Alat Musik Tradisional Indonesia, Jenis, Cara Main

Alat Musik Tradisional

Berikut adalah gambar, daftar nama, bentuk, bahan, asal, cara memainkan dan jenis alat musik tradisional 34 provinsi di indonesia.

Alat Musik Tradisional Indonesia

Angklung

Bentuk: Angklung terdiri dari dua atau lebih batang bambu dalam berbagai ukuran sesuai dengan kebutuhan tinggi rendahnya nada yang dibentuk menyerupai alat musik calung.

Asal: Angklung berasal dari daerah sunda provinsi jawa barat. Alat musik diatonis yang kini terkenal di mancanegara ini, untuk pertama kali diciptakan Daeng Soetigna pada 1938 di Kabupaten Kuningan.

Jenis Alat: Angklung termasuk alat musik melodis.

Jenis Bunyi: Ideofon.

Bahan: Angklung terbuat dari bahan dasar batang bambu.

Cara Main: Alat musik tradisioanal khas sunda ini dimainkan / dibunyikan dengan cara digoyang goyangkan dan digetarkan sehingga terjadi benturan antar bambu yang menghasilkan bunyi yang berfariasi.

Fungsi / Kegunaan: Angklung sebagai music tradisional seringkali difungsikan atau digunakan dalam acara keagamaan serta pesta penyambutan kerajaan untuk menghormati / memanggil Dewi Sri agar mahu turun ke Bumi supaya tanaman padi rakyat dapat tumbuh dengan subur.

Harga Angklung: Bervariasi contoh Angklung 1 Oktaf mini Rp: 80.000 sd 1 set lengkap Rp: 10.000.000

Baca Juga:

Aramba (Arumba)

Bentuk: Bulat melingkar mirip seperti Gong.

Asal: Kabupaten Nias Provinsi Sumatra Utara.

Jenis alat: Alat musik ritmis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Tebuat dari campuran logam (tembaga, kuningan, nikel dan suasa), suasa juga disebut emas muda dengan 17 karat.

Cara main: Aramba dimaikan dengan cara dipukul dengan suatu alat lain yang biasanya terbuat dari kayu.

Fungsi / Kegunaan: Alat musik ini dipakai oleh warga setempat dalam acara kesenian daerah, seperti penikahan dan kegiatan musik pengiring saat upacara menanam dan memanen padi.

Akordeon (Accordion)

Bentuk: Mirip Piano kecil yang dapat digendong.

Asal: Provinsi Sumatra Selatan (alat musik ini hasil dari masuknya kebudayaan dari luar Indonesia, Akordeon ditemukan oleh Christian Fried L. Buschmann dari Berlin, Negara Jerman tahun 1822 dan dipatenkan pada tahun 1829 oleh Cyrill Demian).

Jenis alat: Melodis.

Jenis bunyi: Alat Musik Aerofon.

Bahan: Logam, Kain, Kulit, Kayu.

Cara main: Akordeon dimainkan dengan digendong dan mengompresi atau memperluas bagian ruang udara sambil menekan tombol atau kunci dengan jari jari tangan, menyebabkan palet terbuka, yang memungkinkan udara mengalir melintasi potongan kuningan atau baja.

Harga Akordion: Tergantung merek dan ukuran Rp 1 juta sd ratusan juta rupiah.

Bonang

Bentuk: Seperti gong tapi kecil.

Asal: dari Provinsi jawa tengah dan jawa timur.

Jenis alat: Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Logam.

Cara main: Bonang dibunyikan dengan cara dipukul dengan alat tertentu seperti stik da bagian tengah atas yang menonjol.

Fungsi / Kegunaan: Merupakan salah satu bagian dari seperangkat Gamelan Jawa, Bonang terbagi menjadi dua yaitu Bonang barung dan Bonang penerus.

Bende (Canang)

Bentuk: Berbentuk Seperti Gong kecil.

Asal: Hampir seluruh Nusantara.

Jenis alat: Alat musik ritmis.

Jenis bunyi: Ideofon.

Bahan: Campuran Logam tembaga atau perunggu.

Cara main: Dipukul dengan pemukul kayu 15 – 20 cm di bagian tengah yang menonjol.

Fungsi / Kegunaan: Dahulu digunakan untuk memberikan penanda kepada masyarakat untuk berkumpul di alun-alun terkait informasi dari penguasa, menyertai kedatangan raja atau penguasa ke daerah tersebut, atau untuk menandai diadakannya pesta rakyat.

Burdah Oku

Bentuk: Mirip rebana.

Asal: Provinsi Sumatra Selatan.

Jenis alat: Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Kulit hewan dan kayu nangka.

Cara main: Ditepuk dengan telapak tangan agar menghasilkan bunyi.

Fungsi / Kegunaan: Burdah oku dimainkan untuk mengiringi pergerakan pencak silat, digunakan di acara-acara adat lokal (pernikahan).

Calung

Sumber Video Youtube A3 Sundanésé. TV: Permainan Calung modern keren.

Bentuk: Bilah atau ruas bambu disusun berderet dan dikaitkan dengan bambu yang lebih kecil.

Asal: Sunda Provinsi Jawa Barat ada juga Calung Banyumasan di Jawa tengah.

Jenis alat: Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Bilah / Ruas Bambu.

