Apa Saja Unsur Pakaian Adat Pengantin Gorontalo

Kebudayaan Indonesia memang sangat beragam. Dimulai dari hal besar seperti kesenian dan kulinernya, hingga hal-hal kecil seperti busana yang dikenakan di setiap daerah, pasti memiliki keunikan tersendiri. Tidak hanya bagian Barat Indonesia saja yang harus diekspos keindahannya, bagian Timur Indonesia juga memiliki keanekaragaman budaya yang patut diacungi jempol. Salah satunya pakaian adat Gorontalo, pakaian adat yang unik. Seperti apa keunikannya?

Pakaian adat Gorontalo lebih sering terlihat pada saat acara pernikahan. Memang ada perbedaan tersendiri antara pakaian adat untuk pernikahan, untuk upacara-upacara lain dan pakaian sehari-hari. Pakaian adat untuk pernikahan terdiri dari Biliu dan Mukuta. Biliu adalah pakaian pengantin perempuan, sedangkan Mukuta adalah pakaian pengantin laki-laki. Pakaian adat Gorontalo memiliki warna pokok yaitu warna ungu, warna kuning keemasan dan warna hijau. Selain itu, dalam pernikahan masyarakat Gorontalo, ada empat warna yang menjadi elemen penting dalam pernikahan tersebut, yaitu merah, ungu, kuning emas dan hijau. Warna merah melambangkan keberanian dan tanggung jawab, warna hijau melambangkan kesuburan, kesejahteraan dan kedamaian, warna kuning emas melambangkan kesetiaan dan kejujuran, dan warna ungu melambangkan kewibawaan.

Perlengkapan pakaian adat pengantin Gorontalo terbagi atas:

Perlengkapan bagi Biliu Baya Lo Boute: Baya Lo Boute merupakan ikat kepala yang diikatkan kepada Biliu. Hal ini menggambarkan bahwa perempuan tersebut telah diikat dengan tanggung jawab sebagai seorang istri.

Tuhi-Tuhi: Tuhi-tuhi berarti gafah berjumlah sebanyak 7 buah. Tuhi-tuhi diibaratkan sebagai 2 kerajaan yang bersaudara yaitu Hulontalo dan Limutu (Gorontalo dan Limboto ) serta 5 kesatuan kerajaan yaitu Tuwawa, Limutu, Hulonthalo, Bulonga dan Atingola.

Lai-Lai: Lai-lai merupakan bulu unggas berwarna putih yang diletakkan tepat diatas ubun-ubun dan melambangkan keberanian, kesucian, dan budi yang luhur.

Buohu Wulu Wawu Dehu: Buohu Wulu Wawu Dehu merupakan aksesoris berupa kalung yang dikaitkan ke leher dan bermakna sebagai ikatan kekeluargaan.

Kecubu (Lotidu): Kecubu merupakan hiasan yang diletakkan menutupi dada sebagai tanda bahwa wanita harus kuat dalam mengalami rintangan hidup.

Etango: Etango adalah ikat pinggang, dan bermakna kesederhanaan, mengkonsumsi hal-hal yang halal dan meninggalkan yang haram.

Pateda: Pateda adalah gelang lebar yang bermakna sebagai pengekang tindakan-tindakan tercela dan tidak sesuai aturan adat.

Luobu: Luobu merupakan hiasan kuku yang hanya dikenakan pada jari manis dan jari kelingking dari kedua belah tangan kiri dan kanan. Luobu ini menggambarkan wanita harus memiliki ketelitian dalam mengerjakan sesuatu.

 

Perlengkapan bagi Mukuta

Tudung Makuta: Tudung makuta atau yang dikenal dengan nama lain laapia-bantali-sibii merupakan hiasan pada bagian kepala berbentuk bulu unggas yang letaknya menjulang keatas dan terkulai kebelakang. Hal ini menandakan bahwa kedudukan laki-laki yang tinggi harus diimbangi dengan sikapnya yang lembut seperti bulu unggas.

Bako: Bako ini sama dengan hiasan kalung yang dikenakan Biliu, tujuannya pun sama yaitu sebagai ikatan kekeluargaan.

Pasimeni: Pasimeni merupakan hiasan pada baju yang menggambarkan keluarga yang harmonis dan damai.

Pakaian adat suatu daerah mencerminkan keadaan daerah tersebut. Semakin kompleks unsur-unsur dalam pakaian adat, maka semakin beragam pula. Kekompleksan pakaian adat Gorontalo menggambarkan bahwa budaya yang dianut di sana pun bukan budaya sembarangan, namun harus tetap dijaga keutuhannya agar tetap lestari hingga kita hingga anak cucu kita dapat mengenakannya kembali dalam acara yang sama.