6 Jenis Instrumen Investasi yang Paling Sering Digunakan

Home » 6 Jenis Instrumen Investasi yang Paling Sering Digunakan

6 Jenis Instrumen Investasi yang Paling Sering Digunakan

6 Jenis Instrumen Investasi yang Paling Sering Digunakan

Dilut

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan uang. Selain bekerja, melakukan investasi adalah pilihan yang tepat untuk dapat menghasilkan uang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, investasi dapat diartikan sebagai penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan. Saat ini, pengertian investasi tidak hanya terbatas pada penanaman modal saja. Bahkan kepemilikan mobil mewah pun dapat dikategorikan sebagai investasi bila diyakini di kemudian hari nilainya akan bertambah.

Jika Anda memiliki dana berlebih, tidak ada salahnya untuk menginvestasikan dana Anda, supaya dana yang menganggur bisa menjadi lebih produktif dan nantinya akan mendatangkan keuntungan. Namun, sebelum melakukan investasi, penting untuk mengetahui jenis instrumen – instrumen investasinya terlebih dahulu. Karena tidak semua instrumen investasi memiliki tingkat resiko dan keuntungan yang sama seperti yang Anda harapkan.

1. Saham

Saham merupakan salah satu instrumen investasi yang cukup umum digunakan oleh masyarakat. Dilansir dari laman investopedia.com, saham sederhananya adalah surat keterangan yang menyatakan bahwa si pemilik saham memiliki sebagian dari perusahaan yang sahamnya telah ia beli. Perusahaan menjual saham agar mereka dapat mengembangkan modal usahanya. Pemegang saham nantinya akan mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.

Tingkat keuntungan yang diperoleh oleh pemegang saham tergantung dari penilaian pasar terhadap saham yang dipegangnya. Misalnya jika Anda memiliki saham Apple (AAPL) dan perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuntungan di kemudian hari, investor lain juga akan tergiur untuk memiliki saham Apple. Permintaan saham Apple tersebut akan meningkatkan nilai harga sahamnya dan meningkatkan keuntungan jika Anda memutuskan untuk menjual sahamnya.

Saham dalam segi kemampuan atau hak tagihnya dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu saham biasa dan saham preferen.

  • Saham Biasa (Common Stock)

Para pemegang saham biasa memiliki beberapa persen kepemilikan perusahaan, punya hak suara (voting) jika ada masalah yang mempengaruhi perusahaan dan ikut merasakan kondisi perusahaan yang naik turun. Tidak ada batasan harga untuk memiliki saham biasa, sehingga pemegang saham dapat melipat gandakannya menjadi dua kali, tiga kali atau bahkan lebih.

  • Saham Preferen (Preferred Stock)

Pemegang saham preferen dipastikan akan menerima dividen dan mereka akan menerimanya terlebih dahulu sebelum para pemegang saham biasa. Namun kelemahannya, para pemegang saham preferen tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi perusahaan. Jika perusahaan sedang mengalami keuntungan besar, para pemegang saham ini tidak banyak menerima dampaknya. Begitu pun ketika perusahaan sedang mengalami kerugian. Mereka juga tidak memiliki hak suara.

2. Obligasi

Obligasi adalah surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan atau pemerintah. Nantinya, investor dapat meminjamkan sejumlah uang melalui surat ini. Pihak yang menerbitkan obligasi kemudian perlu membayarkan hutang mereka kepada investor dalam jangka waktu tertentu disertai dengan bunganya. Dikutip dari laman nationwide.com, jumlah pembayaran bunganya ini disesuaikan dengan tingkat suku bunga yang sebelumnya telah ditentukan oleh pihak yang menerbitkan obligasi. Tingkat suku bunganya bisa tetap atau berubah-ubah.

Jika dibandingkan dengan saham, investasi dengan instrumen obligasi memang dinilai lebih stabil karena obligasi biasanya menawarkan arus pendapatan yang tetap. Namun karena kestabilannya tersebut, pendapatan jangka panjangnya mungkin akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan saham. Meskipun begitu, pendapatan dari investasi obligasi terkadang dapat mengungguli investasi saham.