Cara main: Cara memainkan calung dengan memukul bilah atau ruas (tabung bambu) dengan pemukul tertentu yang tersusun menurut titi laras (tangga nada).

Fungsi / Kegunaan: Pada awalnya calung ditampilkan untuk mengiringi upacara-upacara adat sunda sebagai ritual perayaan masyarakat Jawa Barat, namun dengan berkembangnya zaman calung berubah fungsi menjadi alat musik yang dimainkan untuk manghibur masyarakat bersama alat musik tradisional indonesia ataupun alat musik modern.

Harga Calung: Beragam tergantung ukuran Calung Rp 80.000 sd Rp 1 juta rupiah.

Ceng ceng

Bentuk: Bundar Tipis.

Asal: Provinsi Bali.

Jenis alat: Ritmis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Logam.

Cara main: Memadukan/ membenturkan 2 keping simbal dengan kedua tangan dan terdengar suaranya yang khas ”ceng”ceng”ceng.

Fungsi / Kegunaan: Dipakai untuk mengiringi gamelan bali pada acara keagamaan.

Dol

Bentuk: Berupa Bedug.

Asal: Provinsi Bengkulu.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Alat musik Dol terbuat dari kayu/bonggol kelapa yang diberikan lubang di bagian atas kemudian ditutup menggunakan kulit kambing/sapi.

Cara main: Cara memainkan Dol adalah dengan memukulnya menggunakan alat pemukul khusus.

Fungsi / Kegunaan: Dulunya Dol dimainkan pada acara-acara khusus saja seperti Perayaan Tabot yang dilakukan oleh masyarakat Bengkulu dari Keturunan Tabot. Seiring dengan perkembangan zaman, alat musik Dol mulai banyak dimainkan di berbagai acara tertentu.

Dogdog Lojor

Bentuk: Alat musik  Dogdog Lojor berbentuk seperti silinder memanjang dengan bagian tengahnya yang dibuat berongga. Salah satu sisinya ditutup dengan membran dari kulit kambing.

Asal: Banten Kidul.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Kayu dan kulit kambing.

Cara main: Dipukul dengan tangan.

Fungsi / Kegunaan: Dogdog lojor seringkali digunakan sebagai pengiring dalam ritual adat masyarakat setempat seperti seren taun atau ruwatan.

Degung

Bentuk: Degung merupakan seperangkat alat gamelan degung terdiri atas alat musik gong, jenglong, kendang, saron dan suling.

Asal: Bandung.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Perunggu.

Cara main: Untuk gong, jenglong, kendang, saron dimainkan dengan cara dipukul. Sementara suling dengan cara ditiup.

Fungsi / Kegunaan: Degung seringkali digunakan untuk mengiringi acara-acara adat seperti pernikahan.

Fu

Bentuk: Alat musik  Fu memiliki bentuk yang cukup unik yakni kerang yang berukuran besar.

Asal: Maluku Utara.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Aerofon.

Bahan: Kerang.

Cara main: Di tiup pada bagian lubang.

Fungsi / Kegunaan: Digunakan untuk mengiringi upacara adat atau untuk digunakan bersama alat musik  lainnya.

Guoto

Bentuk: Guoto ini berbentuk kulit bambu kering yang disisit sampai membentuk senar.

Asal: Papua Barat.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Bambu.

Cara main: Dipetik senarnya.

Fungsi / Kegunaan: Menyambut tamu, mengiringi tari, dan juga ritual adat setempat.

Genggong

Bentuk: Genggong berbentuk persegi panjang dengan bagian tengah yang diiris.

Asal: Bali.

Jenis alatAlat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiophone.

Bahan: Bambu , Pelepah Enau , Kayu , atau Logam

Cara main:  Genggong dimainkan dengan cara mendekatkan alat musik  tersebut ke rongga mulut kemudian menarik utas yang dihubungkan dengan lidah getar pada alat musik.

Fungsi / Kegunaan: Digunakan sebagai hiburan upacara adat atau untuk mengiringi tarian.

Gendang / Kendang

 Alat Musik Tradisional Indonesia Gendang (sumber gambar https://id.wikipedia.org/)

Bentuk: Tabung yang ditutup dengan kulit binatang pada kedua alasnya.

Asal: Jawa Tengah.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Kayu/tembaga.

Cara main: Dipukul dengan tangan sesuai ritmenya.

Fungsi / Kegunaan: Kendang digunakan untuk mengatur irama dan merupakan satu kesatuan dengan gamelan.

Harga Kendang: Rp 80.000 s/d 4 juta rupiah tergantung ukuran dan kualitas bahan.

Gendang Beleq

Bentuk: Bulat panjang.

Asal: Suku Sasak, Lombok.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Gendang Beleq terbuat dari pohon meranti yang dilubangi di bagian tengah serta kedua sisinya dilapisi dengan kulit kambing, sapi, atau kerbau.

Cara main: Dengan ditabuh dan dimainkan secara berkelompok.

Fungsi / Kegunaan: Gendang Beleq ini dulunya digunakan untuk mengiringi prajurit yang akan berjuang di medan perang. Namun, sekarang lebih banyak digunakan untuk hiburan dan acara kesenian.

Gondang/Gordang

Bentuk: Gondang sendiri berbentuk seperti gendang dan ukurannya juga lebih besar dan panjang dari taganing. Panjang gordang dapat berkisar 100 cm hingga 110 cm. Diameternya juga bervariasi mulai dari 23 cm hingga 27 cm.

