5 Contoh Investasi Jangka Panjang yang Patut Diperhitungkan

Home » 5 Contoh Investasi Jangka Panjang yang Patut Diperhitungkan

5 Contoh Investasi Jangka Panjang yang Patut Diperhitungkan

Upah yang diperoleh dari pekerjaan belum tentu dapat memenuhi kebutuhan di masa mendatang. Terkadang orang menabung untuk dapat mengantisipasi kebutuhan tak terduga di masa depan, namun apakah menabung saja sudah cukup? Uang yang disisihkan dari menabung memang dapat diandalkan dalam memenuhi kebutuhan di masa mendatang, tetapi jika sewaktu-waktu terjadi inflasi, nilai pokok dari uang tabungan tersebut tentu akan mengalami penurunan.

Di sinilah pentingnya jenis investasi jangka panjang. Investasi jangka panjang tidak hanya berfokus pada menyimpan uang tetapi juga mengembangkan nilainya. Meskipun ada resikonya, investasi jangka panjang tetap patut untuk diperhitungkan oleh setiap orang, apalagi jika masa pensiun sudah semakin dekat. Artikel ini akan mencoba menjelaskan lebih lanjut mengenai investasi jangka panjang.

Hakikat Investasi Jangka Panjang

contoh investasi jangka Panjang dilut

https://www.policybazaar.com

Jika investasi jangka pendek memiliki fokus pada pengamanan jumlah modal, investasi jangka panjang memiliki fokus lain yaitu untuk membangun kekayaan. Dikutip dari laman goodfinancialcents.com, investasi jangka panjang adalah tentang membangun portofolio investasi yang akan memberikan pendapatan di akhir kehidupan atau seumur hidup. Investasi jangka panjang hanya dapat terjadi jika Anda membangun jumlah kekayaan yang diperlukan untuk dapat memperoleh pendapatan pada tingkat tertentu di kemudian hari.

Investasi jangka panjang juga berarti menerima sejumlah resiko dengan tingkat tertentu demi mendapat imbal hasil yang tinggi. Biasanya investasi ini berupa investasi ekuitas seperti saham dan real estate. Kedua media investasi tersebut cenderung baik dijadikan investasi jangka panjang karena potensi kenaikan kapitalnya.

Instrumen Investasi Jangka Panjang

Jika Anda tertarik untuk memiliki investasi jangka panjang, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah memilih instrumen investasi yang tepat. Setiap instrumen atau media investasi tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemilihan media investasi ini perlu disesuaikan dengan tujuan jangka panjang Anda. Apa saja contoh instrumen investasi jangka panjang yang dapat dijadikan pilihan?

Berikut adalah penjelasannya.

1. Saham

Saham merupakan salah satu instrumen investasi yang cukup umum digunakan oleh masyarakat. Dilansir dari laman investopedia.com, saham sederhananya adalah surat keterangan yang menyatakan bahwa si pemilik saham memiliki sebagian dari perusahaan yang sahamnya telah ia beli. Perusahaan menjual saham agar mereka dapat mengembangkan modal usahanya. Pemegang saham nantinya akan mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan.

Tingkat keuntungan yang diperoleh oleh pemegang saham tergantung dari penilaian pasar terhadap saham yang dipegangnya. Misalnya jika Anda memiliki saham Apple (AAPL) dan perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuntungan di kemudian hari, investor lain juga akan tergiur untuk memiliki saham Apple. Permintaan saham Apple tersebut akan meningkatkan nilai harga sahamnya dan meningkatkan keuntungan jika Anda memutuskan untuk menjual sahamnya. Saham Apple yang Anda jual dengan harga yang lebih tinggi dari harga belinya akan menciptakan keuntungan capital gain. Sedangkan laba perusahaan Apple yang dibagikan kepada investor akan menjadi dividen.

Ada dua kategori saham yang mungkin dapat menjadi pertimbangan bagi investor untuk dijadikan sebagai investasi jangka panjang yaitu:

A. Saham Bertumbuh (Growth Stock)

Saham bertumbuh biasanya dimiliki oleh perusahaan yang perhatian utamanya adalah pada pertumbuhan jangka panjang. Umumnya mereka tidak membayarkan dividen sama sekali atau jika mereka membagikannya jumlahnya sangat kecil. Dividen yang seharusnya dibagikan pada saham bertumbuh akan diinvestasikan ulang oleh perusahaan tersebut.

B. Saham Tinggi Dividen (High Dividen Stock)

Saham jenis ini adalah kebalikan dari saham bertumbuh. Perusahaan yang menerbitkan saham tinggi dividen akan membagikan dividen dalam jumlah yang besar kepada para pemegang sahamnya. Dilihat dari kacamata investor, pembagian dividen yang tinggi boleh jadi lebih besar dibanding dengan investasi pendapatan tetap.

