berpendapat bahwa degung berasal dari kalimat “Deg ngadeg ka nu Agung” yang artinya kita harus senantiasa menghadap (beribadah) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun intinya, degung merupakan alat musik dan musik yang dihasilkannya merupakan musik keratonan atau kadaleman yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan estetika sosial.

Terlepas dari itu semua, sebenarnya arti degung sama dengan arti gangsa di Jawa Tengah, gong di Bali atau goong di Banten, yaitu gamelan. Gamelan sendiri merupakan alat musik yang terdiri dari berbagai waditra (instrumen) yang kebanyakan dimainkan dengan cara dipukul.

Pada awalnya, degung hanya terdiri dari beberapa instrumen atau alat musik saja, yaitu bonang, cecempres (saron/panerus), jengglong (degung), dan goong. Namun atas usul seorang seniman, maka instrumennya ditambah dengan peking, kendang, dan suling. Kemudian pada 1961, kepala RRI Bandung, R.A Mulya Natakusumah menggunakan degung untuk pertunjukkan gending karesmen berjudul “Mundinglaya dikusumah”, alat musik degung ditambah lagi dengan gambang dan rebab.

Karakteristik dari gamelan Sunda atau degung ini adalah tabuhan bonangnya yang menggunakan teknik gumekan. Pola tabuhan bonang ini efeknya sama dengan piano (dalam musik-musik Barat), karena pola tabuhan bonang ini mewakili ekspresi melodi musik utama dalam pertunjukkan degung. Keterampilan dari pemain bonang jugalah yang akan menunjukkan ciri khas dari degung ini.

Gamelan Sunda sudah terkenal hingga ke mancanegara, bersama gamelan Jawa dan gamelan Bali. Masyarakat mancanegara sangat menyukai ritme dari musik yang dihasilkan oleh gamelan. Gamelan memang merupakan alat musik yang “komplit” baik instrumennya maupun nilai filosofinya. Gamelan yang harus dimainkan sesuai dengan ritmenya mewakili kehidupan manusia yang harus selaras dan satu tujuan dengan norma dan nilai-nilai. Gamelan juga mewakili hidup seorang manusia, dimana manusia memiliki napas, memiliki jantung yang berdetak, semua itu merupakan “musik” yang ritmis. Dan karena setiap gamelan memiliki karakter suara yang berbeda-beda, maka hal ini menunjukkan bahwa setiap daerah asal gamelan tersebut juga memiliki karakter yang berbeda-beda. Dalam gamelan Sunda, yang nadanya mendayu-dayu dan didominasi tiupan seruling, menunjukkan karakter masyarakat Sunda yang melankolis. Penggunaan lagu-lagu dari gamelan Sunda saat bekerja menunjukkan bahwa masyarakat Sunda gemar bekerja dan selalu bersemangat.