Asal: Suku Batak Toba, Sumatera Utara.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Terbuat dari kayu yang dilapisi dengan kulit sapi atau kerbau.

Cara main: Cara memainkannya adalah dengan memukul permukaan membran menggunakan dua buah alat pemukul yang terbuat dari kayu.

Fungsi / Kegunaan: Dalam kesatuan ansambel musik Gondang berperan sebagai pembawa ritme konstan maupun ritem variable. Dalam kehidupan masyarakat Suku Batak, Gondang merupakan unsur penting dalam proses jalannya upacara,

Gondang Batak ini juga dipercaya sebagai media perantara untuk menyampaikan doa, dan pengharapan kepada Mula Jadi NaBolon. Sayangnya, seiring perkembangan zaman pengaruh kebudayaan asing mampu mengubah keberadaan musik gondang Batak ini, baik dari segi penyajian, maupun dari segi fungsinya. Sekarang ini, dengan adanya pengaruh kebudayaan asing, pandangan masyarakat suku Batak akan gondang Batak ini menjadi bervariasi dan berakibat pada perubahan penyajian gondang itu sendiri.

Gong

Alat Musik Gong (Gambar oleh Dean Moriarty Pixabay.com)

Bentuk: Bundar Besar seperti kuali.

Asal: Jawa.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Gong terbuat dari leburan logam yang dibentuk sedemikian rupa.

Cara main: Dipukul pada bagian tengahnya.

Fungsi / Kegunaan: Digunakan dalam musik  gamelan bersama alat lainnya.

Harga Gong: Rp 200 ribu sd 16 juta rupiah tergantung ukuran dan bahan.

Gambang Kromong

Bentuk: Bentuk bermacam macam. Gambang kromong (Keromong) adalah perpaduan ntara Gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan.

Asal: Betawi.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis, Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon, Kordofon, Membranofon, Aerofon.

Cara main: Dimainkan sesuai jenis alat masing masing.

Fungsi / Kegunaan: Menghibur tuan rumah dan tamu dalam sebuah acara tertentu.

Gambus

Bentuk: Gambus merupakan alat musik dengan senar yang bentuknya mirip seperti mandolin dan gitar. Bedanya, lubang pada gambus ditutup menggunakan kulit kambing atau kulit ikan pari.

Senar gambus memiliki banyak variasi, mulai dari dua senar hingga 12 senar dengan setiap senar dapat berupa senar tunggal maupun senar ganda.

Asal: Timur Tengah. Ada juga alat musik Gambus yang merupakan alat musik  tradisional yang ada di Riau.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Alat musik gambus dibuat menggunakan kayu nangka (Artocarpus heterophyllus) sebagai bahan baku utama. Gambus juga bisa dibuat dengan menggunakan kayu alternative lainnya seperti kayu akasia (Accacia mangium), kayu mahoni (Swietenia mahagoni) dan kayu pulai (Alstonia scholaris).

Cara main: Gambus dimainkan dengan cara dipetik, biasanya diiringi dengan instrumen musik lain seperti gendang sehingga dinamakan dengan orkes gambus.

Fungsi / Kegunaan: Alat musik gambus selain ditampilkan dalam orkes gambus, biasanya digunakan untuk mengiringi Tari Zapin khas Riau. Dilansir dari Lembaga Adat Melayu Riau, pemain gambus akan memainkan gambus secara solo lalu penari akan mulai menari saat lagu sampai pada aksen lirik yang kuat.

Sekarang ini alat musik Gambus juga masih sering dimainkan dan memiliki beragam fungsi seperti sebagai media hiburan, media komunikasi, media ekspresi diri, mengiringi tarian tradisional, sarana ekonomi, sarana pendidikan dan penyampaian norma, hingga menjembatani pergaulan sosial di masyarakat. Gambus juga sering dimainkan pada acara upacara adat melainkan dalam berbagai perhelatan seni dalam rangka mempertahankan tradisi serta budaya

Gamelan Jawa

Gambar Seperangkat Gamelan Jawa (sumber: wikipedia)

Bentuk: Merupakan satu kesatuan utuh ansambel musik yang diwujudkan dan dibunyikan bersama.

Asal: Pulau/Suku Jawa.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis, Melodis.

Jenis bunyi: Membranofon, Idiofon, Aerofon, Kordofon.

Bahan: Bahan Tergantung dari berbagai jenis alat musiknya.

Cara main: Alat musik gamelan dimainkan dengan berbagai cara yaitu dipukul baik dengan menggunakan alat pemukul maupun dengan telapak tangan langsung (ditabuh), ada yang dipetik, digesek, serta ditiup.

Fungsi / Kegunaan: Fungsi Gamelan secara umum adalah sebagai iring-iringan tari, iring-iringan upacara adat, pagelaran seni, iringan wayang, alat musik, iring-iringan pernikahan.

Ganda

Bentuk: Ganda berbentuk seperti gendang Jawa, namun lebih kecil dan lebih ramping.

Asal: Sulawesi Tengah.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Terbuat dari kayu yang berbentuk seperti selongsong dengan dua ujung berlubang yang ditutupi oleh kulit binatang.

Cara main: Dengan cara dipukul/ditabuh pada bagian kulitnya.