3. Reksadana

Reksadana adalah wadah investasi bagi sekumpulan investor untuk menginvestasikan dananya. Reksadana menjual surat berharga mereka sendiri kepada investor. Dana yang terkumpul dari hasil penjualan ini nantinya akan dialokasikan pada instrumen-instrumen investasi yang tersedia seperti saham, obligasi dan lainnya. Reksadana dikelola oleh manajer investasi yang bertanggung jawab atas alokasi dana investor. Jika manajer investasi aktif dalam memilih saham, obligasi dan surat berharga lain, biasanya harga kepemilikan reksadana akan lebih mahal. Hal ini terjadi karena munculnya biaya gaji untuk mempekerjakan manajer investasi yang profesional. Diharapkan manajer dapat mengungguli pasar dan menciptakan keuntungan yang besar bagi pemilik reksadana.

Pemilik reksadana akan mendapatkan keuntungan dari pendapatan yang dibagi-bagi (income distribution). Jika di kemudian hari pembelian saham dan obligasi dari reksadana memperoleh keuntungan, maka pemilik reksadana akan mendapatkan dividen dan bunga yang dikenai pajak. Pemilik reksadana juga dapat memperoleh keuntungan dengan cara menjual reksadana mereka bila nilainya sedang mengalami peningkatan.

4. Deposito

Deposito adalah salah satu produk bank. Ketika Anda memutuskan untuk mendepositokan uang Anda, maka bank akan menyimpan uang deposito dalam jangka waktu yang telah ditentukan, biasanya dari periode awal penyimpanan uang sampai enam bulan hingga lima tahun. Mereka akan mengembalikan uang yang telah didepositkan beserta bunganya setelah jatuh tempo. Pada akhir periode, Anda perlu menginformasikan terlebih dahulu kepada pihak bank bila Anda ingin mencairkan deposito. Jika tidak, bank otomatis akan mendepositkan ulang uang Anda dalam jangka waktu yang sama dan dengan tingkat suku bunga yang sedang berlaku saat itu.

Dibandingkan dengan tabungan, deposito sifatnya lebih tidak likuid. Anda tidak dapat menambah ataupun mengurangi uang yang telah didepositkan. Mengutip dari finra.org, jika Anda menarik deposito sebelum jatuh tempo, Anda akan terkena denda.

Biasanya untuk menarik nasabah, bunga deposito akan lebih besar dibanding dengan bunga tabungan di bank yang sama. Semakin lama uang didepositokan, semakin tinggi pula pembayaran bunga yang akan diperoleh.

5. Real Estate

investasi real estate dilut iuie879w87e

https://www.makaan.com

Rumah, apartemen atau hunian lainnya yang Anda beli, sewa atau jual kembali merupakan salah satu investasi. Tetapi rumah yang Anda tinggali saat ini tidak demikian, karena berbagai macam pemenuhan kebutuhan dasar ada di sana. Meskipun dari waktu ke waktu harganya meningkat, rumah pribadi beserta perabotan di dalamnya sebaiknya tetap jangan dijadikan investasi. Kehancuran hipotek (mortgage meltdown) pada tahun 2008 di Amerika dapat menjadi salah satu contoh bahayanya menjadikan hunian utama sebagai alat investasi.

6. Barang Berharga

Emas dan lukisan Da Vinci merupakan beberapa contoh dari investasi kepemilikan (ownership investment). Benda-benda ini adalah benda-benda yang diharapkan akan mendatangkan keuntungan di kemudian hari jika dijual kembali. Meskipun begitu logam berharga dan barang-barang koleksi sebenarnya bukanlah alat investasi yang bagus karena beberapa alasan, namun masih dapat dikategorikan sebagai alat investasi. Seperti rumah misalnya yang nilai fisiknya dapat berkurang (karena rusak) dan butuh biaya pemeliharaan. Akhirnya berdampak pada penurunan keuntungan penjualannya.

Itulah penjelasan mengenai 6 jenis instrumen investasi yang sering digunakan. Bagi investor pemula, penting untuk mengetahui jenis-jenis instrumen investasi. Karena lain instrumen, lain pula keuntungan dan resiko yang ditawarkan.

By | 2018-07-31T05:22:28+00:00 July 31st, 2018|Bisnis|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment