Ayah yang Terpisah Akibat Perceraian

Perceraian menyebabkan anak kekurangan cinta dan kepedulian dari ayah atau ibu kandung. Anak yang dibesarkan dalam keluarga harmonis diuntungkan dalam pengasuhan ayah dan ibu. Perpisahan dan perceraian dapat merugikan anak karena tidak lagi tinggal serumah dengan ayah dan ibu. Para ayah umumnya hidup terpisah dari anak-anak setelah bercerai. Ayah cenderung menghadapi berbagai kesulitan untuk tetap terlibat dengan kehidupan anak-anak mereka. Misalnya : karena alasan geografis, menikah kembali, pemenuhan pembayaran nafkah, dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan kualitas hubungan ayah dengan anaknya berkurang kualitasnya, menurun pula pengaruh baik yang dapat ditularkan sang ayah.

Apa yang dapat dilakukan ayah yang terpisah dengan anaknya tersebut karena perceraian agar tidak sirna dalam kehidupan anak-anaknya? Ayah tersebut dapat menjalin komunikasi dengan mantan istrinya sebagai partner pengasuh anak. Para ayah seharusnya berjuang untuk rutin menafkahi hidup anaknya. Penelitian menunjukkan ayah yang rutin menafkahi anak-anaknya lebih besar meluangkan waktu bersama anak-anaknya. Sebaliknya, ayah yang gagal menafkahi biaya hidup anak-anaknya akibat keterbatasan keuangan sering gagal meluangkan waktu bersama anak-anaknya.

Para ibu seringkali menggunakan masalah kealpaan memberi nafkah tersebut sebagai pembenaran untuk menghentikan pertemuan ayah dengan anaknya. Dan para ayah yang tidak sanggup menafkahi anaknya, seringkali menghindar untuk berjumpa dengan anaknya. Diam-diam anak-anak mereka menandai ketidakhadiran ayah mereka sebagai sebuah ketidakpedulian. Ayah tidak mencintai mereka seperti dulu lagi.

Para ayah sebaiknya menghindari sindrom “Ayah Disneyland” yang terus menerus menjadikan waktu bersama anak mereka sebagai sebuah kemewahan atau sebuah pesta. Anak-anak barangkali akan mendapat lebih banyak manfaat bila ayah menolongnya memasak makan malam bersama, atau membantu mencuci piring kotor, daripada mengamati si anak membayar makanannya di kasir ayam goreng KFC.

Meskipun seorang ayah tidak mempunyai banyak waktu bersama anaknya sesuai yang ia kehendaki , usahakanlah untuk tetap menjalin komunikasi lewat telepon, katakanlah sebanyak dua atau tiga kali dalam seminggu. Ayah harus tetap dekat dengan detail kehidupan anak-anaknya. Mengenal sahabat anak-anaknya, guru-gurunya, menghadiri kegiatan sekolah anak-anaknya, dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.

Para ahli psikologi menyatakan bahwa menyuruh anak-anak untuk memilih salah satu orang tua (antara ibu atau ayah) merupakan kesalahan besar. Ayah tiri atau ibu tiri juga sebaiknya menahan diri untuk berperan menggantikan orang tua kandung atau berfungsi sebagai penegak disiplin. Anak-anak akan bernasib lebih baik apabila setelah pernikahan, mereka dapat berhubungan dengan kedua orang tua kandungnya.

Nasihat yang tepat bagi ayah yang hidup terpisah dengan anak-anaknya setelah perceraian adalah agar bersikap sabar terhadap anak-anak sewaktu mereka menyesuaikan diri dengan perubahan. Dua tahun pertama setelah perceraian merupakan tahun terburuk anak-anak. Selain kepedihan yang dirasakan sang ayah dalam hubungan mereka dengan mantan istrinya, anak-anak juga memiliki perasaan negatif terhadap ayahnya.

Banyak ayah yang tergoda untuk berhenti mengunjungi anak mereka karena hal ini. Sangat perlu menolong anak untuk menyelesaikan perasaan-perasaan negatif mereka. Jadikanlah diri Anda sebagai ayah yang penuh empati, dengan menolong anak memberi label pada perasaan-perasaan mereka, dan membimbing mereka menangani amarah dan kesedihan. Katakan kepada anak-anak bahwa cinta ayah kepada mereka tidak berkurang sedikit pun walau perceraian telah memisahkan kalian berdua.