Fungsi / Kegunaan: Ganda digunakan dalam setiap upacara adat dan juga pengiring tarian khas Sulawesi Tengah.

Garantung

Bentuk: Garantung ini berbentuk bilah kayu yang digantung.

Asal: Batak Toba, Sumatera Utara.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Kayu.

Cara main: Dimainkan dengan cara mamalu (memukul 5 bilah nada). Alat musik ini dimainkan dengan menggunakan dua buah stik untuk tangan kiri dan tangan kanan.

Fungsi / Kegunaan: Fungsi garantung dalam ansambel uning-uningan batak toba adalah sebagai pembawa melodi.

Gender

Bentuk: Alat musik Gender berbentuk menyerupai gangsa pada gamelan Bali serta slenthem yang terdapat pada gamelan Jawa. Gender memiliki 10 hingga 14 bilah logam (kuningan) bernada yang digantung pada berkas, diatas resonator dari bambu atau seng.

Asal: Jawa Tengah.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Logam (Kuningan) .

Cara main: Gender dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pukul yg terbuat dari kayu dan ujungnya diberi benda empuk.

Fungsi / Kegunaan: Termasuk dalam instrument gamelan dan digunakan untuk mengiringi tarian.

Gula Gending

Bentuk: Berbentuk seperti kotak-kotak dengan penutup.

Asal: Nusa Tenggara Barat.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Alat musik ini terbuat dari bahan aluminium seng dan tekstil..

Cara main: Dipukul dengan meng gunakan jari tangan pada bagian sisi luar dari kotak-kotak nada yang menyatu dengan tempat gula. Instrumen Gula Gending akan digendong, lalu kotak dipukul menggunakan jari kanan dan kiri menyesuaikan irama gending atau lagu yang dimainkan.

Fungsi / Kegunaan: Dulunya, alat musik Gula gending ini sering dimainkan oleh pedagang saat  berkeliling kampung untuk menjajakan gula kapas dengan tujuan untuk menarik minat para pembelinya. Jenis gending yang dimainkan biasanya seputar Buah Odaq, Tempong Gunung, dan sebagainya.  Alat ini dulunya juga digunakan untuk menjajakan gula kapas (arum manis) yang terbuat dari gula pasir, sehingga alat ini dinamakan gula gending.

Japen

Bentuk: Bentuknya menyerupai kecapi, gitar, atau mandolin.

Asal: Kalimantan Tengah.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Japen terbuat dari karet atau bisa juga plastik

Cara main: Japen dimainkan dengan cara dipetik.

Fungsi / Kegunaan: Japen berfungsi untuk mengatur irama dan mengiringi lagu daerah.

Jimbe

Bentuk: Badan Djembe umumnya terbuat dari kayu yang dipahat menggunakan mesin atau secara tradisional menggunakan pahat tangan dengan bentuk menyerupai cawan atau piala. Bagian atasnya kemudian ditutup menggunakan kulit lembu.

Asal: Djimbe sebenarnya berasal dari Afrika. Namun ada juga di Papua dan dipanggil dengan nama Jimbe.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Kayu, Kulit.

Cara main: Dimainkan dengan cara memukul menggunakan jari atau telapak tangan.

Fungsi / Kegunaan: Dulunya Jimbe di gunakan untuk peringatan akan perang dan perayaan seusai perang. Namun, pada jaman kini Jimbe digunakan sebagai alat musik untuk menyambut tamu dan untuk acara pernikahan.

Keso

Bentuk: Keso-keso adalah alat musik sejenis rebab dengan dua dawai. Alat musik ini berbentuk menyerupai jantung pisang yang dibelah dua yang dilengkapi dengan tongkat untuk menggesek.

Asal: Sulawesi Selatan.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Keso terbuat dari bahan kayu pilihan yaitu; kayu cempaka, kayu nangka dan kayu jati putih. Selaputnya bisa menggunakan kulit kambing betina. Sementara itu, senar atau dawainya terbuat dari kawat.

Cara main: Cara memainkannya adalah dengan cara digesek (yang digesek adalah dawai yang terdapat pada alat musiknya dengan dawai pada alat penggesek).

Fungsi / Kegunaan: Fungsi dari alat musik tradisional keso-keso Sebagai pelengkap upacara, upacara keagamaan, penyambutan tamu, dan kegiatan adat Sulawesi Selatan.

Karinding

Bentuk: Karinding memiliki bentuk memanjang, dengan panjang sekitar 15 sampai 20 sentimeter, dan lebar sekira 1 hingga 2 sentimeter. Ada 4 bagian dalam karinding yang dinamakan ‘paneunggeul (bagian yang dipukul), dua buntut lisa (bagian yang bergetar), pembatas lidah getar (bandul tengah) dan panyekel (bagian ujung karinding).

Asal: Alat musik tradisional Sunda dari Jawa Barat dan Banten.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan:  Pelepah Aren atau Bambu.

Cara main: Cara memainkannya disentil oleh ujung telunjuk sambil ditempel di bibir.

Fungsi / Kegunaan: Alat musik tersebut diciptakan oleh leluhur petani Sunda. Selain untuk bermain musik, bunyi alat ini dipercaya dapat mengusir hama dan binatang perusak tanaman.