2. Obligasi Jangka Panjang

Obligasi adalah surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan atau pemerintah. Nantinya, investor dapat meminjamkan sejumlah uang melalui surat ini. Pihak yang menerbitkan obligasi kemudian perlu membayarkan utang mereka kepada investor dalam jangka waktu tertentu disertai dengan bunganya. Dikutip dari laman nationwide.com, jumlah pembayaran bunganya ini disesuaikan dengan tingkat suku bunga yang sebelumnya telah ditentukan oleh pihak yang menerbitkan obligasi. Tingkat suku bunganya bisa tetap atau berubah-ubah.

Jika dibandingkan dengan saham, investasi dengan instrumen obligasi memang dinilai lebih stabil karena obligasi biasanya menawarkan arus pendapatan yang tetap. Namun karena kestabilannya tersebut, pendapatan jangka panjangnya mungkin akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan saham. Meskipun begitu, pendapatan dari investasi obligasi terkadang dapat mengungguli investasi saham.

Obligasi dapat digolongkan sebagai obligasi jangka panjang jika masa berlakunya selama lebih dari 10 tahun. Masa berlaku yang sering diterbitkan adalah 20 hingga 30 tahun. Obligasi jangka panjang biasanya memiliki tingkat suku bunga yang lebih tinggi dibanding obligasi jangka pendek.

3. Reksa Dana

Reksadana adalah wadah investasi bagi sekumpulan investor untuk menginvestasikan dananya. Reksa dana menjual surat berharga mereka sendiri kepada investor. Dana yang terkumpul dari hasil penjualan ini nantinya akan dialokasikan pada instrumen-instrumen investasi yang tersedia seperti saham, obligasi dan lainnya. Reksadana dikelola oleh manajer investasi yang bertanggung jawab atas alokasi dana investor. Jika manajer investasi aktif dalam memilih saham, obligasi dan surat berharga lain, biasanya harga kepemilikan reksa dana akan lebih mahal. Hal ini terjadi karena munculnya biaya gaji untuk mempekerjakan manajer investasi yang professional. Diharapkan manajer dapat mengungguli pasar dan menciptakan keuntungan yang besar bagi pemilik reksa dana.

Pemilik reksa dana akan mendapatkan keuntungan dari pendapatan yang dibagi-bagi (income distribution). Jika di kemudian hari pembelian saham dan obligasi dari reksa dana memperoleh keuntungan, maka pemilik reksadana akan mendapatkan dividen dan bunga yang dikenai pajak. Pemilik reksadana juga dapat memperoleh keuntungan dengan cara menjual reksadana mereka bila nilainya sedang mengalami peningkatan.

4. Exchange Trade Funds (ETFs)

Dikutip dari laman wikipedia.org, secara sederhana, ETF dapat diartikan sebagai usaha pendanaan secara kolektif atau bisa juga dikatakan sebagai reksa dana yang diperjual belikan di Bursa Efek Indonesia. Sama halnya dengan reksa dana, unit penyertaan yang ada di ETF juga diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, sama dengan saham. Di dalam ETF juga terdapat manajer investasi dan bank kustodian seperti halnya reksa dana.

5. Real Estate

Investasi real estate dapat menjadi pilihan investasi jangka panjang yang tepat karena permintaan akan sewa aset real estate setiap tahun cenderung mengalami peningkatan. Memiliki aset real estate secara perorangan atau kelompok mungkin bisa jadi sangat sulit karena besarnya dana yang perlu dikeluarkan. Alternatif lain yang dapat dilakukan untuk berinvestasi di bidang real estate adalah dengan membeli Dana Investasi Real Estate (DIRE).

Dikutip dari laman bareksa.com, DIRE atau Dana Investasi Real Estate adalah wadah berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang digunakan untuk menghimpun dana para investor pemodal dan selanjutnya diinvestasikan pada real estate, aset yang berkaitan dengan real estate yang selanjutnya dikelola oleh perusahaan investasi ataupun manajer investasi (MI).

Meskipun sama-sama berupa Kontrak Investasi Kolektif dan menggunakan jasa manajer investasi, DIRE dan reksa dana memiliki perbedaan. Perbedaannya terletak pada aturan dan komposisi portofolio kedua alat investasi tersebut. Pada reksa dana, aset yang masuk ke dalam portofolio adalah efek di pasar modal seperti saham, obligasi dan deposito. Sedangkan DIRE di dalam portofolionya mayoritas berupa aset real estate.

Sebanyak 80% dari dana DIRE yang terkumpul harus dialokasikan pada aset yang berkaitan dengan real estate. Dari total aset itu juga, sebanyak 50% nya harus berupa aset real estate seperti mall, apartemen, perkantoran dan perumahan yang dapat disewakan. Pendapatan yang diperoleh dari uang sewa aset real estate tersebut nantinya akan kembali kepada investor dalam bentuk dividen.

Demikianlah contoh investasi jangka panjang. Investasi jangka panjang memang penting dilakukan oleh semua orang. Karena kebutuhan di masa depan tetap harus dipenuhi meskipun kita sudah tidak bekerja sekalipun. Memilih media investasi untuk investasi jangka panjang merupakan keputusan bijak yang dapat dijalani. Adapun media investasi yang dapat dipilih adalah saham, obligasi, reksa dana, ETF dan investasi real estate.

Baca Juga:

2018-11-02T17:24:20+00:00