Kolintang

Bentuk: Alat musik yang terdiri dari barisan gong kecil yang diletakkan mendatar.

Asal: Minahasa, Sulawesi Utara.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Kayu. Kolintang terdiri dari beberapa potongan kayu yang ringan (kayu bandaran, kayu kakinik, dan kayu telur).

Cara main: Cara memainkan alat musik ini adalah dengan cara dipukul.

Fungsi / Kegunaan: Fungsinya untuk mengiringi ragam lagu daerah, populer, rohani, dan lagu lainnya dengan irama dan nada yang beraneka ragam.

Harga Kolintang: Rp 2 s/d 5 juta rupiah.

Kacapi/Kecapi

Alat Musik Tradisional Indonesia Kacapi

Bentuk: Kacapi tidak hanya memiliki satu bentuk saja, ada 2 jenis bentuk kecapi yaitu kecapi perahu dan kecapi siter. Kacapi parahu bentuknya mirip seperti perahu pada umumnya.

Asal: Jawa Barat.

Jenis alat: Alat Musik Harmonis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Kacapi terbuat dari Kayu Kenanga. Sementara, senarnya terbuat dari bahan tembaga, logam, dan adanya campuran emas.

Cara main: Alat musik kecapi ini dimainkan dengan cara dipetik dengan jari-jari tangan di bagian senanya.

Fungsi / Kegunaan: Alat musik petik kacapi pada umumnya memiliki fungsi atau peran sebagai pengiring musik atau juga dapat digunakan sebagai iringan musik tradisional di daerah Jawa Barat seperti sebelumnya.

Kenong

Bentuk: Kenong merupakan unsur instrumen pencon gamelan yang paling gemuk, dibandingkan dengan kempul dan gong yang walaupun besar namun berbentuk pipih. Kenong ini disusun pada pangkon berupa kayu keras yang dialasi dengan tali, sehingga pada saat dipukul kenong tidak akan bergoyang ke samping. Termasuk salah satu instrumen gamelan.

Asal: Jawa Tengah.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Terbuat dari besi,kuningan dan perunggu.

Cara main: Kenong biasanya dimainkan dengan dipukul oleh satu alat pemukul.

Fungsi / Kegunaan: Kenong berfungsi sebagai penentu batas-batas gatra, menegaskan irama.

Kenong Basemah

Bentuk: Kenong Basemah memiliki bentuk yang bagian tengahnya terdapat lingkaran yang menonjol sebagai tempat yang akan dipukul. Sementara, alat pukul yang digunakan menyerupai kayu dengan ujung yang dililitkan kain. Sehingga ketika dipukul, kenong basemah akan menghasilkan suara yang indah tanpa merusak fisiknya. Umumnya 1 set terdiri dari 10 buah.

Asal: Sumatera Selatan.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Kenong Basemah terbuat dari tembaga.

Cara main: Dimainkan dengan cara dipukul dengan pemukul khusus pada bagian atas, sehingga akan memunculkan bunyi yang mengiang.

Fungsi / Kegunaan: Kenong basemah mempunyai kegunaan untuk penegas nada tertentu seperti contoh menekankan pada saat lirik lagu yang mempunyai makna yang dalam.

Ladolado / Lado Lado

Bentuk: Lado-lado terbuat dari kayu yang dibentuk seperti gitar dan sangat mirip dengan gambus. Lado-lado dilengkapi dengan empat buah dawai atau senar yang diikatkan ke kayu berbentuk oval di bagian bawah ladolado.

Asal: Sulawesi Tenggara.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Terbuat dari kayu/bilah bambu yang dibentuk seperti gitar dan sangat mirip dengan gambus.

Cara main: Cara memainkan Lado-lado adalah dengan dipetik.

Fungsi / Kegunaan: Ladolado digunakan untuk mengiringi upacara adat dan berbagai hiburan oleh masyarakat Sulawesi Tenggara.

Mandolin

Bentuk: Mandolin adalah alat musik petik yang bentuknya seperti gitar dan memiliki senar tetapi bagian resonatornya sedikit lebih membulat atau “gendut” .

Asal: Mandolin berasal dari Italia. Meskipun begitu, Mandolin seringkali digunakan dalam pertunjukan musik  di Timur Tengah. Mandolin juga menjadi salah satu alat musik  tradisional daerah Bali.

Jenis alat: Alat Musik Harmonis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Mandolin terbuat dari kayu dan senar khusus.

Cara main: Cara memainkannya adalah dengan cara di gesek menggunakan tangan kanan dan tangan kiri untuk menekan panggulnya.

Fungsi / Kegunaan: Mandolin sering di pakai untuk mengiringi tari rudat dan lagu-lagu tradisional. Alat musik ini dapat dipadukan dengan alat musik lainnya untuk mengiringi lagu tradisional.

Harga Mandolin: Rp 1 – 3 juta rupiah.

Nafiri

Bentuk: Nafiri memiliki badan yang panjang dengan ujung mulutnya yang mengembang hampir mirip terompet.

Asal: Riau, Sumatera.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Aerofon.

Bahan: Terbuat dari kayu yang berukuran 25 sampai 45 centimeter. Antara batang dengan dan tempat tiupnya diberi batas yang terbuat dari tempurung kelapa. Nafiri menggunakan semacam lidah yang terbelah dua terbuat dari daun kelapa yang muda atau ruas bambu yang sudah kering.

Cara main: Cara memainkan alat musik  nafiri ini adalah dengan ditiup.

Fungsi / Kegunaan: Selain sebagai alat musik, nafiri juga digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat melayu. Terutama untuk memberitahukan tentang adanya bencana, dan berita tentang kematian.

Rebab

Bentuk: Rebab punya bentuk yang kecil dengan badan bulat. Bentuk alat musik satu ini mirip busur panah.

Asal: Rebab sebenarnya berasal dari daerah Timur Tengah. Namun, saat ini Rebab juga menjadi salah satu musik tradisional khas Jawa Barat.

Jenis alat: Alat Musik Tradisional Melodis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Dari kayu khusus seperti kayu sena, kayu nangka, kayu tembusu, dan kayu belimbing.

Cara main: Alat musik ini dimainkan dengan cara digesek.

Fungsi / Kegunaan: Kedudukan rebab mempunyai peran penting sebagai pembawa melodi yang berkaitan dengan fungsi dan kedudukan rebab dalam mengiringi sajian karawitan Sunda, baik secara konsep Sekar, Gending, maupun Sekar Gending.

Harga Rebab: Rp 500 ribu s/d Rp 2 Juta.

Rebana

Bentuk: Rebana memiliki bentuk seperti gendang bundar dan pipih yang merupakan khas suku melayu. Bingkai berbentuk lingkaran terbuat dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing.

Asal: Berasal dari Daerah Timur Tengah. Di Indonesia sendiri, Rebana menjadi salah satu alat musik tradisional di Aceh.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Kayu dan kulit kambing.

Cara main: Alat musik rebana dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan, biasanya orang mengambil sikap duduk atau berdiri saat memainkan instrumen ini, kemudian memegangnya dengan menggunakan tangan kiri, kemudian memukulnya menggunakan tangan kanan.

Fungsi / Kegunaan: Di zaman sekarang ini kesenian musik rebana ini senantiasa digunakan untuk mengiringi acara khitanan, pernikahan, syukuran, halal bi halal, dan peringatan-peringatan Islam seperti Maulid Nabi, Isro‟ Mi’roj Nabi, dan hari besar Islam lainnya.

Harga Rebana: Rp 50.000 s/d Rp: 100.000 , 1 set sd Rp 3.000.000

Rebana Burdah

Bentuk: Merupakan gendang berukuran besar yang dibuat dari kulit hewan dan kayu nangka. Jika dibandingkan dengan rebana, ukuran burdah lebih besar.

Asal: Suku Sasak, Lombok.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Seng/Bambu dan kulit lembu.

Cara main: Cara memainkan burdah sama saja seperti memainkan gendang pada umumnya yaitu dengan menepuk bagian kulit gendang menggunakan telapak tangan.

Fungsi / Kegunaan: Burdah sering dimainkan dalam acara-acara adat seperti upacara pernikahan, latihan pencak silat, atau saat ada upacara adat sebagai alat musik ritmis.

Rindik Bali

Bentuk: Bentuk alat musik Rindik yakni potongan-potongan bambu yang berjumlah 11 hingga 13 buah ditata dengan rapi dan terdapat celah di antara potongan-potongan tersebut. Setiap potongan bambu memiliki ukuran yang berbeda dengan nada tangga nada yang berbeda pula.

Asal: Bali.

Jenis alat: Alat Musik Harmonis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Dari potongan-potongan bambu.

Cara main: Cara memainkan alat musik Rindik ini dengan cara dipukul. Kedua tangan memegang masing-masing satu pemukul dengan tugas yang berbeda. Tangan kanan memainkan kotekan dan tangan kiri memainkan melodi.

Fungsi / Kegunaan: Pada awalnya rindik hanya digunakan sebagai alat musik untuk menghibur para petani di sawah dan juga untuk hiburan rakyat ‘Joged Bumbung’. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Rindik mulai digunakan untuk bermacam keperluan mulai dari musik pelengkap di berbagai acara atau pesta pernikahan, bersantai sambil menikmati alunan nadanya yang khas, hingga digunakan sebagai musik penyambut tamu negara yang berkunjung ke pulau Bali.

Harga Rindik: Rp 50.000 s/d 1 juta rupiah.

Saron

Bentuk: Saron berbentuk bilah yang dijejerkan dan memiliki ukuran fisik yang lebih kecil jika dibandingkan dengan Demung.

Asal: Jawa Tengah.

Jenis alat: Alat Musik Tradisional Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Bahan logam perunggu.

Cara main: Memainkan alat musik Saron, tangan kanan memukul lembaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pemukulan nada sebelumnya.

Fungsi / Kegunaan: Saron termasuk sebagai salah satu instrumen gamelan yang diklasifikasikan di keluarga balungan. Dan digunakan bersama-sama membentuk satu kesatuan ansambel musik yang utuh.

Seruling/Suling

Bentuk: Bentuknya bulat panjang seperti pipa, pada kedua ujungnya satu tertutup oleh ruas bambu dan satu ujungnya lagi dipotong sehingga terbuka untuk keluarnya udara.

Asal: Jawa.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Aerofon.

Bahan: Bambu.

Cara main: Ditiup.

Fungsi / Kegunaan: Dimainkan sebagai pengiring instrumen musik lainnya dalam pementasan acara musik. Selain itu, Seruling juga bisa digunakan sebagai instrumen solo guna mengiringi nyanyian baik dengan suara yang rendah hingga suara tinggi.

Harga Seruling: Rp 8 ribu sd Rp 200 ribu tergantung ukuran dan bahan serta merek.

Saluang

Bentuk: Bentuknya mirip dengan Seruling namun memiliki ukuran yang lumayan panjang sekitar lebih dari 30 cm.

Asal: Minangkabau, Sumatera Barat.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Aerofon.

Bahan: Bambu.

Cara main: Ditiup.

Fungsi / Kegunaan: Untuk pengiring dendang (nyanyian), umumnya didendangkan oleh beberapa wanita.

Sasando

Bentuk: Bentuk Sasando cukup sederhana :  bagian utamanya berbentuk tabung panjang dari bambu, bagian tengah melingkar dari atas ke bawah diberi penyangga (senda-bahasa rote) dimana dawai-dawai atau senar yang direntangkan di tabung bambu dari atas bertumpu ke bawah.

Asal: Pulau Rote,  Nusa Tenggara Timur.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Daun lontar, kayu jati, senar dan bambu.

Cara main: Dipetik dawainya menggunakan kedua tangan.

Fungsi / Kegunaan: sebagai alat musik pengiring tari, menghibur keluarga yang sedang berduka, menghibur keluarga yang sedang mengadakan pesta dan sebagai hiburan pribadi.

Harga Sasando: Rp 1.000.000 s/d Rp: 8.000.000

Satong Srek

Bentuk: Berupa bambu yang salah satu bagiannya diberi penampang berupa lempengan seng yang dibuat tajam dan kasar permukaannya.

Asal: Nusa Tenggara Barat.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Bambu dan seng.

Cara main:  Digesek atau dipukul pada lempengan sengnya.

Fungsi / Kegunaan: Sebagai alat musik tambahan dalam suatu bentuk orkestra kesenian tradisional dan dapat pula dimainkan secara individual. Alat musik ini biasanya untuk mengiringi tarian nguri, syier male, badede, bulan kasandung, dan ngumang rame.

Serune kale

Bentuk: Sedikit menyerupai terompet tetapi lebih kecil. Lebih tepatnya, ia memiliki bentuk memanjang (lurus) dengan bagian depan bulat setengah lingkaran seperti corong.

Asal: Aceh.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Aerofon.

Bahan: kayu, kuningan dan tembaga.

Cara main: Ditiup dan memainkan lubangnya dengan jari.

Fungsi / Kegunaan: mengiringi pertunjukkan musik serta tarian tradisional dan biasa digunakan pula dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Serunai

Bentuk: Seperti alat musik  tiup mini dengan ujung mengembang.

Asal: Minang kabau.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Aerofon.

Bahan: Batang padi, kayu atau bambu, tanduk kerbau atau daun kelapa.

Cara main: Ditiup.

Fungsi / Kegunaan: Serunai biasanya dimainkan dalam acara-acara adat yang ramai. Seperti upacara perkawinan, penghulu (batagak pangulu dalam bahasa Minang), dan lain sebagainya.

Sampek / Sampe

Bentuk: Seperti gitar kecil yang menyerupai perahu dan mempunyai bagian-bagian tertentu dan dihiasi ukiran yang menggambarkan taring-taring dan kepala burung enggang.

Asal: Suku Dayak, Kalimantan Timur.

Jenis alat: Alat Musik Harmonis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Kayu pilihan seperti Kayu Pelantan, Kayu Adau, Kayu Marang dan Kayu Tabalok.

Cara main: Sampe dimainkan dengan cara di petik, masing-masing jari pada kedua tangan memetik dawai-dawai sampe agar menghasilkan nada, bunyi dawai yang dihasilkan merupakan nada dasar.

Fungsi / Kegunaan: Digunakan untuk mengiringi berbagai acara adat seperti tarian adat dan kesenian adat lainnya. Serta  digunakan pula untuk menyatakan perasaan, baik perasaan riang gembira, rasa sayang, kerinduan, bahkan rasa duka nestapa.

Sasak

Bentuk: Alat musik  sasak adalah alat musik  yang berasal dari Suku Sasak. Di antaranya adalah : Genggong, Rebana Burdah, Gambus, Mandolin, Preret, Barong Tengkok, Gendang Beleq, dan Cilokak.

Asal: Suku Sasak Lombok.

Jenis alat: Sesuai dengan jenisnya masing-masing.

Jenis bunyi: Sesuai dengan alatnya masing-masing.

Bahan: Bahan pembuatnya sesuai dengan alatnya masing-masing. Ada yang berasal dari kayu dan ditutup kulit lembu. Ada juga yang berasa dari perunggu/kuningan.

Cara main: Cara memainkannya disesuaikan dengan Jenis alatnya masing-masing. Ada yang dipukul digesek atau ditabuh.

Fungsi / Kegunaan: Biasanya digunakan untuk mengiringi berbagai perayaan atau upacara adat yang ada di daerah Suku Sasak Lombok.

Semprong

Bentuk: Alat musik Suku Sasak ini terbuat dari bambu yang dibentuk menyerupai terompet.

Asal: Suku Sasak.

Jenis alat: Alat Musik Melodis

Jenis bunyi: Aerofon

Bahan: Bambu Betung.

Cara main: Cara memainkan alat musik Semprong ini adalah dengan meniupnya

Fungsi / Kegunaan: Dulunya alat musik Semprong sering digunakan untuk berbagai kegiatan adat di Suku Sasak.  Sayangnya, sekarang ini keberadaan Semprong sudah hampir punah sehingga jarang ditemui.

Siter

Bentuk: Kayu berbentuk kotak berongga dan berdawai.

Asal: Jawa Tengah.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Kayu.

Cara main: Dipetik dengan menggunakan ibu jari, dan sedangkan jari yang lainnya dapat menahan getaran yang akan dihasilkan dari petikan senar sebelumnya.

Fungsi / Kegunaan: Untuk mengiringi sebuah tarian atau pertunjukan.

Harga Siter: Rp 500 ribu s/d Rp 2 juta rupiah.

Slober

Bentuk: Ukuran slober panjang 1 jengkal dan lebar nya 3 cm. Alat musik ini merupakan alat musik sederhana namun memiliki keunikan. Amaq Asih alias Amaq Slober disinyalir sebagai seorang yang menciptakan alat musik ini

Asal: Suku Sasak, Lombok.

Jenis alat: Alat Musik Melodis

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Pelepah daun enau.

Cara main: Cara memainkannya disentil oleh ujung telunjuk sambil ditempel di bibir.

Fungsi / Kegunaan: Dulunya sering dimainkan oleh warga untuk mengisi waktu luang saat sedang tidak bekerja.

Tarawangsa

Bentuk: Bentuknya menyerupai kecapi.

Asal: Jawa Barat.

Jenis alat: Alat Musik Harmonis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Terbuat dari kayu kenanga, jengkol, dadap, dan kemiri.

Cara main: Digesek seperti memainkan kecapi/biola.

Fungsi / Kegunaan: Dimainkan untuk berbagai hal yang berkaitan dengan upacara padi, yakni menjelang dan setelah panen. Bertujuan untuk menghibur petani juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah.

Tifa

Bentuk: Menyerupai kendang yang dilubangi bagian tengahnya.

Asal: Papua & Maluku.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofon.

Bahan: Kayu.

Cara main: Dipukul atau ditepuk.

Fungsi / Kegunaan: Untuk mengiringi berbagai acara penyambutan di Papua, pesta adat, hingga tari-tarian khas, seperti Perang, Asmat, Gatsi, dan tari tradisional lainnya. Juga untuk menghasilkan bunyi pendukung dari alat musik yang lain sehingga suaranya lebih indah.

Talempong

Bentuk: Berbentuk lingkaran dengan diameter 15 sampai 17,5 centimeter, pada bagian bawahnya berlubang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul.

Asal: Minangkabau, Sumatera Barat.

Jenis alat: Alat Musik Melodis.

Jenis bunyi: Idiofon.

Bahan: Campuran logam yaitu: tembaga atau cuprum) CU), timah putih atau selinikum (Sn), dan seng atau Zinkum (Zn).

Cara main: dipukul menggunakan alat pemukul berupa kayu kecil (stik) .

Fungsi / Kegunaan: Untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring yang khas, Tari Pasambahan, Tari Alang Suntiang Pangulu dan Tari Gelombang.

Tanjidor

Bentuk: Berbentuk ansambel musik yang terdiri atas berbagai alat musik, seperti klarinet, piston, trombon, saksofon tenor dan saksofon bas yang merupakan alat musik tiup, drum (membranofon), simbal (perkusi) serta side drums (tambur).

Asal: Betawi.

Jenis alat: Ritmis, Melodis.

Jenis bunyi: Aerophone, Membranophone.

Bahan: Sesuai Jenis Alat Musiknya.

Cara main: Sesuai dengan Jenis alatnya. Ada yang ditiup dan ada pula yang dipukul.

Fungsi / Kegunaan: Digunakan dalam musik jalanan tradisional, pesta cap go meh di kalangan Cina-Betawi, mengantar pengantin atau juga dalam acara pawai daerah,

Tehyan

Bentuk: Panjang dengan bagian bawah agak melebar.

Asal: Betawi.

Jenis alat: Alat Musik Harmonis.

Jenis bunyi: Kordofon.

Bahan: Kayu Jati dan Batok Kelapa.

Cara main: Digesek seperti memainkan biola.

Fungsi / Kegunaan: Untuk meng iringi pesta pernikahan, perayaan, dan pemakaman.

Tuma

Bentuk: Berbentuk seperti Gendang Panjang.

Asal: Kalimantan Barat.

Jenis alat: Alat Musik Ritmis.

Jenis bunyi: Membranofone.

Bahan: Kayu dengan diameter 25 cm dan panjang 1 meter dan di lapisi dengan kulit lembu.

Cara main: Ditepuk dengan menggunakan telapak tangan.

Fungsi / Kegunaan: Pengiring upacara ritual dan tari daerah.

Itulah kumpulan lengkap alat music tradisional Nusantara Indonesia dari sabang sampai merauke. Diharapkan kita sebagai generasi penerus ikut melestarikan warisan budaya nenek moyang agar generasi kedepan tidak lupa akan asal usul kebudayaan di masa lalu.

alat musik asli adat tradisional indonesia nusantara, dilut.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *